RAKOR iSIKHNAS SE NUSA TENGGARA BARAT

Rapat Koordinasi Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (iSIKHNAS) yang dilaksanakan selama 2 hari tgl, 10 – 11 November 2016, rakor tersebut dibuka oleh Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Nusa Tenggara Barat drh. H. Aminurrahman, M.Si. Dasar pelaksanaan kegiatan rakor sesuai dengan DIPA-018.06.3. 239075/2016 Tgl. 07 Desember 2015 Satker-06 dan Keputusan Kuasa Pengguna Anggaran Nomor : Ku.240/9716/Satker-06/Disnakkeswan tgl. 01 November 2016.

Rakor iSIKHNAS diikut oleh kepala bidang keswan/yang menangani fungsi keswan, kepala seksi yang menangani iSIKHNAS,  koordinator iSIKNAS  kabupaten/kota se Nusa Tenggara Barat dan staf kesehatan hewan provinsi, secara keseluruhan peserta berjumlah 30 orang.

Rakor iSIKHNAS Bertujuan  :

  1. Mengevaluasi Penggunaan iSIKHNAS di 10 Kabupaten/Kota.
  2. Lebih mengintensifkan penggunaan iSIKHNAS di 10 Kabupaten/Kota
  3. Memperbaiki Kesalahan format pengiriman sms iSIKHNAS
  4. Menambah Program iSIKHNAS terbaru
  5. Meningkatkan komunikasi dan koordinasi antara Kabupaten/Kota dengan Provinsi
  6. Menampung kendala-kendala iSIKHNAS di Lapangan
  7. Menghimpun masukan dari pelaksana kabupaten/kota untuk keberhasilan iSIKHNAS
  8. Evaluasi Kegiatan Keswan

iSIKHNAS merupakan  suatu cara  pelaporan penyakit hewan yang digunakan di seluruh wilayah Indonesia. Sistem ini dikembangkan untuk mempermudah petugas dalam melaporkan penyakit hewan dan mempermudah perolehan data oleh semua pengguna sistem ini.

Pada program iSIKHNAS data tersedia setiap saat dan dapat diakses dari berbagai portal, sehingga informasi selalu tersedia untuk pengambilan keputusan yang terkait dengan kebijakan kesehata hewan anatara lain pengambilan kebijakan program pencegahan, pengendalian, pemberantasan, pengobatan, investigasi, pengamatan  dan respon penyakit hewan.

iSIKHNAS diaplikasikan di Provinsi NTB pertama kali pada awal tahun 2014 dengan melatih Koordinator Provinsi, yang kemudian akan menjadi expert trainer yang melatih Koordinator Kabupaten/Kota.

Pada bulan November dan Desember Tahun 2014 telah diadakan pelatihan bagi petugas medis/paramedis yang ada di kabupaten Lombok Tengah dan Sumbawa. Sedangkan pada tahun 2015, pelatihan dilakukan dibulan September dan Oktober  bagi petugas medis/paramedis yang berada di Kota Mataram, Kab.Lombok Barat, Kab.Lombok Timur, Kab.Lombok Utara, Kab.Sumbawa Barat, Kab.Dompu, Kab.Bima dan Kota Bima

Untuk tahun 2016, pelaporan penyakit hewan sudah menggunakan pelaporan dengan iSIKHNAS di seluruh kabupaten/kota. Jumlah petugas iSIKHNAS di Prov. NTB berjumlah ± 210 orang, sampai dengan akhir Oktober (31 Oktober 2016) jumlah petugas menjadi 332 orang. Keberhasilan iSIKHNAS akan mempermudah pencapaian 3 langkah penting yakni Early Detecion, early Respons, Early Report yang menjadi kunci keberhasilan dalam penanggulangan penyakit hewan.

isiknas1isiknas2

Oktober 2016 : Nilai Tukar Petani Provinsi NTB sebesar 107,25

(sumber BPS Prov.NTB)
Penghitungan Nilai Tukar Petani menggunakan tahun dasar 2012=100 dimana pada bulan Oktober 2016 tercatat Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) sebesar 107,20; Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) 96,14; Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 95,86; Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) 121,05 dan Nilai Tukar Petani Perikanan (NTNP) 101,71. Nilai Tukar Petani Perikanan (NTNP) dirinci menjadi NTP Perikanan Tangkap (NTN) tercatat  109,00 dan NTP Perikanan Budidaya (NTPi) tercatat 89,99.  Secara gabungan, Nilai Tukar Petani Provinsi NTB sebesar 107,25 yang  berarti NTP bulan Oktober 2016 mengalami peningkatan 0,24 persen bila dibandingkan dengan bulan  September 2016 dengan Nilai Tukar Petani sebesar  106,99.
 
Nilai Tukar Usaha Pertanian Provinsi NTB yang diperoleh dari hasil bagi antara indeks yang diterima petani dengan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM), pada bulan Oktober 2016  tercatat 114,83 yang berarti mengalami penurunan  0,06 persen dibandingkan bulan September 2016 dengan Nilai Tukar Usaha Pertanian 114,90.
 
Dari 33 Provinsi yang dilaporkan pada bulan Oktober 2016, terdapat 17 provinsi yang mengalami peningkatan NTP dan 16 provinsi mengalami penurunan NTP. Peningkatan tertinggi  terjadi di Provinsi Sulbar  yaitu sebesar 1,09 persen, dimana indeks harga yang diterima meningkat 0,86 persen, sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Sulut yaitu sebesar 1,34  persen, dimana indeks yang diterima petani menurun sebesar  1,34 persen.  
 
Pada bulan Oktober 2016, terjadi deflasi di daerah perdesaan di Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 0,15 persen. Deflasi disebabkan karena terjadinya penurunan indeks konsumsi rumah tangga pada kelompok Bahan Makanan sebesar – 0,44 %. Sedangkan 6 kelompok pengeluaran lainnya menglami peningkatan indeks KRT yaitu kelompok  Kesehatan (0,29 %), Pendidikan, Rekreasi & Olahraga (0,17 %), Transportasi & Komunikasi (0,08 %), Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau (0,07 %), Perumahan (0,07 %), dan Sandang (0,06 %).