Cegah Masitis Pada Sapi Perah Dengan Bahan Alami

Mastitis subklinis merupakan salah satu penyebab penurunan produksi dan kualitas air susu sehingga merugikan peternak sapi perah. Berdasarkan beberapa penelitian, sebagian besar bakteri patogen penyebab mastitis subklinis adalah Staphylococcus aureus dan Treptococcus agalactiae.

Pada dasarnya, ambing sudah dilengkapi dengan perangkat pertahanan, untuk menjaga agar air susu tetap dalam keadaan steril dan tidak tercemar oleh bakteri patogen. Tingkat pertahanan ambing mencapai titik terendah pada saat sesudah dilakukan pemerahan, karena spinchter puting masih terbuka sekitar 2-3 jam setelah selesai pemerahan sehingga dapat mengakibatkan masuknya mikrorganis me ke dalam ambing. Oleh karena itu, saat akhir pemerahan perlu dilakukan pencelupan (teat dipping) dengan menggunakan antiseptik untuk mencegah pertumbuhan dan membunuh mikrorganisme.

Pencelupan puting merupakan perlakuan mencelupkan puting sapi pada larutan antiseptik dengan lama waktu tertentu setelah pemerahan untuk mencegah masuknya bakteri ke dalam kambing dan mencegah terjadinya mastitis. Salah satu alternatif pencegahan penyakit mastitis adalah dengan menggunakan antiseptik berasal dari alam yang diharapkan tidak menimbulkan resistensi, lebih alami dan meminimalisir masuknya zat-zat kimia. Antiseptik dapat dibuat dari bahan alami seperti daun kelor, daun sirih, daun sambiloto, daun kersen. Hasil penelitian, antiseptik bahan alami tersebut memiliki kemampuan yang sama dengan antiseptik kimia seperti Iodips.

Daun kersen (Muntingia calabura L.), sirih dan kelor (Moringa oleifera ) dapat dijadikan sebagai antiseptik karena mengandung senyawa tannin, flavonoid dan saponin.

Pembuatan antiseptik dengan alami
Daun kersen: 1) Daun kersen dicuci hingga bersih kemudian ditiriskan bebas air, 2) Potong cincang melintang dan membujur, 3) Sediakan air bersih (bukan air yang mengandung kaporit) 50 ml, 4) Sediakan daun kersen 500 gr, 5) Rebus daun kersen dengan air mendidih selama 15 menit 6) Masukkan kedalam wadah dengan ukuran 250 ml dan dinginkan.

Sambiloto: 1) Sediakan air bersih (bukan air yang mengandung kaporit) 10 liter, 2) Sediakan daun sambiloto tua kering 500 gram, 3) Rebus daun sambiloto tua hingga air rebusan tinggal setengahnya, 4) Masukkan ke dalam wadah dengan ukuran 250 ml dan dinginkan.

Daun kelor: 1) Sediakan air bersih (bukan air yang mengandung kaporit) 800 ml, 2) Sediakan daun kelor 200 gram, 3) Blender daun kelor dengan air, 4) Saring, 5) Masukkan kedalam wadah dengan ukuran 250 ml.

Daun sirih: 1) Sediakan air bersih (bukan air yang mengandung kaporit) 750 ml, 2) Sediakan daun sirih hijau atau sirih kuning 7-10 lembar, 3) Rebus daun sirih hingga air rebusan berwarna tampak kehijauan, 4) Pastikan warna air tidak pekat dan tidak mengental, 5) Masukkan ke dalam wadah dengan ukuran 250 ml dan dinginkan.

Setelah pemerahan selesai, setiap ternak dilakukan celup puting. Adapun proses celup puting sebagai berikut : 1) Bersihkan puting dari krim pelicin (vaselin) agar cairan aseptik alami ini bisa masuk ke lubang puting, 2) Masukkan air rebusan tadi kedalam gelas ukuran 250 ml, 3) Celupkan ke puting ternak cairan rebusan daun sirih selama 30 detik hingga 1 menit, 4) Pencelupan dilakukan dua kali sehari setelah pemerahan. S

Selain dicelupkan air rebusan daun sirih juga dapat disuntikkan kedalam puting apabila ternak sudah terindikasi positif terkena mastitis.

Cara penyuntikan: 1) Sediakan alat suntik (spet), buang jarumnya, 2) Isi alat suntik dengan cairan daun sirih, 3) Urut areal puting ketas agar cairan desinfektan menyebar ke seluruh bagian puting. Tunggu sekitar 1 menit, kemudian keluarkan lagi dengan cara mengurut ke arah lubang puting, 4) Sama dengan cara pencelupan metode penyuntikan juga dilakukan secara rutin dua kali sehari setelah proses pemerahan.

#InovasiTiadaHenti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *