Disnakkeswan Provinsi NTB kunjungi Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan
Disnakkeswan Provinsi NTB kunjungi Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan
Tim Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Nusa Tenggara Barat melaksanakan kunjungan Kerja ke Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan serta ke Balai Inseminasi Buatan Provinsi Kalimantan Selatan.
Dalam kunjungan tersebut Kepala Dinas Peternakan dan Keswan Provinsi NTB drh. Khairul Akbar, M. Si menyampaikan maksud kedatangan rombongan ke Kalimantan Selatan yaitu untuk bersilaturahmi dan mempererat hubungan kerja karena sebagaimana diketahui selama ini Kalimantan Selatan merupakan salah satu Provinsi konsumen sapi Bali asal NTB.
Sementara itu Kadis Kalimantan Selatan sangat berterima kasih kepada Provinsi NTB yang telah bekerjasama dengan baik selama memenuhi kebutuhan sapi bibit untuk masyarakat Kalsel. Dalam kesempatan itu juga kadis Kalsel menyampaikan bahwa melalui program Sikomandan UPTD BIB Kalsel sudah mendistribusi semen beku ke NTB sebanyak 8500 dosis.
Sedangkan pada kunjungan ke UPTD BIBD Kalsel kepala UPTD Balai Inseminasi Buatan menjelaskan BIBD merupakan salah satu UPTD lingkup Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan, yang bergerak dalam penyedia produksi dan distribusi semen beku sexing dan unsexing kerbau dan sapi yang terdiri dari sapi Bali, Limousin, Simental, Brahman dan Peranakan Ongole.
Distribusi semen beku Balai Inseminasi Buatan tidak hanya di wilayah Kalimantan Selatan namun juga sampai ke Banten, Jawa, Sumatera dan Aceh. Semua sapi dan kerbau yang ada di Balai Inseminasi Buatan sudah bersertifikat SNI dan mengacu pada ISO 9001;2015.
Kepala Balai Inseminasi Buatan Provinsi Kalimantan Selatan Ani Sulistiawati juga menjelaskan salah satu yang dilakukan yaitu teknologi semen sexing, tindakan khusus untuk menentukan jenis keturunan yang akan dilahirkan.
“Inovasi ini juga bermanfaat dalam program percepatan peningkatan jumlah populasi ternak di Indonesi melalui penyedia jenis kelamin betina yang dapat meningkatkan populasi ternak betina melalui program efisiensi optimalisasi inseminasi buatan secara secara berkelanjutan,tutur Ani. Hal itu, lanjutnya sejalan dengan keinginan pemerintah bahwa dalam upaya meningkatkan populasi sapi dan kerbau yang dibutuhkan teknologi reproduksi yang bisa diterapkan secara mudah dan efisien.
“Ini bertujuan untuk menentukan pilihan peternak atas menghasilkan keturunan dari keturunan yang akan dilahirkan yaitu pedet jantan untuk digemukkan (produksi daging) dan pedet betina sebagai calon induk, imbuhnya.















