Sumber Daya Manusia dan Ayam Modern

Kejelasan sumber informasi, kemauan, dan kemampuan dari SDM sangat penting guna mencapai kebutuhan ayam secara genetik. SDM harus dianggap sebagai aset dan ujung tombak untuk meningkatkan profit perusahaan.
Industri perunggasan, khususnya untuk komoditas broiler (ayam pedaging) terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan penyakit hewan dinamis berimplikasi pada pentingnya penggunaan teknologi dalam proses budidaya ayam.
Penggunaan teknologi closed house/CH (kandang tertutup) di sebuah peternakan broiler saat ini contohnya, menjadi sebuah keniscayaan. Tujuannya, agar proses produksi lebih efisien, ternak lebih berkualitas dan semakin produktif.
Namun penggunaan teknologi closed house ini masih terkendala di lapangan. Dikemukakan Kholiq peternak broiler dan layer (ayam petelur) di Malang, Jawa Timur kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) untuk operator farm umumnya berpendidikan rendah, sehingga diperlukan supervisi yang terus menerus dalam menggunakan teknologi closed house.
Dengan penggunaan kandang tertutup, SDM harus betul-betul diberi pelatihan secara berkelanjutan agar berkompeten. Pasalnya, jika beranjak dari sebagian besar menggunakan peralatan tradisional seperti di open house (kandang terbuka) menuju penggunaan peralatan modern seperti closed house sangat banyak masalah yang sering terjadi di lapangan. “Jika tidak selalu dikontrol, kemungkinan operator kandang melakukan kecerobohan cukup besar dalam menjalankan SOP (Standard Operating Procedure) yang telah ditetapkan,” urainya kepada TROBOS Livestock.
BUHC Poultry Bussiness Human Capital Division PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk Syafri Afriansyah berpendapat, industri perunggasan semakin lama dituntut untuk lebih kompetitif dengan salah satu tolak ukurnya adalah faktor ekonomis yang dilihat dari biaya produksi. Peternak yang biaya produksinya lebih rendah akan lebih kompetitif yang salah satunya dengan penggunaan teknologi. “Jika dilihat kandang terbuka sudah tidak menunjang lagi dalam proses budidaya sehingga harus transformasi ke kandang tertutup,” sarannya.
Dengan iklim yang ekstrem dan tidak bisa diatur, peternak harus bisa menekan dampak melalui teknologi seperti closed house. “Dengan penggunaan closed house akan lebih efisien karena biaya lebih rendah serta kualitas ayam lebih terjaga. Sehingga penggunaan teknologi closed house adalah sebuah keniscayaan,” tegasnya.a
Syafri menekankan, dalam menjalankan teknologi closed house, peran SDM tidak bisa dikesampingkan. SDM sangat penting karena tidak hanya bekerja menjalankan rutinitas tapi menjadi motor perubahan dari open house ke closed house. “Seorang karyawan perusahaan atau operator kandang harus belajar manajemen closed house yang memiliki keunggulan yaitu populasi ayam dengan kepadatan tinggi, otomatisasi, dan penggunaan teknologi. Dia harus mengerti, kalau tidak akan terjadi hal yang tidak diinginkan seperti jika meletakkan pemanas sembarangan dapat menyebabkan kebakaran,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *