RAPAT KOORDINASI ANALISA DAN EVALUASI PENANGANAN PMK PROVINSI NTB

RAPAT KOORDINASI ANALISA DAN EVALUASI PENANGANAN PMK PROVINSI NTB


Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Nusa Tenggara Barat, Ahmad Nur Aulia, menghadiri Rapat Koordinasi Satuan Tugas Penanganan Wabah Penyakit Mulut dan Kuku Provinsi Nusa Tenggara Barat yang bertempat di Gedung Sangkareang Kantor Gubernur NTB, Kamis (04/08/2022).

Rakor analisa dan evaluasi penanganan penyakit mulut dan kuku ini dibuka dan dipimpin langsung oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Ir. H. Madani Mukarom, B. Sc. F, M. Si. mewakili Sekretaris Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat selaku Ketua Pelaksana Satuan Tugas Penanganan Wabah Penyakit Mulut dan Kuku Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Ahmad Nur Aulia, selaku Koordinator Bidang Penanggulangan Satuan Tugas Penanganan Wabah PMK Provinsi Nusa Tenggara Barat menjelaskan bahwa total kasus PMK di NTB sebanyak 90.583 ekor dengan ternak yang sembuh sebanyak 84.059 ekor, ternak yang sakit sebanyak 6.079 ekor, ternak potong bersyarat sebanyak 242 ekor dan ternak yang mati 203 ekor.

Adapun strategi utama dalam penanganan PMK di Provinsi Nusa Tenggara Barat antara lain (1) Biosecurity. Melaksanakan desinfeksi untuk hewan dan produknya, orang, dan kendaraan setiap keluar masuk kandang dan perlintasan, komunikasi, informasi dan edukasi kepada masyarakat, (2) Pengobatan. Memberikan obat-obatan dan vitamin untuk meningkatkan imunitas dan stamina bagi hewan ternak, (3) Vaksinasi. Melaksanakan vaksinasi terhadap ternak yang sehat dengan prioritas ternak yang berdekatan dengan zona merah, (4) Potong Bersyarat. Melaksanakan potong bersyarat terhadap ternak yang terkonfirmasi PML agar wilayah kembali ke zona hijau.

Hal-hal yang perlu diatensi dan diantisipasi dalam penanganan PMK yaitu (1) Mengingat alokasi vaksin untuk NTB sebanyak 2,8 juta dosis dan waktu vaksinasi diharapkan selesai pada tahun 2022 ini tentunya dibutuhkan strategi untuk percepatan dalam hal pendataan hewan ternak yang akan menjadi target vaksinasi, memperbanyak tim-tim vaksinator, input isikhnas secara real time, (2) Gejala yang mirip dengan PMK telah muncul dan dilaporkan di Kecamatan Maronge, Sumbawa sebanyak 4 ekor sapo dan Kecamatan Madapangga, Bima sebanyak 4 ekor sapi telah dilaksanakan pertemuan dengan pejabat Otovet Provinsi dan Kabupaten/Kota se Pulau Sumbawa dengan hasil sebagai berikut pengambilan sampel ternak yang bergejala dan dikirim ke BBVet Denpasar, dilakukan pengobatan dan pemberian vitamin, dilakukan biosecurity di lingkungan sekitar ternak yang bergejala, sembari menunggu hasil BBVet Denpasar telah disiapkan skenario untuk vaksinasi dengan radius 0-10 km, (3) Permintaan kebutuhan desinfektan dan air bersih untuk campuran desinfektan dari Stasiun Karantina Pototano, (4) Surat dari persatuan jagal Kota Mataram untuk pembukaan pasar ternak, (5) Adanya kejadian pembukaan pasar hewan secara paksa di Lombok Tengah, (6) Adanya permintaan sprayer dan desinfektan dari Kabupaten/Kota, (7) Perlu dialokasikan biaya untuk surveylans post vaksinasi dan rapid test.

Rakor PMK ini dihadiri juga oleh perwakilan dari TNI, POLRI, Kepala OPD yang membidangi fungsi peternakan Kabupaten/Kota se NTB, Balai Karantina Pertanian Kelas I Mataram, dan beberapa stakeholder lainnya.

#NTBGemilang

#NTBSejahteradanMandiri

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.