MELIRIK KELOMPOK SAPI PERAH PERTAMA DI NTB

MELIRIK KELOMPOK SAPI PERAH PERTAMA DI NTB


Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB didampingi oleh Kepala Bidang Budidaya, Sarana dan Prasarana, Kepala Balai Pengembangan dan Pengolahan Pakan Ternak Ruminansia (BP3TR) beserta staf Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB melaksanakan kunjungan ke Desa Sembalun Kabupaten Lombol Timur dalam rangka monitoring dan evaluasi kelompok ternak yang mendapat bantuan ternak sapi perah Rabu, 23 Februari 2022.

Ternak perah adalah ternak rumunansia penghasil susu yang merupakan bahan pangan yang sangat penting untuk kebutuhan gizi masyarakat dan merupakan salah satu komoditas strategis. Ternak perah meliputi sapi perah, kerbau perah dan kambing perah.

Tetapi hingga saat ini sapi perah masi mendominasi dunia peternak dan industri olahan susu dibanding ternak lainnya seperti kambing perah dan kerbau perah, walaupun prospek pengembangan ternak ini sangat baik seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan meningkatnya taraf hidup masyarakat, maka kebutuhan susu untuk pemenuhan gizi masyarakat terus meningkat.

Salah satu kelompok yang mendapatkan bantuan dari Pemerintah Pusat untuk ternak sapi perah adalah Kelompok Suara Alam Desa Sembalun Lawang Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur dengan jumlah anggota kelompok sebanyak 12 orang dengan jumlah ternak sebanyak 12 ekor dimana kelompok ini berdiri sejak tahun 2015.

Dalam hal pemberian pakan, jenis pakan yang diberikan pada ternak sapi perah mempengaruhi produksi dan kualitas susu yang dihasilkan serta dapat berpengaruh terhadap kesehatan sapi perah.

Pakan untuk sapi perah laktasi terdiri atas hijauan dan konsentrat. Peranan hijauan (peran serat kasar didalamnya) menjadi lebih penting karena berpengaruh terhadap kadar ternak susu. Kendala yang sering dijumpai terkait pemberian pakan pada sapi perah adalah ketersediaan hijauan yang tidak mencukupi karena keterbatasan lahan untuk penanaman hijauan pakan ternak, produksi hijauan yang rendah saat musim kemarau serta peredaran pakan konsentrat yang kualitasnya tudak sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Disisi lain ketersediaan produk samping/limbah pertanian, perkebunan dan industri pengolahan pangan memiliki potensi untuk diolah menjadi pakan ternak alternatif.

Sapi perah laktasi tinggi memerlukan nutrisi yang cukup memadai baik kuantitas maupun kualitasnya (hijauan pakan dan konsentrat). Jumlah pakan yang diberikan untuk sapi perah laktasi setiap ekor per hari perlu diketahui agar kebutuhan zat nutrisi untuk mencapai kemampuan berproduksi susu yang tinggi dapat terpenuhi. Potensi genetik indukan sapi perah akan dapat ditingkatkan melalui perbaikan pakan baik kuantitas maupun kualitasnya.

#ntbsejahteradanmandiri

#ntbgemilang

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *