Investasi dan Permasalahan Yang Dihadapi Industri Peternakan

Tulang punggung penyediaan daging sapi di Indonesia adalah peternak berskala kecil atau peternakan rakyat karena hanya sedikit peternak yang berskala menengah atau besar. Peternakan berskala kecil biasanya merupakan usaha sambilan atau cabang usaha, dan ternak tersebar secara luas mengikuti persebaran penduduk. Peternak hanya bertindak sebagai keeper atau user, hampir tidak ada yang berperan sebagai producer. Selain investasi pemerintah dalam pembangunan karena prasarana agribisnis sapi potong, hampir tidak ada investasi swasta (pengusaha swasta) dalam agribisnis sapi potong.

Investasi pada industri penggemukan, pemotongan dan pengolahan pada dasarnya tergantung pada sistim produksi. Namun demikian sistim produksi di setiap wilayah belum terpetakan secara baik terutama untuk wilayah pembibitan, wilayah penggemukan, wilayah campuran dan wilayah pembesaran. Oleh karena itu kendala utama dalam investasi di berbagai industry sapi potong belum dapat tergambarkan dengan baik. Yang jelas ada 3 (tiga) pelaku investasi dalam pengembangan agribisnis sapi potong yaitu pemerintah, swasta dan masyarakat.

Investasi pemerintah dalam agribisnis sapi potong diantaranya pada pelayanan kesehatan hewan, penyediaan bibit unggul, kegiatan penelitian dan pengkajian, pengembangan serta . penyuluhan dan pendampingan pada berbagai aspek yaitu breeding, reproduksi, pakan dan manajemen pemeliharaan serta pengembangan kelembagaan. Sedangkan pihak swasta sampai saat ini belum memiliki minat terhadap pengembangan usaha Cow Calf Operation (CCO) sehingga masih memerlukan dukungan fasilitas pemerintah. Swasta juga juga dapat melakukan investasi dalam bidang usaha budidaya, penyediaan calon induk, pabrik pakan mini, industry pengolahan daging, kulit, kompos dan lain sebagainya. Peran penting swasta yang diharapkan adalah adanya kemitraan dengan peternak atau kelompok peternak yang menghasilkan sapi bakalan.

Investasi pada pemotongan dan pengolahan masih terkendala belum optimalnya fungsi Rumah Potong Hewan sebagai unit yang sepenuhnya memenuhi pelayanan public. Selama ini RPH yang ada masih berorientasi kepada pendapatan di daerah, sehingga investasi pemotongan dan pengolahan yang menuntut kualitas daging tertentu tidak tercapai. Kendala lainnya pada aspek konsumsi, dimana konsumen lebih menyukai daging segar yang tidak ditiriskan dan tidak dibekukan, hal ini terlihat dari angka retensi indeks daging sebesar 80% tidak dapat diolah lebih lanjut.

#NTBSejahteraDanMandiri
#KampungUnggas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *