SEKILAS CAPAIAN KINERJA OPD di TAHUN 2018 LALU

Capaian KInerja OPD

Secara umum capaian kinerja organisasi Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam mendukung pembangunan sub sektor peternakan sesuai dengan perjanjian kinerja tahun 2018 dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Populasi ternak sapi tercapai sebesar 1.183.570 ekor dari target 1.193.249 ekor.
2. Adanya penurunan pemotongan ternak ruminansia betina produktif, yang mana pada tahun 2016 terdapat pemotongan betina produktif sebanyak 200 ekor dan pada tahun 2017 terdapat pemotongan sebanyak 51 ekor, sedangkan pada tahun 2018 sebanyak 86 ekor.
3. Status dan Situasi Penyakit Hewan Menular masih terkendali, terutama penyakit anjing gila (Rabies) sampai dengan tahun 2018 tidak ada kasus, dengan keberhasilan ini Provinsi Nusa Tenggara Barat mendapat penghargaan dalam pemberantasan dan pembebasan penyakit anjing gila (Rabies) yang diberikan oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia.
4. Peningkatan Pelayanan Laboratorium Veteriner pada UPTD Balai Rumah Sakit Hewan dan Laboratorium Veteriner sudah memiliki Standar SNI sebagai Laboratorium Penguji, yakni dibuktikan dengan Sertifikat Akreditasi dalam persyaratan umum untuk kompetensi Laboratorium Pengujiandan Laboratorium Kalibrasi dengan Nomor: SNI ISO/IEC 17025:2008 (ISO/IEC 17025:2005) yang dikeluarkan oleh Komite Akreditasi Nasional.
5. Peningkatan Kualitas Semen Beku pada UPTD Balai Inseminasi Buatan sudah memiliki Standar SNI, dengan adanya Sertifikat Produk Penggunaan Tanda SNI untuk komoditi Semen Beku Sapi dengan Nomor SNI: 4869.1:2008 yang dikeluarkan oleh Lembaga Sertifikasi Produk Benih/Bibit Ternak Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
6. Penghargaan kepada Dokter Hewan Berprestasi, Petugas Pemeriksa Kebuntingan dan Petugas Inseminator Wilayah yang diberikan oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia Tahun 2018.
7. Capaian produksi daging (sapi, kerbau, kambing dan unggas) untuk tahun 2018 sebesar 88.593,6 ton dari target 56.319 ton, dengan kata lain bahwa produksi daging untuk tahun 2018 melampaui target.
8. Capaian produksi telur (ayam ras, ayam buras dan itik) untuk tahun 2018 sebesar 53.341,4 ton dari target 33.500 ton, dengan kata lain bahwa produksi telur untuk tahun 2018 melampaui target.
9. Konsumsi daging (sapi, kerbau, kambing dan unggas) tahun 2018 mencapai 14,89 kg/Kap/Thn dari target 8,49 kg/Kap/Thn.
10. Konsumsi telur (ayam ras, ayam buras dan itik) tahun 2018 mencapai 8,76 kg/Kap/Thn dari target 7,37 kg/Kap/Thn..
11. Penyerapan Pendapatan Asli Daerah sebesar Rp. 709.562.110,- atau70,60% dari target Rp.1.005.000.000;
12. Adapun capaian serapan anggaran sebesar Rp. 32.447.202.651,. atau 96,64% dari target Rp. 33.912.548.768,- dengan realisasi fisik sebesar 100 %.

Harapan ke depannya
1. Pelaksanaan program/kegiatan masih mengalami kendala antara lain yang disebabkan oleh kelemahan sumberdaya manusia, selain itu persoalan bencana alam turut mempengaruhi capaian kinerja pembangunan peternakan terutama dalam hal peningkatan populasi ternak, kedepan perlu upaya antisipasi bagi penyelesaian permasalahan yang dihadapi.
2. Masih terdapat kasus pemotongan ternak betina produktif di kabupaten/kota dan belum ada tindakan/sanksi dari pihak yang berwenang. Sehingga perlu meningkatkan sosialisasi Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pengendalian Pemotongan Ternak Ruminansia Besar Betina Produktif agar penegakan hukum dapat ditindak ditingkat lapangan dan dikoordinasikan dengan pihak kepolisian.
3. UPTD Rumah Sakit Hewan dan Lab. Veteriner belum memiliki ruangan Standar Rumah Sakit Hewan sebagai tempat pelayanan kesehatan hewan, sehingga perlu diusulkan dana pembangunan Ruang Pelayanan Rumah Sakit Hewan yang berstandar dimaksud.
4. Adanya masalah sosial dan situasi keamanan terkait dengan penguasaan lahan di Instalasi Dompu oleh masyarakat, lokasi kebun HPT di Instalasi Bima telah dijadikan jalan umum, pagar lokasi padang penggembalaan di Serading dibuka untuk jalan umum, untuk mengatasi permasalahan tersebut maka perlu dilakukan pendekatan secara kekeluargaan kepada masyarakat di sekitar lokasi agar tidak memanfaatkan lahan untuk kepentingan pribadi/kelompok dan mengoptimalkan pemanfaatan lahan sehingga tidak ada kesan lahan tidur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *