Kisah Le-Bui, Sepeda Listrik Lombok yang Sudah Go International (1)

==============================

WAHIDI AKBAR SIRINAWA, Mataram

Sepeda listrik tentu bukan barang baru. Untuk itu Gede menolak jika dikatakan sebagai pembuat sepeda listrik. Yang membuatnya dari awal. Termasuk soal teknologinya. ”Kalau teknologi kan sama saja. Baterai dan dinamo itu sudah buatan pabrikan,” kata Gede.

Ya, komponen yang paling penting untuk membuat sepeda listrik adalah baterai dan dinamo. Semuanya merupakan barang-barang pabrikan. Yang tentu saja, tak mungkin dibuat sendiri Gede bersama timnnya.

Yang kemudian membedakan produk Le-Bui dengan sepeda listrik lainnya adalah desainnya. Gede menambahkan jackshaft atau gir penghubung di rantai sepedanya. Penambahan ini memang terlihat sederhana, namun berpengaruh besar terhadap desain sepeda secara keseluruhan. Membuatnya terlihat eye catching.

Sebelum ada jackshaft tambahan itu, pedal sepeda ketika dikayuh selalu terantuk boks konverter kit. Yang menampung baterai dan jaringan listrik untuk sepeda.

Jika di sepeda listrik biasa, hanya terdapat satu gir besar dan kecil, seperti sepeda pada umumnya. Tapi, sepeda Le-Bui ada gir tambahannya.

Inovasi tersebut ditemukan Gede empat tahun silam. Jackshaft tersebut akhirnya mendapat apresiasi dari penggemar sepeda listrik dari luar negeri. Mampu membuat performa sepeda listrik menjadi lebih baik, tapi dengan tampilan yang tetap menarik.

”Kendalanya waktu itu memang seperti itu. Pedal sepeda mentok dengan boks. Dengan tambahan jackshaft ini, akhirnya order semakin banyak datang,” tuturnya

Dari tampilannya, sepeda listrik Le-Bui patut diacungi jempol. Gede membuat sepeda listrik dengan gaya retro. Kemudian ada juga yang semi adventure. Jika di dunia motor, mirip dengan model japanese style dan trail.

Tentu produksi sepeda listrik dari Le-Bui bukan saja soal gaya. Gede memikirkan juga mengenai safetynya. Katanya, perangkat keamanan seperti lampu dan rem, tetap menjadi komponen utama di sepeda listriknya.

Selain itu, Gede tidak asal menerima pesanan. Sebelum membuat satu sepeda listrik, ia akan lebih dulu menanyakan kepada pemesannya. Soal berat dan tinggi badan hingga peruntukkannya. Apakah digunakan untuk jalan raya atau keperluan offroad.

Soal penggunaan sepeda listrik, menjadi penting untuk pemilihan baterainya. Tentunya, ini akan berpengaruh juga kepada harganya. Untuk skala kota besar seperti Jakarta, kata Gede, tidak perlu membutuhkan tenaga besar. Yang membuat sepeda lari sampai 60 kilometer per jam.

”Kan tidak efektif. Baru jalan sedikit, sudah kena macet,” tuturnya.

Apa yang dilakukan Gede, menarik atensi Gubernur NTB Zulkieflimansyah. Secara khusus, gubernur ingin sepeda listrik ini diproduksi massal. Gede menyambut baik tawaran tersebut. Selama ini, ia juga berharap ada atensi dari pemerintah.

Agar sepeda listriknya tidak saja dinikmati kalangan terbatas. Tapi juga masyarakat secara lebih luas. ”Nyambung dengan keinginan Gubernur soal industrialisasi itu,” kata Gede. (bersambung/r3)

sumber: https://lombokpost.jawapos.com/lapsus/14/07/2020/kisah-le-bui-sepeda-listrik-lombok-yang-sudah-go-international-1/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *