Kelembapan Yang Tinggi Memicu Merebaknya Infectious Bronchitis yang disebabkan oleh Coronavirus

Kelembapan yang tinggi bisa memicu merebaknya Infectious Bronchitis yang disebabkan oleh Coronavirus dari famili Coronavidae ini. Vaksinasi dan biosekuriti yang ketat sangat diandalkan untuk mencegah timbulnya penyakit ini
Kesehatan menjadi salah satu fokus para pelaku usaha yang terjun di bisnis peternakan ayam. Mengingat, ayam sebagai jenis ternak yang rentan terkena penyakit apalagi ketika memasuki musim penghujan. Peternak dituntut untuk memperhatikan ayamnya secara lebih ketat agar tetap berada dalam kondisi prima.
Salah satu penyakit yang masih membayangi para peternak adalah IB (Infectious Bronchitis). Penyakit yang menyerang area pernapasan pada ayam ini disebabkan oleh Coronavirus dari famili Coronavidae. Kasus IB pertama kali dilaporkan menerjang ayam pada 1977 silam. Kendati demikian, kehadirannya diyakini telah ada jauh sebelum itu.
IB merupakan penyakit yang menyebar secara vertikal dan horisontal. Vertikal, artinya menular dari ayam satu ke ayam lainnya. Sementara, horisontal berarti menurun dari induk ke anaknya.
Peternak ayam pedaging (broiler) asal Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Jojok Sarjono membagi kisahnya saat broiler yang ia pelihara terkena penyakit IB, 20 tahun silam. “Indikasi saya, ayam dapat terkena IB karena faktor genetik. Adapula karena manajemen kandangnya yang tidak baik terutama, apabila peternak tidak rajin mengganti sekam yang telah berdebu,” terangnya kepada TROBOS Livestock.
Jojok menyadari semakin banyak jenis penyakit yang muncul pada ayam. Kalau dulu saat dirinya baru terjun di bisnis broiler pada 1984, ayam baru bisa dipanen saat umur 37 – 45 hari. Sekarang, karena kemajuan teknologi yang pesat ayam mampu dipanen hanya dalam waktu 32 hari.
Kepala Unit Pullet Farm Jenala PT Ciomas Adisatwa di Serang, Banten, Dendy Aditya turut berpendapat, sebenarnya manifestasi IB pada pullet tidak akan muncul. Baru akan muncul ketika sudah masuk masa produksi. “Penyakit ini sangat berbahaya untuk layer (ayam petelur) karena produksi akan terganggu,” tuturnya.
Technical Support PT Mensana Aneka Satwa, Arief Hidayat pun mengungkap jika kasus IB selalu ada dan terjadi di Indonesia. Bahkan dalam beberapa waktu belakangan ini kasusnya meningkat, kemudian kembali menurun. Seiring dengan penyakit AI (avian influenza/flu burung) yang juga marak, kasus IB seperti tenggelam dan luput dari perhatian. “Penyakit AI, IB, ND (Newcastle Disease/tetelo), dan Gumboro sudah menjadi langganan dalam sektor perunggasan nasional kita,” bebernya.
Serotipe IB
Coronavirus adalah salah satu virus yang mampu menyebar dan bermutasi dengan sangat lincah. Terlebih lagi, jika musim penghujan tiba. Virus IB memiliki satu protein yang disebut sebagai protein spike (S). Rangkaian asam amino yang ada di dalam protein spike tersebut akan dites dengan cara PCR (polymerase chain reaction) atau yang umum disebut tes molekuler. Hal itu disampaikan Technical & Marketing Manager PT Ceva Animal Health Indonesia, Ayatullah M. Natsir.
Serotipe yang dimiliki virus IB pun beragam antara lain Massachusetts, QX like, Malaysian variant like, dan Taiwanese variant like. “Beberapa serotipe tersebut memiliki kata like di belakangnya karena memang memiliki kesamaan deret asam amino dengan nama aslinya,” beber pria yang akrab disapa Ayat ini.
Contohnya seperti QX like. Mulanya, serotipe tersebut ditemukan di China. Namun ternyata terdapat suatu serotipe serupa yang ada di Indonesia. Setelah dilakukan tes molekuler, rupanya ada kemiripan pada deret asam amino. Maka dari itu, nama yang diberikan adalah QX like. Hal serupa juga terjadi pada Malaysian variant like dan Taiwanis variant like.
Senior Sales & Marketing Manager PT Biotis Agrindo, Johni Manalu menuturkan bahwa serotipe virus IB yang marak menyebar di tanah air adalah serotipe lokal yakni I-14, I-37, I-126, dan I-269. “Namun, bukan berarti tidak ada serotipe lain yang muncul di Indonesia. Ada juga Massachusetts yang bisa berkembang di sini,” tambah dia. Masa inkubasi virus IB adalah 18 – 36 jam dan termasuk sangat cepat.
Ketahanan virus juga beragam. Pada suhu 56 0C, virus IB akan bertahan selama 15 menit di luar tubuh inang. Kemudian, virus ini akan bertahan selama 90 menit dalam suhu 45 0C. Jika pada suhu ruangan dengan taraf 29 – 37 0C, ketahanannya mencapai sebulan, bahkan lebih. Apabila virus IB berada pada suhu minus 30 0C, maka akan bertahan selama bertahun-tahun.
Arief menambahkan, eksistensi penyakit IB di Indonesia pun tak pernah padam. Kasus IB akan merajalela apabila kelembapan udara sekitar tinggi. Virus IB sendiri adalah jenis virus yang sangat menyukai udara dingin.
Maka dari itu, peternak harus betul-betul memperhatikan suhu kandang, apalagi saat masa brooding (pengganti induk). Suhu yang ideal saat ayam berada dalam induk buatan baiknya tidak kurang dari 30 0C pada 3 minggu pertama. Apabila dilanggar, maka dikhawatirkan virus akan berkembang dengan cepat.
Ayat menguraikan, terdapat 3 tipe atau lazim disebut patotipe yang dimiliki IB, yakni IB menyerang pernapasan, IB menyerang ginjal (nefropatogenik), dan IB menyerang organ reproduksi. Ayam akan terganggu sistem ginjalnya apabila berada pada usia yang relatif muda, yakni di bawah 4 minggu. Hal ini dikarenakan organ reproduksi pada ayam di bawah umur tersebut belum berkembang maksimal. Berdasarkan data yang dihimpun PT Ceva Animal Health Indonesia, serotipe Massachusetts dan Malaysian variant like adalah yang paling umum menyerang ginjal ayam.
Johni menimpali, jika dilakukan bedah bangkai maka yang ditemukan apabila virus IB menyerang saluran pernapasan ayam adalah adanya peradangan pada bagian atas, tepatnya di bronchus. Terdapat pula eksudat yang terlihat di sekitar bagian tersebut. Andaikata kasusnya baru, eksudat akan terlihat encer. Namun, jika sudah lama maka eksudat akan menguning dan kental. Bahkan, dalam beberapa kasus ditemukan kantung udara ayam yang sudah menguning.
Sedangkan, jika IB menyerang organ reproduksi maka terlihat kerusakan pada bagian oviduk. Ovarium akan bengkak dan terjadi pendarahan. Selanjutnya, apabila IB menyerang ginjal yang akan terlihat adalah pembengkakan dan ginjal berubah menjadi pucat.
Uji IB
Salah satu pengujian laboratorium yang dapat dilakukan guna mendeteksi adanya IB adalah dengan uji ELISA (Enzyme-linked immunosorbent assay). “Titer normal IB dengan uji ELISA adalah 4.000 – 9.000. Jika lebih dari itu, maka patut dicurigai adanya penyakit yang bercokol,” ujar Arief.
Johni menambahkan uji identifikasi IB yang bisa dilakukan adalah dengan isolasi telur berembrio. Pada umur 9 – 10 hari, dilakukan inokulasi untuk selanjutnya dipanen. Identifikasi dilakukan dengan dengan FAT (fluorescent antibody test). “Kita dapat mengetahui dengan jelas dan pasti bahwa ini adalah IB. Kalau hanya menggunakan tes ELISA, maka yang kita ketahui adalah titer vaksin atau virus lapangannya saja. Bukan serotipe IB apa yang menyerang ayam,” tukasnya.
Tak hanya FAT, nyatanya ada beberapa uji lain yang bisa dilakukan untuk mendeteksi datangnya IB. Uji tersebut adalah AGPT (agar gel precipitation test), VN (virus neutralization), IHC (immunohistochemistry), dan HI (hemagglutination inhibition).
Produksi Merosot
Widya Iswara Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara, Bogor, Sri Gatiyono mengungkapkan jika ayam yang terjangkit IB akan menunjukkan beberapa gejala klinis seperti ngorok. Layaknya pada penyakit pernapasan lain pada ayam, gejala awal IB tak pelak membuat peternak salah mendiagnosa penyakit yang menyerang. “Ayam akan panting (megap-megap). Bisa juga ayam mengeluarkan cairan atau eksudat dari rongga hidungnya,” ungkap dokter hewan yang akrab disapa Gati ini.
Karena gejala awal yang ditimbulkan sangat mirip dengan ND, Gumboro, dan Coryza, Gati menganjurkan untuk secepatnya dilakukan pengecekan secara serius ke laboratorium dengan mengambil sampel darah ayam. “Diagnosa bandingnya memang cukup banyak. Maka dari itu peternak harus lebih memperhatikan keadaan ayamnya,” anjurnya.
Arief menyebut, apabila peternak ingin mengetahui secara cepat jika ayam terkena IB, maka perhatikan produksi yang dihasilkan. Karena, IB sangat mempengaruhi tingkat produktivitas ayam. “Yang paling nyata memang terlihat dari penurunan produksi telur, dan kualitas telur yang dihasilkan,” kata dia.
Penurunan produksi yang ditimbulkan akibat IB rupanya sangat tajam karena menyerang oviduk, yang notabene adalah tempat dihasilkannya telur. Selain penurunan produksi yang mencolok, kualitas telur yang dihasilkan pun tidak maksimal, seperti albumin atau putih telur encer, kerabang tipis, dan bentuk telur yang tidak teratur.
Ditambahkan Ayat, yang pertama kali akan terlihat hanya adanya gangguan di pernapasan saja. Namun, secara mendadak ayam tidak dapat berproduksi padahal sudah memasuki masa produksi karena oviduknya dikoyak virus. “Sekitar 2 – 30 % ayam tidak mampu bertelur, tergantung dari kekebalan saat terinfeksi. Untuk itulah ayam ini dinamakan false layer atau ayam yang gagal bertelur,” tandasnya. Jika virus IB menyerang ginjal ayam, maka gejala yang terlihat adalah terjadinya wet dropping.
Bagi broiler, efek yang terlihat adalah penurunan berat badan, dan mortalitas meningkat hingga 30 %. Kadang kala, penggunaan antibiotik dilakukan guna mengembalikan performa ayam. Akan tetapi jika hal ini terus dilakukan, maka kerugian yang akan diemban oleh  RPA (rumah potong ayam) adalah meningkatnya kondemnasi karkas.
Kematian yang disebabkan oleh IB sangat rendah. Namun, akan melesat tajam jika IB diikuti dengan infeksi sekunder yang mungkin terjadi di saluran pernapasan. Sistem mukosiliaris (mukus dan silia) yang dirusak oleh virus IB akan mempemudah ayam terkena penyakit CRD (Chronic Respiratory Diseases) yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma gallisecticum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *