Komisi Pakan Kementan Dukung Kebijakan Pengembangan Pakan Ternak Indonesia

Dalam menanggapi dan menyelesaikan isu-isu yang terkait pakan ternak yang dinamis, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian terus melakukan koordinasi dengan stakeholders terkait dengan melibatkan Komisi Pakan. Hal tersebut dikatakan Direktur Pakan, Ditjen PKH, Sri Widayati dalam pertemuan Komisi Pakan (KOMPAK) II Tahun 2019 yang berlangsung selama 3 hari di Hotel Margo Depok yang dimulai pada hari Rabu, 4 Desember 2019.

Menurutnya, pakan ternak merupakan komponen terbesar dalam struktur biaya produksi peternakan. Tingkat efisiensi dan daya saing sektor peternakan salah satunya ditentukan dari bagaimana pakan diproduksi dan digunakan secara efisien dengan tetap memperhatikan aspek mutu dan keamanannya.
Perkembangan kemajuan teknologi di bidang pakan serta isu-isu penting yang mengikutinya, perlu diantisipasi sedini mungkin, dan diterapkan di sektor peternakan di Indonesia.

“Dari perspektif inilah peran dan fungsi Komisi Pakan menjadi vital dalam memberikan saran, masukan dan pertimbangan teknis” ujar Widayati.

Komisi Pakan ini, lanjut Widayati, beranggotakan pakar dari kalangan akademisi dan peneliti, keanggotaannya ditetapkan melalui Keputusan Menteri Pertanian No.308/Kpts/OT.050/ 5/2016 tanggal 11 Mei 2016 dan keanggotaannya akan segera berakhir pada Desember 2019. Komisi ini dibentuk untuk memberikan saran, pemikiran, pertimbangan, dan rekomendasi bagi kemajuan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan melalui kontribusi dan peran nyata bidang pakan.

“Melalui pertemuan Komisi Pakan II Tahun 2019 saya berharap berbagai isu penting yang berkembang dapat segera diberi masukan dan saran untuk diformulasikan dalam penyusunan program dan kebijakan” tuturnya.

Widayati kemudian menyampaikan bahwa dalam pertemuan Komisi Pakan (KOMPAK) II Tahun 2019 ini, ada beberapa isu penting terkait dengan pakan yang diidentifikasi antara lain terkait utilisasi penggunaan bungkil inti sawit (BIS) di dalam negeri yang potensial sebagai bahan pakan unggas dan sapi serta implementasi integrasi sapi-sawit yang dipandang masih lambat.

Rekomendasi KOMPAK

Untuk meningkatkan utilisasi dan daya serap pasar domestik BIS sebagai bahan pakan ternak (unggas dan sapi), dari pertemuan ini para ahli pakan merekomendasikan adanya pilot project dan sosialisasi lebih intensif BIS kepada produsen, pengguna dan stakeholders.

KOMPAK juga merekomendasikan
pembuatan pilot project sumber benih hijauan pakan ternak di lahan rawa dan pengembangan Silvopastura. Adapun untuk pengembangan Rumput Kumpai, para ahli merekomendasikan adanya kerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) untuk produksi dan sumber benih.

Sementara itu, terkait langkah konkrit yang perlu dilaksanakan untuk memacu investasi usaha integrasi sawit sapi, menurut Widayati, KOMPAK merekomendasikan penyusunan dan advoksi konsep komprehensif tentang integrasi sawit sapi dari aspek bisnis, operasional, dan kelembagaan usaha (termasuk kemitraan), serta memfasilitasi pertemuan tingkat tinggi (sawit sapi summit) untuk level manajemen puncak perusahaan sawit dalam rangka membangun komitmen bersama dalam pengembangan integrasi sawit sapi.

“Kita juga akan coba fasilitasi penyelenggaraan workshop teknis dan bisnis bagi para middle management perusahan sawit dengan narasumber dari Badan Litbang, Perguruan Tinggi, dan praktisi” jelasnya.

Dalam kesempatan pertemuan KOMPAK terakhir ini, Widayati berharap agar sinergi antara pemerintah dengan kalangan akademisi dapat terus terbangun dan semakin erat untuk saling mendukung proses pembangunan peternakan dan kesehatan hewan.(Sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *