Juni 2018 : Nilai Tukar Petani (NTP) Mengalami Kenaikan 0.68 Persent
Pendekatan One Health Menjadi Upaya Indonesia Bebas Rabies
MONITORING KELOMPOK UNGGAS

Waspada Terhadap Penyakit Anthrax

Penyakit Anthrax (Radang Limpa)
Adalah penyakit menular yang dapat menyebabkan kematian mendadak atau tiba-tiba dan dapat menyerang pada berbagai jenis penyakit seperti: Sapi, Kerbau, Kuda, Kambinng, Domba yang diserta dengan demam atau panas badan yang tinggi pada manusia (zoonosis).

Penyebab Penyakit

  1. Penyebab penyakit anthrax adalah kuman (bakteri) yang disebut baksil anthrax (Bacillus Anthrax)
  2. Baksil Antrax pada keadaan tertentu dapat berkembang biak dengan cepat sekali melalui pembentukan spora (tahapan kehidupan kuman) keuman tahan terhadap kekeringan dalam jangka waktu yang lama bahkan dapat didalam tanah dapat tahan hidup (40 Tahun-50 tahun).
  3. Kuman anthrax banyak terdapat didaerah pertanian terutama daerah basah dan lembab.

Cara Penularan

  1. Penularan penyakit dari hewan penderita ke hewan lain yang sehat terjadi melalui alat pencernaan. Alat pernafasan dan melalui permukaan, alat pernafasan dan melalui permukaan kulit yang luka.
  2. Penularan penyakit pada manusia biasanya terjadi melalui permukaan kulit yang terluka terutama orang-orang yang sering berhubungan dengan ternak penderita, dapat pula karena makan daging/limpa yang berasal dari ternak penderita anthrax.
  3. Kuman anthrax berpindah dan menyebar kemana saja melalui air, angin, serangga dan bahan-bahan lainnya yang tercemar kuman anthrax.
  4. Alat penghisap darah hewan pemakan bangkai dan burung-burung merupakan binatang yang dapat memindahkan penyakit ini.
    3

Tanda-tanda Penyakit Anthrax
Tanda-tanda umum: Gemetar, gelisah, dan susah bernafas,Pengkengkakan leher, dada sisi lambung, punggung dan alat kelamir luar, Suhu tubuh meningkat/demam (41,50 celciu) dan lesu. Beberapa kejadian terutama pada sapi dan kambing banyak mengalami kematian dalam jangka waktu singkat yaitu beberapa menit sampai beberapa hari.Dengan ditandai dengan kelemahan yang mendadak, demam, sesak nafas, dan keluar darah dari lubang-lubang tubuh.

Tanda-tanda Anthrax pada Hewan
Deman, sakit perut, lesu, lemah, tidak ada nafsu makan, menceret, berdasarh, bengkak bagian leher, dada, perut bagian bawah dan alat kelamin bagian luar.
1

Tanda-tanda Anthrax pada Manusia
Gejala klinis pada manusia terdapat 3 bentuk yaitu:
Bentuk kulit (Kuat)
Bersifat lokal, timbul bungkul merah pucat (karbungkel) yang berkembang jadi kehitaman dengan cairan bening berwarna merah. Bungkul dapat pecah dan jadi koreng. Bungkul berikutnya mucul tegang, bengkak dengan warna merah tua pada kulit sekitarnya. – Jika tidak diobati, penyakit akan berlanjut lebih parah dan dapat menyebabkan kematian (akibat Septikia)

Bentuk Pernafasan (Pulmonal)
Sesak nafas didaerah dada, bantuk, demam (tidak terlalu tinggi) dapat menyebabkan kematian jika penderita hebat (dyspone disertai sionosis)

Bentuk pencernaan (Gastroin Testinal)
Nyeri bagian perut, demam dan jika tidak diobati, dapat menyebabkan kematian akibat septicemia
2

Kerugian
Kerugian yang ditimbulkan akibat penyakit anthrax antara lain: Kehilangan tenaga kerja dan tenaga tarik, Kehilangan daging dan kulit serta bahan asal ternak lainnya, Berbahaya bagi ternak dan manusia karena dapat menyebabkan kematian, Daerah yang sudah tercemar oleh kuman anthrax sulit untuk memberantasnya.

Pengobatan
Bila petani ternak menjumpai dengan tanda-tanda seperti diatas, segera lapor ke puskeswan (Pusat Kesehatan Hewan) atau petugas peternakan setempat. Bila penyakitnya tidak bersifat mendadak, ternak dapa diobati dengan antibiotik (Penicilin atau Tetraciclin

Usaha Pencegahan

  1. Ternak yang terkena anthrax harus diasingkan untuk mendapatkan pengobatan oleh petugas sehingga tidak dapat berhubungan dengan ternak yang sehat.
  2. Dilarang menyembelih hewan yang sakit untuk memakan dagingnya
  3. Didekat tempat pengasingan (kandang) digali lubang sedalam 2,5 meter untuk menamping sisa makanan dan tinja dari kandang-kandang ternak sakit.
  4. Setelah lubang terisi makanan dan tinja sedalam 60 cm , lubang tersebut harus ditimbung dengan tanah baru.
  5. Terhadap ternak yang sehat tetapi berapa didaerah kasus penyakit atau terancam dilakukan vaksinasi anthrax setidaknya setahun sekali.
  6. Bangkai hewan yang mati karean anthrax harus segera dibakar habis atau dikubur dalam-dalam agar tidak dimakan burung/hewan pemakan bangkai.
  7. Bekas kandang ternak saki, perlengkapan yang tercemar harus dihapus-hamaka atau dibakar.

“Menjaga kesehatan ternak adalah dasar keberhasilan usaha peternakan dan meningkatkan pendapatan peternak”

Pertemuan Petugas Puskeswan Se NTB Media Komunikasi Praramedis Veteriner

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB, Ir. Hj. Budi Septiani berkesempatan untuk memberikan arahan dan penjelasan tentang pembangunan peternakan di provinsi NTB pada tahun-tahun mendatang, dihadapan peserta pertemuan petugas Puskeswan se NTB tanggal 20-21 Oktober 2015. Menurut Ir. Hj. Budi Septiani, Pengembangan sapi di NTB sangat potensil, prospektif dan menguntungkan, hal ini didukung populasi, budaya pelihara sapi di masyarakat, ketersediaan lahan dan pakan, kelembagaan kandang kolektif, permintaan pasar yang tinggi didalam dan luar daerah serta adanya kebijakan Pusat yang menetapkan NTB sebagai salah satu sumber ternak sapi bibit dan ternak potong Nasional. Salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian serius dalam pengembangan peternakan secara menyeluruh adalah aspek kesehatan hewan dan pelayanan kesehatan hewan itu sendiri.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan, drh. H. Ratmoko, MM, menegaskan bahwa kebijakan penanganan kesehatan hewan secara nasional mengalami perubahan paradigma dari penanganan penyakit hewan (Animal Diseases) menjadi penanganan kesehatan hewan secara menyeluruh (Animal Health) termasuk didalamnya kesehatan masyarakat veteriner. Demikian juga per kembangan penyebaran penyakit sangat pesat terutama penyakit hewan eksotik diakibatkan masuknya produk-produk bahan asal  ternak maupun pakan ternak dari Luar Negeri sehingga tidak dapat dihindari masuknya penyakit  baru (eksotik) di suatu wilayah. Untuk itu ada perubahan prioritas penanganan jumlah PHMS (Penyakit Hewan Menular Strategis) oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan c.q Direktorat Kesehatan Hewan  dari 12 (dua belas) jenis PHMS menjadi 23 (dua puluh tiga) jenis PHMS.

Kegiatan pencegahan dan pengendalian PHMS sangat penting dilaksanakan secara terpadu dan kontinyu, dimana Provinsi Nusa Tenggara Barat sebagai salah satu sumber bibit sapi bali nasional agar memberikan perhatian lebih terhadap penanganan beberapa penyakit zoonosis yang ada seperti penyakit Anthrax dan Brucellosis. Pada pertemuan petugas pukeswan ini yang telah dilaksanakan pada tanggal 20-21 Oktober 2015, diharapkan dapat memberikan motivasi, pencerahan, dan penyegaran bagi petugas paramedic dilapangan dalam membantu memberikan pelayanan kesehatan hewan sebagai bagian dari tugas dalam mempertahankan dan mengendalikan kasus kejadian penyakit yang mempunyai nilai ekonomis strategis dan dapat mempengaruhi kesejahteraan masyarakat.

Adapun maksud dari pelaksanaan Pertemuan Petugas Puskeswan se Prov NTB adalah Meningkatkan kapasitas paramedis dalam melaksanakan pelayanan kesehatan hewan terutama membantu tenaga medik veteriner dalam menyikapi terhadap kejadian penyakit hewan menular strategis (PHMS) secara dini. Sedangkan tujuannya adalah :

  1. Meningkatkan koordinasi dan komunikasi dalam pelayanan kesehatan hewan dimasing-masing wilayah maupun antar wilayah dalam daerah;
  2. Menyamakan persepsi tentang program dan kegiatan prioritas dalam pencegahan PHMS di NTB secara berkelanjutan.
  3. Mengidentifikasi segala permasalahan dan kendala-kendala yang ada dalam penanganan PHMS di tingkat lapangan dan menyiapkan beberapa alternative yang bisa dilaksanakan sebagai upaya penyelesaiannya.
  4. Memotivasi dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas lapang (Paramedis) dalam penanganan PHMS secara berkesinambungan.

Sasaran dari pelaksanaan pertemuan petugas paramedis se NTB adalah Petugas paramedis, baik yang ada ditingkat provinsi maupun petugas yang menangani fungsi keswan dan petugas lapang (Puskeswan/Resort/Ka UPTD kecamatan) masing-masing kabupaten/kota se NTB. Pertemuan petugas Puskeswan se Prov. NTB disampaikan beberapa materi, diantaranya penerapan Manajemen teknis pelayanan kesehatan hewan dalam meningkatkan produksi dan produktifitas ternak oleh Prof. drh. Adji Santoso Drajad, MPhil., PhD. Pada kesempatan tersebut, professor bidang veteriner ini mengingatkan akan pentingnya pelayanan kesehatan hewan secara optimal dalam meningkatkan produksi dan produktifitas ternak.

Pertemuan petugas Puskeswan se Prov. NTB dilaksanakan di Aula Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB selama 2 hari, tanggal 20 – 21 Oktober 2015, dengan hasil kegiatan, yaitu :

1)Pertemuan petugas Puskeswan se Prov. NTB dihadiri oleh petugas paramedic sebanyak 30 orang dari masing-masing puskeswan kab/kota se NTB;

2)Persoalan yang dihadapi oleh paramedic di lapangan dalam memberikan pelayanan kesehatan hewan selalu terkait dengan masih rendahnya kapasitas kelembagaan puskeswan dan sarana prasarana pendukung;

3)Kebijakan pemerintah daerah dalam menggabungkan fungsi-fungsi teknis, pada dasarnya sedikit mengganggu kelancaran pelaksanaan tugas termasuk pelayanan kesehatan hewan;

4) Kendaraan roda 2 (dua) menjadi sarana yang sangat dibutuhkan oleh tenaga paramedic dalam membantu tugas pelayanan kesehatan hewan, geograsif daerah, keberadaan puskeswan sebagai garda terdepan dalam menanganan kesehatan hewan;

5)Disamping julmlah puskeswan yang belum tersedia di semua kecamatan se NTB, ketersediaan tenaga medis veteriner masih sangat terbatas, sehingga pelayanan kesehatan sedikit terganggu, karena paramedic harus berkoordinasi kembali dengan tenaga medis ditingkat kabupaten/kota;

6)Sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan hewan, kelembagaan puskeswan perlu dilakukan revitalisasi secara menyuruh;

7)Peningkatan kapasitas paramedic perlu terus dilakukan secara berkelanjutan, terutama yang terkait dengan kegiatan rutin paramedic seperti pengambilan sampling, pelayanan/praktek ringan, dsb.

Dari hasil kegiatan pertemuan petugas puskeswan tersebut diatas, dapat ditarik beberepa kesimpulan, yaitu :

1) Kegiatan pertemuan/pelatihan sangat diperlukan dalam meningkatkan kapasitas paramedis secara berkala sesuai dengan tugas dan fungsinya;

2)Peningkatan kapasitas kelembagaan melalui peningkatan sarana prasarana ataupun fasilitas pendukung pelayanan kesehatan hewan sangat diperlukan dalam  memantapkan dan mensukseskan pelayanan kesehatan hewan;

3) Penempatan petugas medis veteriner dan paramedis pada masing-masing puskeswan akan sangat membantu kelancaran pelayanan kesehatan hewan secara cepat dan tepat.

Program pencegahan dan penanggulangan penyakit ternak merupakan upaya nyata dalam meningkatkan kewaspadaan dini terhadap kejadian kasus penyakit hewan menular strategis sebagaimana tertuang dalam Rencana Strategik Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2013-2018. Pembebasan PHMS merupakan kebulatan tekad dan ikhtiar dalam mengemban tugas pembangunan peternakan di daerah NTB khususnya pelayanan bidang kesehatan hewan. Oleh karena itu, penguatan dan peningkatan kapasitas kelembagaan puskeswan sebagai pilar utama menjadi satu keharusan dalam memantapkan pelayanan kesehatan hewan. Rencana ini akan dapat dilaksanakan dengan baik apabila semua pihak berpartisipasi aktif dan proaktif menjalin koordinasi yang lebih intensif, membangun kerjasama yang harmonis antar pelaku pembangunan peternakan di semua tingkatan serta terlaksananya pemerintahan yang baik (Good governance).

Juara 1 Tingkat Nasional Kategori Pemeliharaan Ternak Secara Ekstensifikasi

Primadona, begitu kata yang pas diucapkan untuk kelompok KTT Saling Pedi, desa Lape Kecamatan Lape Kabupaten Sumbawa. Kelompok ini untuk pertama kalinya diusulkan untuk mengikuti lomba kelompok dengan kategori system pemeliharaan ternak secara ekstensifikasi, dan ternyata hasilnya begitu primadona, Juara 1 Tingkat Nasional, mendapatkan piagam penghargaan dan uang pembinaan sebesar Rp.5.000.000,-. Terlepas ada tidak kaitannya dengan Tim Penilai yang terdiri atas Pakar Usaha Perbibitan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr. Abdurraman, MSc, dan Tim dari Direktorat Budidaya dan Perbibitan Kementerian Pertanian RI Ir. Primadona, tapi yang jelas, kelompok KTT Saling Pedi telah menunjukan diri sebagai kelompok yang focus mengembangkan usaha perbibitan dengan pola pemeliharaan ternak secara ekstensifikasi. Menurut Ketua Tim Penilai, Ir. Primadona (Direktur Budidaya Ditjennakwan) bahwa manajemen usaha ternak, penyediaan pakan ternak dan pengolahan pakan limbah pertanian secara sederhana dan lahan yang tersedia untuk mendukung usaha perbibitan harus bisa memberikan dampak yang besar terhadap perkembangan usaha secara nyata, dan disatu sisi, mampu mendorong peningkatan produksi dan produktifitas ternak, yang pada akhirnya para peternak senang melakukan usaha karena mendapatkan manfaat yang sangat besar, baik secara financial maupun kelanjutan usaha.

                Pada dasarnya, usaha peternakan dapat dikelompokkan menjadi usaha pembibitan dan usaha budidaya. Untuk mewujudkan kemandirian penyediaan benih, bibit, indukan, dan bakalan diperlukan pelaku usaha yang berkualitas, andal, berkemampuan manajerial, kewirausahaan dan organisasi bisnis. Dengan demikian, mereka diharapkan mampu membangun usaha pembibitan yang berdaya saing dan berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan posisi tawarnya sebagai usaha perbibitan yang mandiri dan produktif. Menurut Ir. Primadona, Banyak sekali program pemerintah dalam mengembangkan kelompok-kelompok tani ternak, baik berupa pengembangan usaha budidaya, distribusi calon induk, penyebaran pejantan pemacek, pemberian insentif bagi ternak betina bunting, stimulus kandang dan sarana prasarana lainnya, sehingga harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, kapasitas dan kemampuan mereka harus terus ditingkatkan, salah satunya melalui pendekatan kelompok. Pendekatan kelompok dimaksudkan untuk mendorong penumbuhan dan penguatan kelembagaan Kelompok Pembibitan, dalam menerapkan sistem agribisnis. Pendekatan kelompok pada usaha pembibitan juga memberikan peluang untuk pemberian sertifikat layak bibit.