Program Jum’at Salam di Kelompok Tani Ternak (KTT) Kebon Telaga, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur

Jumat 1 Maret 2024 – Pj. Gubernur NTB, Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M.Si, didampingi Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB Muhamad Riadi, S.P., M.Ec.Dev.  melaksanakan program Jumat Salam di Kelompok Tani Ternak (KTT) Kebon Telaga Dusun Timuk Belimbing Desa Pringgasela Timur Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur.

Secara umum, populasi Sapi di Kecamatan Pringgasela sebesar 11.896 ekor,  KTT Kebon Telaga mengelola  ± 60 ekor dengan menggunakan managemen  3 S (Satu Induk Satu Anak Satu Tahun).  KTT Kebon Telaga ini sudah memanfaatkan KOHE (kotoran hewan) menjadi biogas dalam pemenuhan kebutuhan bahan bakar sehari-harinya dan para petani juga sudah memanfaatkan slurry (limbah dari reaktor biogas) untuk memupuk tanamannya, tapi karena sangat terbatas tentunya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pupuk organik yang dibutuhkan petani disekitar KTT Kebon Telaga. KTT Kebon Telaga ini juga sudah memanfaatkan KOHE Sapi yang dipeliharanya menjadi pupuk organik dengan cara yang sederhana dan dalam jumlah yang terbatas.

Melihat kondisi ini, pada tahun 2023 Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB memberikan bantuan Unit Pengelola Pupuk Organik (UPPO) sekaligus memberikan bimbingan teknis kepada KTT Kebon Telaga untuk mengoptimalkan pemanfaat KOHE Sapi menjadi pupuk organik guna memenuhi kebutuhan pupuk para petani disekitar Dusun Timuk Belimbing Desa Pringgasela Utara.

Setelah mendapatkan bantuan UPPO ini, KTT Kebon Telaga dapat mengoptimalkan produksi pupuk organik padatnya rata rata 5 – 6 ton perbulan, sehingga dalam satu tahun akan mampu memproduksi ± 60 – 72 ton pertahun.

Pada saat dialog dengan Bapak Pj. Gubernur NTB Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M.Si, Ketua Kelompok Tani Ternak (KTT) Kebon Telaga Bapak Sareh, menceritakan pengalamannya mengelola Kandang Kolektif milik KTT Kebon Telaga.  Berdasarkan pengalamannya yang sudah menghitung pendapatan yang diperoleh dari memelihara sapi dan membuat pupuk organik dari KOHE Sapi, ternyata “Pendapatan Peternak Lebih Besar Didapatkan Dari KOHE (Kotoran Hewan) Sapi Dibandingkan Dengan Harga Sapinya Sendiri”.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *