Di Era Covid-19, Bisnis Peternakan Perlu Ubah Cara Baru

Di era Covid-19, bisnis peternakan harus mulai memikirkan cara baru dalam memasarkan produknya yakni beralih dari konvesional ke virtual. Perubahan ini mengikuti perubahan prilaku konsumen yang kian menuntut kualitas dan kepraktisan dalam mendapatkan produk peternakan.

Dewan Pimpinan Pusat Perhimpunan Peternakan Sapi dan Kerbau (PPSKI), Rochadi Tawaf mengatakan, saat ini telah terjadi perubahan paradigma bisnis dihampir seluruh sektor, termasuk peternakan.

Di tingkat produsen, prilaku produsen harus berubah tidak lagi farm tapi firm. Jadi dari produk massal ke kualitas. Sedangkan prilaku konsumen juga berlaih ke produk siap saji. Sementara prilaku pasar kini mulai ke mekanisme online dari sebelumnya off line. “Artinya di era digital kini telah terjadi proses transformasi nilai-nilai, baik dari produsen hingga ke konsumen,” katanya.

Dari sisi konsumen telah terjadi transformasi cukup besar. Misalnya, masyarakat kini makin sadar gizi(protein), ditunjang kemampuan membelinya. Kemudian gaya hidup sehat, seperti diet ketogenic (karbohidrat rendah dan protein tinggi). Konsumen juga makin mementingkan aspek kepraktisan (ready to eat).

Selain itu digital market dan marketing mendorong kualitas produk harus transparan (ada testimoni buyer) dan ada kemudahan delivery dan pembayaran. Apoalagi menurut Rochadi, kini tumbuh industri kuliner(kafe), menambah nilai sosial pangan (gengsi) melalui selfie konsumen.

Pasar virtual juga kian tumbuh dengan banyaknya start up. Seperti Pasaronline, Tanihub, eTani. Pengunjung aplikasi penjualan online juga sangat tinggi,” katanya.

Bagaimana dengan produk daging, Rochadi mengungkapkan, saat pandemi Covid-19 telah terjadi penurunan daya beli konusmen hingga 30-40 persen, sehingga menyebabkan permintaan juga turun. Hal ini terlihat saat Idul Fitri tidak ada gejolak harga, pemotongan sapi di RPH (Rumah Potong Hewan) juga turunImportasi daging India juga berhenti (lockdown) dan harga daging juga stabil tinggi.

“Permintaan daging cenderung menurun di pasar tradisional, tapi permintaan daging meningkat di pasar daring (virtual). Artinya bisnis online meningkat, sementara bisnis konvensional banyak yang bangrut,” katanya.

Rochadi melihat selama pandemi Covid-19 telah terjadi perubahan prioritas konsumen yang tergambar dari data yang menunjukkan bahwa ada peningkatan pembelian konsumen di bisnis hasil-hasil agrikultur. Misalnya, hasil perkebunan, air konsumsi, toko daging dan toko buah serta sayur. “Angka pertumbuhannya bahkan mencapai 430 persen,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *