Antisipasi Perubahan Iklim, Kementan Beri Bantuan Paket Teknologi ke Petani

Dampak perubahan iklim  sangat berpengaruh terhadap produksi dan produktivitas sub sektor perkebunan. Karena itu, Kementerian Pertanian (Kementan)  melakukan antisipasi terhadap dampak perubahan iklim tersebut. Salah satu yang dilakukan Kementan melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkebunan adalah dengan  memberi bantuan paket teknologi mitigasi dan adaptasi kepada kelompok tani.

Menteri Pertananian Syahrul Yasin Limpo selalu mengingatkan kepada jajarannya untuk lebih sigap dalam penerapan teknologi. Diantaranya dengan melakukan adaptasi, antisipasi dan mitigasi musim kemarau pada  tahun 2020.

“Adaptasi, antisipasi dan mitigasi ini dilakukan agar ketersediaan komoditas tetap aman terjaga,” ujar Syahrul.

Untuk  mengantisipasi dampak perubahan iklim pada tahun ini,  Direktorat Perlindungan Perkebunan, Ditjen Perkebunan Kementan telah menyerahkan bantuan 1 (satu) unit paket teknologi mitigasi dan adaptasi dampak perubahan iklim sub sektor perkebunan kepada Kelompok Tani Merkun Tani , Desa Rejosari,  Kecamatan Wonoboyo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah (Jateng).

Menurut  Direktur Perlindungan Perkebunan, Ardi Praptono, bantuan paket teknologi dalam kegiatan mitigasi dan adaptasi yang diberikan berupa,  pembuatan embung, mesin lubang biopori, alat pencacah kompos, alat pengayak kompos, kereta dorong, pompa air, instalasi pipa air, rumah kompos, bantuan kendang kambing dan kambing sebanyak 25 ekor. Adapun bantuan diserahkan langsung oleh Direktur Perlindungan Perkebunan, kepada Ketua Kelompok Tani Merkun Tani, Sukirno pada 26 Juni 2020 lalu.

Ardi mengungkapkan, perubahan iklim sangat berpengaruh terhadap dunia global, termasuk pada sub sektor perkebunan. Kekeringan pada lahan perkebunan di berbagai wilayah di Indonesia harus segera diantisipasi agar upaya peningkatan produksi dan produktivitasnya dapat tercapai dengan baik.

“Perlu ada paket teknologi baik berupa kegiatan mitigasi maupun adaptasi untuk menekan efek negatif dari perubahan iklim terhadap komoditas perkebunan,” ujar Ardi, di Jakarta, Senin (7/9).

Ardi mengungkapkan, aplikasi model teknologi mitigasi dan adaptasi pada sub sektor perkebunan perlu dilakukan di daerah agar pembangunan perkebunan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan. Dengan begitu,  produktifitas dapat dipertahankan sehingga mampu mengurangi kehilangan hasil akibat dampak perubahan iklim.

Menurut Ardi, bantuan yang diberikan diharapkan mampu menjadi contoh dan memberikan stimulus untuk pengembangan pengelolaan perkebunan di wilayah rawan kekeringan. Pemerintah daerah maupun petani (pekebun) diharapkan dapat mengadopsi model teknologi ini agar dampak kekeringan terhadap produksi dan produktivitas komoditi perkebunan dapat diminimalisasi.

“Perlu sinergi bersama pemerintah daerah dan pekebun,  serta stakeholder lainnya. Kami harapkan kegiatan mitigasi dan adaptasi dampak perubahan iklim (DPI) di daerah ini akan berdampak positif pada produksi dan produktifitas tanaman perkebunan,” pungkas  Ardi. (Sinar Tani).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *