MENGENAL UPSUS SIWAB (UPAYA KHUSUS SAPI INDUK WAJIB BUNTING)

Oleh : Muhammad Yani,S.Pt, M.Si

Pembangunan sub-sektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan sektor pertanian, dimana sektor ini memiliki nilai strategis dalam memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat atas bertambahnya jumlah penduduk Indonensia, dan peningkatan rata-rata pendapatan penduduk Indonesia dan taraf hidup petani, peternak dan nelayan.
Pangan merupakan kebutuhan dasar utama manusia, untuk itu pangan harus tersedia secara cukup, aman, bermutu, bergizi dan beragam dengan harga yang terjangkau oleh  masyarakat. Bahan pangan berasal dari pangan nabati (asal tumbuhan) dan pangan hewani (asal ternak dan ikan). Untuk bahan pangan hewani dihasilkan dari ternak berupa daging, telur dan susu yang berfungsi sebagai sumber zat gizi utama yaitu protein dan lemak.
Berdasarkan data Ditejen Peternakan tahun 2009-2014, konsumsi daging ruminansia meningkat sebesar 18,2% dari 4,4 gram/kap/hari pada tahun 2009 menjadi 5,2 gram/kap/hari pada tahun 2014.  Dilain pihak dalam kurun waktu yang sama penyediaan daging sapi lokal rata-rata barumemenuhi 65,24% kebutuhan total nasional, sehingga kekurangannya masih dipenuhi dari impor baik yang berupa sapi bakalan maupun daging beku.
Dalam rangka mempercepat pencapaian peningkatan produksi daging di dalam negeri guna memenuhi permintaan konsumsi masyarakat Indonesia, mengurangi ketergantungan impor terhadap daging dan ternak bakalan serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas usaha budidaya ternak ruminansia.
Kementerian Pertanian meluncurkan program Upaya Khusus Percepatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting (UPSUS SIWAB). Upsus SIWAB mencakup dua program utama yaitu peningkatan populasi melalui Inseminasi Buatan (IB) dan Intensifikasi Kawin Alam (INKA).
Program tersebut dituangkan dalam peraturan Menteri Pertanian Nomor 48/Permentan/PK.210/10/2016 tentang Upaya Khusus Percepatan Peningkatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting yang ditandatangani Menteri Pertanian pada tanggal 3 Oktober 2016.
Upaya ini dilakukan sebagai wujud komitmen pemerintah dalam mengejar swasembada daging yang ditargetkan Presiden Joko Widodo tercapai pada 2026   mendatang serta mewujudkan Indonesia yang mandiri dalam pemenuhan pangan asal hewan, dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat

KEGIATAN INTENSIFIKASI KAWIN ALAM (INKA)
Intensifikasi Kawin Alam (INKA) adalah upaya peningkatan populasi ternak sapi/kerbau yang dilakukan melalui pemakaian dan distribusi pejantan unggul tereleksi yaitu berdasarkan penilaian performance tubuh dan kualitas semen, berumur lebih dari dua tahun dan bebas dari penyakit reproduksi. Sedangkan Untuk seleksi betina/induk diharapkan memiliki deskriptif sebagai berikut: induk yang dapat beranak setiap tahun,  skor kondisi tubuh 5-7,  badan tegap, sehat dan tidak cacat, tulang pinggul dan ambing besar, lubang pusar agak dalam dan Tinggi gumba > 135 cm dengan bobot badan > 300 kg.
Kawin alam digunakan dengan mempertimbangkan bahwa secara alamiah ternak memiliki kebebasan hidup di alam bebas, sehingga dengan sikap alamiah ini perkembangbiakannya terjadi secara normal mendekati sempurna dan secara alamiah ternak jantan mampu mengetahui ternak betinanya yang birahi, sehingga sedikit kemungkinan terjadinya keterlambatan perkawinan yang dapat merugikan dalam proses peningkatan populasi.
Ada tiga prinsip manajemen perkawinan yaitu : perkawinan intensif (kandang individu); perkawinan semi intensif (kandang kelompok/umbaran) dan perkawinan extensif (padang pengembalaan.

  • Perkawinan intensif/ perkawinan kandang individu, untuk perkawinan pada kandang ini ternak secara individu dalam keadaan terikat. Kandang individu terdiri dari sekat-sekat sebagai pembatas kandang sehingga ternak yang lainnya tidak menggangu. Perkawinan pada model ini yang perlu diperhatikan adalah pengamatan masa birahi pada ternak induk. Pengamatan ini dapat dilakukan pada waktu pagi atau sore hari. Pada ternak yang mengalami masa birahi akan memberikan isyarat tanda-tanda birahi, setelah 6-12 jam ternak induk mengalami tanda-tanda birahi baru dapat dikawinkan.
  • Perkawinan mengunakan kandang kelompok/umbaran/ semi intensif ada beberapa tahapan proses manajemen yang harus dilakukan peternak diataranya : Ternak induk yang akan dikawinkan harus memenuhi persyaratan 40 hari setelah melahirkan; Ternak pejantan dan induk dikumpulkan dalam satu kandang selama 2 bulan sehingga perkawinan akan terjadi pada semua ternak induk; ternak jantan harus mampu mengawini 10 ekor induk; setelah 2 bulan dalamkandang bersama harus dilakukan pemeriksaan kebuntingan dengan mengunakan metoda palpasi rectal yang dilakukan oleh petugas; berdasarkan hasli pemeriksaan induk yang bunting kemudian dipisahkan dari kandang kumpul, ke tempat kandang bunting dan yang belum bunting dimasukkan kembali dalam kandang kumpul untuk dikawinkan kembali dengan ternak pejantan.
  • Perkawinan pada padang pengembalaan/ ekstensif dapat menerapkan manajemen perkawinan sebagai berikut : Perbandingan jumlah pejantan dan induk adalah 3ekor jantan dengan 100 ekor induk. Tenak jantan dan induk dibiarkan lepas di padang pengembalaan dengan melakukan pengamatan masa birahi pada induk betina, jika ditemukan induk yang birahi agar segera dipisahkan, dan ditempatkan sapi induk dikandang terpisah untuk dikawinkan. Setelah dua hari induk yang telah dikawinkan dapat dilepaskan kembali di padang pengembalaan.

KEGIATAN INSEMINASI BUATAN/KAWIN SUNTIK
Inseminasi Buatan (IB)  merupakan salah satu pilihan yang tepat yang dapat diandalkan dalam memperbanyak populasi ternak. IB adalah teknik memasukan mani atau semen ke dalam alat reproduksi ternak betina sehat untuk dapat membuahi sel telur dengan mengunakan alat inseminasi.
IB sangat dianjurkan ada beberapa tujuan yang dapat dicapai adalah : Untuk memperbaiki mutu ternak yang dihasilakn, sebab bibit berasal dari pejantan yang unggul atau pilihan; Lebih efisien karena tidak mengharuskan pejantan unggul dibawa ke tempat betina, cukup semennya saja; Dapat meningkatkan angka kelahiran denga cepat dan teratur; dan Mencegah terjadinya penularan  atau penyebaran penyakit kelamin.
Selain itu jika dibandingkan dengan cara Intensifikasi Kawin Alam (INKA) banyak keuntungan yang akan diperoleh peternak apabila  mengunakan cara IB adalah : Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan; Dapat mengatur kelahiran ternak dengan baik; Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (in breeding); Dengan peralatan dn teknologi yang baik, sperma dapat disimpan dalam waktu yang lama; Semen beku dapat dipakai untuk  beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati; Menghindari kecelakaan yang sedang terjadi saat perkawinan akibat dari fisik pejantan terlalu besar; Menghindari ternak dari penularan penyakit akibat hubungan kelamin.
Kendati IB sangat menguntungkan dalam pengembangbiakan ternak namun tidak menutup kemungkinan beberapa diantaranya terjadi juga kegagalan atau kwalitas dan prosentase kebuntingan tidak sesuai yang diharapakan.
Untuk itu perlu diketahui beberapa faktor penyebab rendahnya prosentase kebuntingan. Diantaranya adalah : Fertilisasi dan kwalitas mani beku yang jelek/rendah; Inseminator kurang/tidak terampil; Petani/peternak kurang atau tidak terampil medeteksi birahi; Pelaporan yang terlambat atau pelayanan inseminator yang lamban; dan Kemungkinan ada gangguan reproduksi ternak betina. Dari sekian faktor penyebab tersebut yang paling penting adalah mendeteksi birahi.

PELAKSANAAN UPSUS SIWAB
Upsus SIWAB merupakan upaya khusus percepatan peningkatan populasi sapi dan kerbau bunting dan melahirkan dengan baik. Pelaksanaan Upsus SIWAB didasarkan pada populasi Sapi dan Kerbau betina dewasa saat ini yaitu data populasi betina dewasa umur 2-8 tahun atau sekitar 5,9 Juta ekor dari potensi populasi betina ini makadijadikan target  yaitu sekitar 70% atau diperkirakan targetnya adalah 4 Juta ekor Aseptor (ternak yang akan di IB) dengan kebuntingan dan kelahiran yang diharapkan adalah 3 Juta ekor atau 73% dari akseptor.
Sasaran IB sebanyak 4 juta akseptor yang terdiri dari 2, 9 juta akseptor yang dipelihara secara intensif yaitu di pulau jawa, bali dan lampung, 0, 8 juta  akseptor yang dipelihara secara semi insentif yaitu di sulawesi selatan, pulau sumatera dan kalimantan sedangkan 0,3 juta akseptor di pelihara secara ekstensif yaitu di NTB, NTT, Papua,Maluku, Aceh dan Kalimanatan Utara.
Pendukung keberhasilan Upsus SIWAB adalah kegiatan penanaman hijau pakan ternak 13.000 Ha (10.400 Ha didaerah insentif dan 2.600 Ha di daerah eksentif), Penangganan gangguan reproduksi 300.000 ekor, perbaikan reproduksi karena hipofungsi 22.500 ekor dan penyelamatan pemotongan betina produktif di 40 lokasi Kabupaten/Kota, Penyediaan Saran IB (Container, N2 Cair, Semen Beku), serta pengembangan dan penyediaan tenaga/ petugas Inseminator, Pemeriksa Kebuntingan (PKb) dan Asisten Teknis Reproduksi (ATR) berbasis kompetensi.
Keberhasilan UPSUS SIWAB merupakan harapan baru agar kebutuhan pangan, khususnya kebutuhan pangan hewani dapat terpenuhi, sehingga negara kita tidak lagi import, baik berupa ternak bakalan maupun daging beku dari negara lain. Maka diperlukan komitmen bersama antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota untuk bersama-sama dan bahu-membahu melaksanakan kegiatan ini, sehingga harapan untuk dapat swasembada daging sapi/kerbau tahun 2026 dapat tercapai. Muhammad Yani Staf pada Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB, disadur dari berbagai sumber.

GEJALA KLINIS, HEMATOLOGIS DAN SEROLOGIS SEPTICAEMIA EPIZOOTICA PADA KERBAU

Oleh : drh. M. Hasbi Putra, M.Si

Kerbau memiliki peran yang sangat besar bagi masyarakat Indonesia. Banyak situs-situs yang ditemukan memberikan arti kedekatan antara kerbau dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Kerbau yang ada di Indonesia kebanyakan adalah kerbau potong sedangkan kerbau perah jumlahnya sangat terbatas. Usaha ternak kerbau sudah mengakar pada masyarakat dan telah berlangsung sejak periode kekuasaan raja-raja di Indonesia.

Pada tahun 1987, populasi kerbau dan sapi sebesar 13,8 juta ekor dengan rasio kerbau : sapi = 1:3. Sensus tahun 2011, populasi kerbau dan sapi sebesar 16,7 juta ekor dengan rasio kerbau : sapi = 1:11. Rasio populasi kerbau berbanding sapi menunjukkan selang yang semakin lama semakin besar. Hal ini menunjukkan pertambahan populasi sapi lebih besar dari kerbau. Penurunan populasi kerbau sebesar 7,42% per tahun dalam kurun waktu delapan tahun dan sebesar 9 % per tahun dalam periode waktu lima tahun terakhir. Langkah-langkah pemerintah dan tekanan pasar tersebut di atas berdampak pada peningkatan populasi sapi dan sebaliknya terjadi penurunan populasi kerbau yang menunjukkan secara pasti populasi kerbau disisihkan. Hal ini menunjukkan bahwa ternak kerbau diperlakukan sebagai ternak besar yang terbuang.

Salah satu Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) yang perlu mendapat perhatian adalah penyakit Septicaemia Epizootica (SE)/ Haemorragic Septicaemia (HS) yang sering disebut juga penyakit ngorok. Penyakit ini sering menyerang sapi atau kerbau, bersifat akut dengan kematian tinggi dan menimbulkan kerugian yang cukup besar. Pada Tahun 1987 kerugian ekonomi yang disebabkan oleh penyakit ini pada sapi dan kerbau di Indonesia sebesar 16,2 milyar. Kementerian Pertanian sendiri telah mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 4026/kpts/OT.140/4/2013 yang menyatakan bahwa Septecaemia Epizootica masuk dalam 25 Penyakit Hewan Menular Strategis yang baru.

Adapun jumlah kerbau yang dijadikan sampel adalah 20 (dua puluh) ekor di Desa Ngembe, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan di Laboratorium Imunobiologi milik Universitas Mataram sebagai tempat melakukan pengamatan terhadap gambaran hematologis (uji total leukosit dan differensial leukosit) dan sedangkan untuk mengetahui gambaran serologis (uji titer antibodi ternak) dilaksanakan di laboratorium Bakteriologi milik Balai Besar Veteriner Denpasar. Selanjutnya dilakukan koleksi darah (whole blood) dan serum untuk pemeriksaan hematologi dan serologi (ELISA). Setelah itu, ditentukan besarnya hubungan ketiga indikator tersebut (gejala klinis, hematologis dan Serologis), serta penentuan nilai validitas dari masing-masing uji yang dilakukan.

Hasil yang diperoleh adalah Kerbau yang terindikasi terjangkit penyakit SE akan menunjukkan gambaran gejala klinis berupa peningkatan suhu tubuh, respirasi, pulsus/denyut jantung, hewan berbaring, timbul leleran dan anoreksia.

Tabel

Gambaran hematologis yang ditunjukkan berupa perubahan jumlah leukosit, eusinofil, netrofil dan monosit, sedangkan gambaran Serologis yang ditunjukkan berupa peningkatan titer antibodi.

Selanjutnya tidak semua kerbau yang terindikasi terjangkit SE secara bersamaan menunjukkan perubahan gambaran klinis, hematologis dan Serologis. Dari 17 ekor kerbau sebanyak 2 ekor (11,76%) dari jumlah tersebut tidak menunjukkan gejala hematologis dan 5 ekor (29,41%) lagi tidak menunjukkan gejala klinis. Demikian pula dengan 16 ekor kerbau yang terindikasi terjangkit SE berdasarkan gejala hematologis, sebanyak 25% dari jumlah tersebut tidak menunjukkan gejala klinis. Nilai validitas uji klinis dengan serologis yang meliputi sensitifitas, spesifisitas, NPP, NPN dan uji Kappa berturut-turut sebesar 80%, 80 %, 92 %, 57 % dan 0,529. Sedangkan nilai validitas uji hematologis terhadap serologis berturut-turut sebesar 88,2 %, 66,6 %, 93,7 %, 50 % dan 0,48. Dari hasil perhitungan sensitifitas diketahui masih terdapat kesalahan dalam pengamatan klinis sebesar 20% dan kesalahan pemeriksaan hematologis sebesar 11,8% sehingga diperlukan laboratorium penunjang guna mempercepat proses pengobatan.

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

  1. Kerbau yang terindikasi terjangkit penyakit SE akan menunjukkan gambaran gejala klinis berupa peningkatan suhu tubuh, respirasi, pulsus/denyut jantung, hewan berbaring, timbul leleran dan anoreksia. Gambaran hematologis yang ditunjukkan berupa perubahan jumlah leukosit, eusinofil, netrofil dan monosit, sedangkan gambaran Serologis yang ditunjukkan berupa peningkatan titer antibodi.
  2. Tidak semua kerbau yang terindikasi terjangkit SE secara bersamaan menunjukkan perubahan gambaran klinis, hematologis dan Serologis. Dari 17 ekor kerbau sebanyak 2 ekor (11,76%) dari jumlah tersebut tidak menunjukkan gejala hematologis dan 5 ekor (29,41%) lagi tidak menunjukkan gejala klinis. Demikian pula dengan 16 ekor kerbau yang terindikasi terjangkit SE berdasarkan gejala hematologis, sebanyak 25% dari jumlah tersebut tidak menunjukkan gejala klinis.
  3. Nilai validitas uji klinis dengan serologis yang meliputi sensitifitas, spesifisitas, NPP, NPN dan uji Kappa berturut-turut sebesar 80%, 80 %, 92 %, 57 % dan 0,529. Sedangkan nilai validitas uji hematologis terhadap serologis berturut-turut sebesar 88,2 %, 66,6 %, 93,7 %, 50 % dan 0,48.
  4. Dari hasil perhitungan sensitifitas diketahui masih terdapat kesalahan dalam pengamatan klinis sebesar 20% dan kesalahan pemeriksaan hematologis sebesar 11,8% sehingga diperlukan laboratorium penunjang guna mempercepat proses pengobatan.

 

KESEJAHTERAAN HEWAN PADA TERNAK POTONG

Oleh : Daldiri, S.Pt.

Kesrawan adalah segala urusan yang berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu diterapkan dan ditegakkan untuk melindungi hewan dari perlakuan setiap orang yang tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia. Kesrawan adalah persoalan sosial yang cukup penting saat ini. Kesejahteraan hewan berkaitan erat dengan kesehatan hewandan keamanan pangan (asal hewan) à menjadi bidang baru yang menjadi prioritas rencana strategis Badan Kesehatan Hewan Dunia (Office International des Epizooties/ OIE) tahun 2001-2005, “Food Safety and Animal Welfare(semula OIE hanya bergerak dalam bidang kesehatan hewan

Adapun tujuan dilakukannya Penerapan Kesrawan melindungi sumberdaya hewan dari perlakuan orang atau badan hukum yang dapat mengancam kesejahteraan dan kelestarian hewanpada hakekatnya untuk kesejahteraan manusia.

Berdasarkan UU. No. 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, serta PP No. 22/1983 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner, Pemerintah dalam hal ini Provinsi Nusa Tenggara Barat c.q. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Bidang Masyarakat Veteriner memiliki tanggung jawab dan kewajiban untuk menjamin Kesehatan Dan Ketentraman Bathin Masyakarat(Kesmavet)dalam mengkonsumsi daging melalui penyediaan daging yang ASUH. Pemotongan hewan harus dilakukan di RPH dan mengikuti cara penyembelihan sesuai kaidah Kesmavet dan kesrawan. Penyelenggaraan Kesejahteraan Hewan merupakan tanggung jawab bersama Pemerintah, Pemerintah Daerah bersama Masyarakat. Pelaksanaan kesejahteraan hewan diutamakan pada upaya peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat melalui pendidikan, pelatihan dan penyuluhan.

Finalisasi Peraturan Pemerintah sebagai amanat UU. No 18/2009 Juncto UU No 41 tahun 2014 mengenai Kesmavet dan Kesrawan yang berisi implementasi teknis dalam hal Kesmavet dan Kesrawan. Peraturan Pemerintah No. 95 tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan ini juga telah memuat unsur sanksi administratif untuk pelanggaran kesrawan. Manusia bertanggung jawab terhadap kesejahteraan hewan yang berada dibawah tanggung jawabnya. Kesejahteraan hewan tersebut dengan menerapkan prinsip kebebasan hewan (5 Freedom) 1. Bebas dari rasa lapar dan haus, 2. Bebas dari rasa sakit,luka,penyakit dan kondisi tertekan, 3. Bebas dari penganiayaan dan penyalahgunaan, 4. Bebas untuk dapat melakukan perilaku alaminya, 5. Bebas dari perlakuan kasar dan pembunuhan, yang diterapkan pada kegiatan: penangkapan dan penanganan, penempatan dan pengandangan, pemeliharaan dan perawatan, pengangkutan, penggunaan dan pemanfaatan, perlakuan dan pengayoman yang wajar terhadap     hewan, pemotongan atau pembunuhan dan praktik kedokteran perbandingan. Wajib dilakukan oleh orang yang memiliki kompetensidi bidang Kesejahteraan Hewanpemilik hewan, orang yang menangani hewan sebagai bagian  dari pekerjaan danpemilik fasilitas pemeliharaan hewan wajib menerapkan prinsip kesejahteraan hewan.

Muatan Kesrawan dalam PPPasal 83, 84 dan 85

  • Pemilik fasilitas pemeliharaan hewan wajib memiliki izin usaha yang dikeluarkan oleh Bupati/Walikota.
  • Pemilik fasilitas pemeliharaan hewan yang tidak menerapkan prinsip kebebasan hewan dikenai sanksi pencabutan izin usahanya
  • Menteri menetapkan jenis dan kriteria fasilitas pemeliharaan hewan yang memerlukan izin usaha.
  • Setiap RPH mempunyai SDM sebagai pengawas Kesrawan (Animal Welfare Officer) yang disertifikasi dan mempunyai kompetensi.
  • Fasilitas / sarana Prasarana RPH dilengkapi sehingga RPH dapat digunakan untuk memotong baik sapi lokal maupun import. Fasilitas diupayakan dapat digunakan untuk kedua jenis hewan.
  • Sistim perobohan dengan tali masih dapat digunakan untuk pemotongan hewan skala kecil dan bukan komersil namun harus didukung oleh pengetahuan dan keterampilan petugas yang memadai untuk menjamin penerapan kesrawan.
  • Perobohan Hewan sebelum disembelih merupakan titik kritis dalam memenuhi aspek kesejahteraan hewan. Penggunaan fasilitas yang memudahkan proses penanganan hewan diprioritaskan pada setiap RPH.

Kesrawan di tempat Penampungan Hewan:

  • Melindungi hewan dari panas dan hujan
  • Ketersediaan pakan dan minum yang cukup
  • Luas Kandang yang cukup/pengikatan dengan tali yang cukup panjangnya (tidak berdesak – desakan)
  • Kebersihan tempat penampungan
  • Terhindar dari benda – benda, perlakuan dan konstruksi tempat yang dapat mencederai hewan
  • Pencahayaan yang cukup

Kesrawan Pada Penggiringan Hewan:

  • Cara menggiring hewan
  • Hindari membuat hewan ketakutan agar tidak terjadi cedera
  • Hindari adanya orang dan benda di depan hewan selama penggiringan
  • Tidak dibenarkan orang berdiri di atas pagar pembatas
  • Mengupayakan hewan tidak berdesakan (satu demi satu).
  • Gunakan strategi penggiringan hewan sesuai karakter spesies (secara individu atau berkelompok).
  • Menggiring hewan pada posisi di samping paha belakang

Fasilitas Gangway

  • Lantai tidak licin, tidak berlubang dan tidak becek.
  • Pagar pembatas terbuat dari bahan yang tidak mudah berkarat dan tidak tajam,
  • Sudut belokan gangway tidak patah (jangan memberi kesan buntu)
  • Tinggi pagar pembatas sesuai dengan tinggi hewan, lebar gangway sesuai dengan besar hewan.
  • Pencahayaan cukup dan perubahannya tidak kontras
  • Konstruksi gangway harus dipertahankan bebas dari benda-benda yang dapat mencederai hewan.
  • Sepanjang gangway tidak dibenarkan adanya pekerjaan manusia yang menimbulkan bunyi – bunyian yang dapat mengganggu hewan

Kesrawan pada perobohan sebelum penyembelihan :

    1. Merobohkan secara manual dengan tali dan ring
      1. Teknik perobohan hewan secara tidak kasar (dibanting, diinjak,ditarik ekor, ditarik kepala).
      2. Teknik pengikatan dan teknik penarikan.
    2. Merobohkan dengan menggunakan restraining disain dan konstruksi yang bervariasi)
    3. Tanpa pemingsanan (masih menggunakan tali dan box (ring).
    4. Dengan pemingsanan.

Kesrawan pada penyembelihan hewan:

      1. Penyembelihan pada setiap ekor hewan dilakukan segera setelah hewan dirobohkan/dipingsankan.
      2. Penyembelihan harus dipastikan telah memutus 3 saluran (tenggorokan, kerongkongan dan pembuluh darah) dengan sekali potong
      3. Penyembelihan harus menggunakan pisau yang tajam, ukuran yang sesuai dan bersih.
      4. Memastikan hewan telah mati sempurna sebelum melakukan proses lebih lanjut.

Peluang dan Tantangan :

    • Pergeseran pola perilaku konsumen dalam memilih pangan terutama pangan asal hewan “welfare produk”
    • Penerapan kerangka peraturan baru “suply chain” sapi potong asal Australia, juga harus diterapkan pada sapi lokal
    • Penerapan Kesrawan sangat berkaitan dengan Kehalalan terkait dengan penyembelihan ; stunning, penyembelihan, rantai distribusi daging ; MUI ?
      • Regulasi / Peraturan Perundang-Undangan terkait Kesrawan yang lebih jelas dan tegas diperlukan dalam mempercepat penerapan Kesrawan.
      • Perlu adanya keterbukaan semua pihak dalam menghadapi dan menyelesaikan permasalahan terkait kesrawan. (Swasta, LSM, MUI, Asosiasi profesi )
      • Penerapan Kesejahteraan Hewan merupakan cerminan citra dan martabat bangsa