Kebutuhan Pangan Besar, Urban Farming Alternatifnya

Pandemi covid 19 yang melanda dunia membawa perubahan besar ke semua lini kehidupan, termasuk dalam hal penyediaan pangan. Bahkan, ketersediaan pangan menjadi sangat penting di saat pandemi covid 19. Demand terhadap pangan pun cukup besar, sehingga tak bisa dipenuhi dengan cara-cara biasa.

Ketua Dewan Pertimbangan Pengendalian Perubahan Iklim (DPPPI), Sarwono Kusumaatmadja mengatakan, di tengah pandemi covid 19 sektor ekonomi sudah mulai dilanda kehancuran. Korporasi, usaha kecil dan menengah pun mulai berantakan.

“Saat ini sudah terjadi perubahan luar biasa. Dunia digital punya peran besar dan bisa membantu, bahkan menjadi pilihan masyarakat. Karena itu, untuk mencukupi permintaan pangan yang besar perlu perubahan,” papar Sarwono, dalam sebuah webinar, di Jakarta, Selasa (14/7).

Sarwono mengatakan, masyarakat perkotaan maupun pedesaan saat ini mengalami hal yang sama, yakni jaminan kebutuhan pangan. ” Dalam skala rumah tangga, urban farming bisa menjadi salah satu model untuk mencukupi kebutuhan pangan keluarga. Model ini pun bisa diterapkan di desa,” kata Sarwono.

Menurut Sarwono, populasi petani juga sudah mulai menua. Sementara itu, sudah banyak kaum muda yang bergerak di urban farming. ” Mereka (kaum muda) sudah banyak yang masuk ke tahap pertanian ini (urban farming),” ujarnya.

Sarwono juga mengatakan, dengan memanfaatkan teknologi digital, anak-anak muda yang mengelola urban farming mampu menciptakan rantai pasok lebih efisien. Karena efisien, hasil yang didapat pun lebih besar.

” Jadi, dengan urban farming, ketahanan pangan akan berlangsung di tingkat komunitas. Nah, ketahanan pangan nasional nantinya akan terwujud dari agregasi ketahanan pangan di tingkat komunitas,” pungkas Sarwono.

https://tabloidsinartani.com/detail/indeks/family-style/13710-Kebutuhan-Pangan-Besar-Urban-Farming-Alternatifnya

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *