Ketersediaan Daging dan Telur menghadapi Pandemi Covid -19

Arahan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam Rapat Koordinasi dengan Asosiasi Pedagang Layer di UPTD Balai Inseminasi Buatan Lelede pada Selasa 2 Juni 2020. Disampaikan bahwa berdasarkan arahan Bapak Gubernur diberbagai kesempatan bahwa Teknologi adalah salah satu hal yang terpenting dalam industrialisasi, teknologi dapat berkembang sesuai kebutuhan industrialisasi tersebut. Inovasi teknologi merupakan kunci keberhasil industrialisasi. Lebih lanjut dikatakan bahwa tidak mungkin ada peningkatan nilai tambah suatu komiditas tanpa dibarengi dengan penggunaan inovasi teknologi. Inovasi teknologi digunakan dunia usaha untuk meningkatkan produksi. Sementara Kampus dan STIP menyediakan SDM.
Pada masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Salah satu fokus perhatian Pemerintah Provinsi NTB saat ini yaitu penyiapan program Jaring Pengaman Sosial (JPS) Gemilang yang dihajatkan untuk mengatasi dampak pandemi Covid-19 bagi masyarakat NTB. Program ini tidak hanya memberikan manfaat bagi warga yang tidak mampu dan terdampak, namun JPS Gemilang diharapkan mampu menggairahkan kembali ekonomi di sektor Industri Kecil Menengah (IKM) dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Untuk Sub Sektor Peternakan Program JPS I telah mampu memberikan angin segar bagi peternakan perunggasan yang terancam akibat lesunya permintaan, kini bisa bernafas lega karena mendapatkan suntikan permintaan. Untuk peternakan unggas misalnya pada JPS I telah di akomodir pengadaan Telur pada peternak local sebanyak kurang lebih 2 Juta Butir sebagai salah satu bagian paket sembako JPS I. ini tentu dapat memberikan harapan segar bagi peternakan unggas di NTB, walaupun pada kenyataannya masih banyak peternakan unggas local yang merasa belum diakomidir hasil produksi mereka.
Asosiasi Peternak Ayam Petelur dalam pertemuan dengan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan mneyampaikan keinginnya agar peternak-peternak yang hasil produksinya belum ditampung di JPS I dan II ini agar dapat di akomodir pada JPS Berikutnya.
Untuk diketahui bahwa selama masa pandemic Covid-19 ini peternak perunggasan cukup mengalami kerugian akibat banyak hasil produksi mereka yang belum terserap di pasar, sementara rata-rata peternakan unggas di NTB ini memiliki modal usah yang kecil, perputaran modal mereka berasal dari terserapnya hasil produksi di pasar. 50 persen peternak unggas baru dengan modal terbatas mengandalkan bayar telur utukk membeli pakan.
Pakan untuk peternakan unggas merupakan hal yang paling penting dalam meningkatkan hasil produksi peternak. Hampir 80 persen biaya produksi peternakan unggas adalah untuk membiaya pakan. Ketersediaan pakan masih disuplai dari luar daerah, walaupun sebenarnya ketersediaan bahan baku pakan di NTB sebenarya cukup tersedia. Bahan Pakan Jangung misalnya di NTB cukup banyak tersedia, tapi kecenderung petani jagung cenderung menjual keluar NTB karena harga yang ditawarkan cukup tinggi. Sementara untuk bahan pakan ternak didatangkan dari Luar NTB yang tentu akan berdampak pada tingginya harga pakan. Dan pada saaat- tertentu yaitu oktober sampai pebruari harga jagung tinggi karena ketersediaanya langkah. Untuk imformasi kebutuhan bahan pakan jagung di NTB perhari sebesar 60 Ton dengan kebutuhan populasi ternak unggas 1 Juta ekor.
Harapan Aspatel dalam pertemuan tersebut :
1. Hasil produksi ( telur dan daging apkir ) kelompok asosiasi dapat diakomodir pada program JPS Gemilang.
2. Pemerintah daerah (Bulog) dapat membeli jagung di tingkat petani agar petani tidak menjual ke luar NTB.
3. Aspaten berharap agar jumlah telur masuk ke NTB agar dapat dikurangi.
4. Melibatkan aspatel dalam kegiatan pengadaan-pegadaan ternak khususnya unggas (ayam petelur).
5. Aspatel mendukung pembangunan Pabrik Pakan di STIP Banyumulek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *