POTRET KE-KINIAN PERBIBITAN TERNAK DI NTB

POTRET KE-KINIAN PERBIBITAN TERNAK DI NTB;
MEMENEJ POTENSI SUMBERDAYA, SERTIFIKASI PRODUK DAN ASOSIASI PELAKU USAHA

Oleh : Armin Alamsyah, M.Si. – Kasi Perbibitan Ternak

Sepuluh peran strategis sektor peternakan dalam mendorong percepatan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi daerah, dan kesejahteraan masyarakat Nusa Tenggara Barat pada khususnya, pertama sebagai daerah sumber ternak bibit dan ternak potong Nasional. Kedua, Sumber pendapatan dan penghasilan utama masyarakat. Ketiga, Sebagai investasi jangka panjang masyarakat pedesaan seperti modal haji, tabungan dan biaya pendidikan, keempat, Sumber protein hewani yang sangat berguna bagi kecerdasan, prestasi dan mencegah gizi buruk, kelima, Pengediaan lapangan kerja dan kesempatan berusaha bagi masyarakat, keenam, Pengeimbang lingkungan hidup melalui pemanfaatan pupuk organik dari kotoran dan limbah peternakan, ketujuh, Pengembangan energi terbaharukan gas bio, kedelapan, Penyedia bahan baku industri pengolahan pangan dan tekstil, kesembilan, Penyumbang kontribusi PDRB 14,27 % dari sektor Pertanian dan kesepuluh, Sumber Pendapatan Asli Daerah NTB melalui penjualan ternak bibit dan potong untuk 14 daerah konsumtif. Ternak sapi menjadi salah satu komoditas unggulan daerah, sebagai pengungkit ekonomi masyarakat dan daerah, penyemangat pelaku usaha dan semangat berkelompok masyarakat pedesaan. Keunggulan komparatif dan dayasaing ternak sapi bali antara lain populasi dan produktif ternak yang terus meningkat seiring dengan pertambahan pangsa pasar, tingkat fertilitas ternak cukup tinggi, kemampuan adaptasi ternak terhadap perubahan lingkungan sangat baik, dan kualitas karkas ternak potong sangat proporsional, serta ternak bebas dari penyakit hewan menular strategis. Pada dasarnya, pengembangan ternak sapi di daerah ini sangat potensial, prospektif dan menguntungkan, hal ini didukung populasi, sosial budaya masyarakat, ketersediaan lahan dan pakan, kelembagaan kandang kolektif, peluang dan pangsa pasar yang tinggi didalam dan luar daerah, serta kebijakan pemerintah pusat yang menetapkan daerah Nusa Tenggara Barat sebagai salah satu sumber ternak sapi bibit dan ternak potong Nasional. Namun pengembangan usaha ini belum sepenuhnya dilaksanakan sesuai good manajemen practis yang baik, sebagian besar para peternak hanya berusaha memelihara ternak untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek dengan kepemilikan rata-rata 3-5 ekor, belum berorientasi usaha skala besar dengan kepemilikan 6-10 ekor, apalagi berpikir untuk usaha yang lebih efektif, waktu pemeliharaan efisien sehingga menguntungkan, padahal komoditi ini menjadi salah satu pengungkit ekonomi kerakyatan dan sudah menjadi ikon pembangunan di daerah ini, disamping potensi lainnya.

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat untuk lima tahun kedepan mendambakan terwujudnya Masyarakat yang Beriman, Berbudaya, Berdayasaing dan Sejahtera. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, pemerintah daerah menetapkan tujuh misi utama yang menjadi acuan pembangunan selama lima tahun kedepan yaitu 1). Mempercepat perwujudan masyarakat yang berkarakter melalui pemantapan ketaatan beragama, peningkatan budi pekerti, dan pengembangan toleransi 2). Mengembangkan budaya dan kearifan lokal untuk pembangunan, 3). Melanjutkan ikhtiar reformasi birokrasi yang bersih dan melayani, penegakan hukum yang berkeadilan, dan memantapkan stabilitas keamanan, 4). Meningkatkan mutu sumberdaya manusia yang berdayasaing melalui optimalisasi pelayanan pendidikan, kesehatan, keluarga berencana dan kesejahteraan sosial yang berkualitas, terjangkau dan berkeadilan gender, 5). Meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mempercepat penurunan kemiskinan, dan pengembangan keunggulan daerah melalui industri pariwisata, agroindustri, dan ekonomi kreatif berbasis budaya, sumberdaya lokal dan iptek, 6) Melanjutkan percepatan pembangunan infrastruktur dan konektifitas antar wilayah berbasis tataruang, dan 7) memantapkan pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan. Menapaki visioner diatas, maka pembangunan peternakan kedepan harus mampu menjawab berbagai tantangan dan hambatan dengan memanfaatkan potensi sumberdaya dan peluang yang dimiliki secara optimal, untuk mendorong pencapaian kinerja misi ke-5 RPJMD. Sesuai rencana strategic pembangunan Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB dan mengacu regulasi teknis lainnya, pada dasarnya pembangunan peternakan secara menyeluruh dimaksudkan untuk memanfaatkan segala potensi dan sumberdaya peternakan dalam meningkatkan kesempatan berusaha, meningkatkan kualitas dan kuantitas produk, membuka akses informasi, pemasaran dan kebutuhan pangan bagi masyarakat, dan lebih penting lagi meningkatkan ketahanan pangan di daerah. Oleh karenanya, pengembangan potensi dan sumberdaya perbibitan, perbaikan kualitas ternak bibit sesuai standar dan sertifikasi terhadap ternak bibit serta peranan asosiasi pelaku usaha perbibitan secara sinergis akan merangsang berkembangnya usaha-usaha perbibitan secara produktif, peningkatan semangat berusaha kolektif, penyediaan dana talangan (pelaku usaha dan pemerintah), penataan tataniaga dan pemasaran yang lebih berpihak, dengan harga yang menguntungkan masyarakat peternak.

Potensi dan kekayaan sumberdaya ternak          
Pertumbuhan populasi ternak sapi selama lima tahun terakhir 8,8 %, pada tahun 2015 populasi ternak sapi mencapai 1.055.013 ekor, dengan potensi ternak induk betina produktif sebesar 50,85 %, artinya bahwa apabila ternak induk betina produkif dipelihara dengan manajemen perbibitan yang baik, pemberian pakan berkualitas dalam jumlah yang cukup dan memenuhi kebutuhan produksi, pelayanan kesehatan hewan yang menyeluruh terutama gangguan reproduksi maka setiap tahun maksimal akan tersedia 536.000 ekor pedet, dan apabila 50 % dari dari pedet yang lahir merupakan kouta pengeluaran ternak bibit, nilai investasi yang diperoleh peternak dari ternak bibit pada periode berjalan sebesar 2,6 triliun, fakta selama lima tahun terakhir pengeluaran ternak bibit mencapai 50.798 ekor dan permintaan ternak bibit setiap tahun cenderung meningkat drastis. Nominal investasi yang akan diperoleh peternak secara menyeluruh bisa lebih tinggi, apabila ternak potong sudah mencapai berat potong yang ideal sebesar 350-500 kg pada umur 3-4 tahun, namun selama ini penurunan kualitas dan performance ternak potong terus mengalami degradasi serius, dibeberapa lokasi pasar hewan, jumlah ternak potong yang ideal masih sangat terbatas. Hal ini ditengarai akibat menurunnya kualitas ternak bibit karena inbreeding yang semakin tinggi, dan kualitas pakan bermutu tidak tersedia dalam jumlah yang cukup.

Program pemberdayaan kelompok selama lima tahun terakhir meningkat sangat signifikan mencapai 1.088 lokasi kelompok (KTT), sebagai salah satu upaya percepatan produksi dan produktifitas ternak, pendekatan pengembangan usaha perbibitan melalui kelompok dan penguatan kapasitas padang pengembalaan menjadi sangat penting untuk dilaksanakan secara berkelanjutan. Tahun 2015 sebanyak 117 kelompok mendapatkan penguatan kelembagaan melalui distribusi ternak bibit, peningkatan sarana prasarana perbibitan, pengembangan bibit hijauan pakan ternak, perbaikan kandang kelompok dan peningkatan kapasitas SDM pelaku usaha melalui studibanding ke lokasi perbibitan yang sudah maju dan berkembag baik. Mencermati pola usaha pengembangan peternakan yang berkembang, sebagian besar kelompok masih melakukan pola budidaya, tanpa adanya target produksi yang jelas, apalagi menerapkan system seleksi terhadap induk, penerapan recording dan penimbangan secara berkala, sehingga produk yang dihasilkan memenuhi standard dan mutu ternak bibit yang baik. Untuk mendapatkan ternak bibit yang memenuhi standar, pola usaha harus diterapkan melalui kelompok-kelompok perbibitan, dimana seleksi induk, recording dan penimbangan secara berkala akan menentukan kualitas ternak bibit.

Perbaikan kualitas usaha pembibitan dengan fasilitasi usaha bersama di sektor hulu dan hilir sangat ditentukan berbagai hal diantaranya, usaha pembibitan secara komersial dan berorientasi pasar, terjalinnya kerjasama antar kelompok pembibit lainnya, terciptanya iklim usaha yang kondusif agar para anggota mampu mengembangkan kelompoknya secara partisipatif, berkembangnya kreativitas dan prakarsa anggota untuk memanfaatkan setiap peluang usaha, informasi dan akses permodalan yang tersedia, disertai dengan peningkatan kemampuan dalam menganalisa potensi pasar dan peluang usaha serta menganalisis potensi wilayah dan sumber daya yang dimiliki untuk mengembangkan komoditi yang dikembangkan/diusahakan guna memberikan keuntungan usaha yang optimal. Disamping hal tersebut, peningkatan kemampuan anggota untuk dapat mengelola usaha pembibitan secara komersial, berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Populasi ternak sapi potong Indonesia saat ini dalam kondisi yang sangat memprihatinkan dimana secara nasional menjadi gejala penurunan populasi terus menerus dari tahun ketahun, hal ini selain disebabkan oleh factor peningkatan populasi dan produksi daging tidak seimbang dengan permintaan daging, pemotongan sapi pejantan yang berkualitas baik dan produktif dalam jumlah besar, dan tidak tersedianya bibit yang bermutu baik dalam jumlah yang cukup, mudah diperoleh dan harganya terjangkau. Melihat kondisi dilapangan saat ini penampilan sapi potong yang umurnya cukup, tetapi secara performans tidak menggambarkan kesesuaian antara umur dan ukuran tubuh. Hal ini menunjukkan adanya penurunan genetik pada ternak yang ada. Untuk itu perlu dilakukan pemuliaan yng terarah dan kontinyu pada sumber bibit. Disamping itu peningkatan produktifitas melalui pendekatan factor genetic dapat dilakukan dengan menyediakan bibit unggul khususnya seleksi pejantan melalui uji performan, hasil kegiatan ini harus disebarkan kedaerah-daerah sumber bibit yang membutuhkan intensifikasi kawin alam atau melalui inseminasi buatan. Untuk mendorong berkembangnya pemuliaan ternak atau uji performance secara berkelanjutan, kelompok-kelompok pembibitan harus dilakukan pembinaan secara intensif, terarah dan terpadu. Selama ini kelompok-kelompok yang sudah diterapkan pemulihaan ternak atau uji performance di kabupaten Lombok Tengah sebanyak 25 lokasi (merupakan kelompok binaan ACIAR), dengan populasi awal 1.173 ekor, sebanyak 61% merupakan induk dan calon induk. Pemberian pakan berkualitas sesuai dengan berat badan terjadwal, recording dan penimbangan terhadap pertumbuhan sapih sejak lahir berat sapih (205 hari), seleksi dilakukan setiap tiga bulan sekali untuk memperoleh pejantan yang mutu sesuai dengan jadwal Jumlah anak yang dilakukan recording sebanyak 20%, sehingga diperoleh ternak bibit yang memenuhi standar untuk dikembangbiakan secara berkelanjutan.

Perbaikan kualitas ternak bibit
Undang Undang nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan pada Pasal 13 menyatakan bahwa penyediaan dan pengembangan benih, bibit dan bakalan dilakukan dengan mengutamakan produksi dalam negeri dan kemampuan ekonomi kerakyatan. Pemerintah berkewajiban melakukan pengembangan usaha pembenihan dan/atau pembibitan dengan melibatkan peran serta masyarakat untuk menjamin ketersediaan benih, bibit dan/atau bakalan, dan Ayat (4) menyatakan bahwa setiap benih atau bibit yang beredar wajib memiliki sertifikat layak benih atau bibit yang memuat keterangan mengenai silsilah dan ciri-ciri keunggulan tertentu. Mempertegas amanat Undang Undang tersebut, kementerian pertanian telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 48 tahun 2011 tentang Sumber Daya Genetik Hewan dan Perbibitan Ternak, yang Pasal 60 ayat (1) menyatakan bahwa Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota memfasilitasi peternak, perusahaan peternakan, dan masyarakat untuk membentuk lembaga pembenihan dan/atau pembibitan. Demikian pula pada Pasal 62 dinyatakan bahwa Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara fasilitasi pembentukan lembaga pembenihan dan/atau pembibitan diatur dengan Peraturan Menteri. Untuk Memudahkan pengembangan perbibitan di daerah, termasuk tataniaga dan pemasaran ternak bibit, perkembangan kelompok perbibitan daerah secara menyeluruh, aplikasi teknologi terapan, penguatan kelembagaan kelompok, dan peranserta asosiasi pelaku usaha, menjadi sangat penting dilaksanakan melalui pendekatan sosial kultur dalam wadah kelompok usaha produktif.

Prinsip usaha pembibitan merupakan upaya untuk menghasilkan ternak dengan kualifikasi bibit sesuai dengan jenis ternak secara berkelanjutan. Pada prinsipnya, pembibitan merupakan serangkaian kegiatan pembudidayaan untuk menghasilkan bibit sesuai pedoman pembibitan ternak yang baik. Bibit ternak adalah ternak yang mempunyai sifat unggul yang dapat diwariskan serta memenuhi persyaratan tertentu untuk dikembangbiakan. Standar bibit adalah proses spesifikasi teknis dan/atau bibit yang dibakukan dan disusun berdasarkan konsensus semua pihak, dengan memperhatikan syarat mutu genetik, syarat kesehatan hewan serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memberi kepastian manfaat yang akan diperoleh dalam usaha perbibitan. Pembinaan teknis pembibitan diarahkan untuk membangun ketaatan/kerjasama anggota dalam melaksanakan pembibitan yang telah ditetapkan Kelompok-kelompok pembibitan antara lain penyusunan rancang bangun (grand design) program pembibitan menurut jenis dan rumpun/galur ternak. Rumpun ternak adalah segolongan ternak dari suatu jenis yang mempunyai ciri fenotipe yang khas dan ciri tersebut dapat diwariskan pada keturunannya. Seleksi adalah kegiatan memilih tetua untuk menghasilkan keturunan melalui pemeriksaan dan/atau pengujian berdasarkan kriteria dan tujuan tertentu dengan menggunakan metoda atau teknologi tertentu. Silsilah adalah catatan mengenai asal-usul keturunan ternak yang meliputi nama, nomor dan performan dari ternak dan tetua penurunnya.

Sosialisasi rencana aksi program pembibitan yang telah disusun bersama untuk dilaksanakan seluruh anggota secara konsekuen dan berkelanjutan, mendorong kelompok-kelompok pembibitan untuk menghasilkan suatu aturan norma untuk ditaati bersama, terkait pola pemeliharaan, peran dan tanggungjawab masing-masing anggota sebagai modal bersama dalam wadah kelompok, peningkatan kemampuan anggota dalam melaksanakan pembibitan secara mandiri meliputi peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pemahaman anggota tentang program pembibitan secara baik, peningkatan kapasitas sumber daya rekorder untuk melaksanakan koleksi data dan informasi performa individu-individu ternak yang dikelola anggota, peningkatan kemampuan pengurus kelompok-kelompok pembibitan untuk mengelola ternak bibit yang dihasilkan anggota, baik untuk kebutuhan replacement maupun pemasaran secara kolektif.

Penerapan Good Breeding Practice (GBP) dan Sistem Manajemen Mutu (SMM) yang meliputi penyusunan prosedur dan kriteria yang terukur dari program pembibitan yang dilaksanakan kelompok-kelompok pembibitan, sosialisasi dan pemahaman pelaksanaan GBP dan SMM menurut jenis ternak, pembinaan anggota Kelompok-kelompok pembibitan untuk mentaati pelaksanaan GBP dan SMM. Peningkatan kemampuan anggota dalam pengembangan agribisnis meliputi menumbuh kembangkan kreativitas dan prakarsa kelompok-kelompok pembibitan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas usaha pembibitan yang berdaya saing dan berkelanjutan, membantu mengidentifikasi kebutuhan, masalah, dan peluang usaha pembibitan berdasarkan ketersediaan sumber daya lokal, serta mencarikan terobosan pemasaran bibit dan hasil samping yang diproduksi, meningkatkan kemampuan kelompok-kelompok pembibitan untuk menyediakan prasarana dan sarana usaha pembibitan secara efisien, mengembangkan kemampuan Kelompok-kelompok pembibitan menerapkan teknologi untuk meningkatkan nilai tambah produk samping usaha pembibitan, dan mengembangkan kemampuan Kelompok-kelompok pembibitan untuk memfasilitasi dan/atau sebagai penghubung dengan kelembagaan ekonomi menuju koperasi.

Usaha pembibitan ternak memerlukan waktu cukup lama sehingga memerlukan biaya yang cukup besar meliputi biaya pakan dan operasional pemeliharaan selama ternak berproduksi sehingga peternak mendapatkan profit. Usaha pembibitan ternak perlu manajeman yang terintegrasi baik mulai manajemen usaha sampai dengan manajemen sumber daya manusia dan terintegrasi sehingga dapat meminimalisir kerugian usaha. Beberapa kegiatan yang harus direncanakan dengan baik dalam mendukung usaha pembibitan meliputi perencanaan usaha yang meliputi jenis ternak yang akan dikembangkan, volume usaha, teknologi yang akan diterapkan, rencana kegiatan pembibitan dan anggaran serta proyeksi pendapatan usaha pembibitan;Rencana pemasaran hasil; Pola manajemen usaha; dan Kelayakan secara ekonomi, sosial dan lingkungan.

Proses produksi bibit antara lain penerapan secara konsisten program pemuliaan ternak yang telah disusun berdasarkan kesepakatan seluruh anggota dalam organisasi usaha pembibitan. Didalam program pemuliaan akan menyangkut pemberian identifikasi ternak, pengukuran dan pencatatan prestasi masing-masing individu ternak yang dibibitkan, kegiatan seleksi dan culling (penyingkiran), penandaan ternak terseleksi, dan pengaturan perkawinan. Oleh karena prestasi produksi individu ternak merupakan manifestasi dari potensi genetik, lingkungan yang diterimanya (diantaranya kualitas dan kuantitas nutrisi yang dikonsumsi, penyakit, suhu dan kelembaban udara, kepadatan ternak dalam kandang), dan interaksi antara genotipe-lingkungan, maka aspek lingkungan tidak boleh ditinggalkan. Keberhasilan penyediaan pakan yang memenuhi standar produksi dan jenis ternak akan memberikan pengaruh positif terhadap kualitas bibit ternak yang dihasilkan.

Penelitian-penelitian tentang pengembangan ternak bibit dan potong sudah sangat popular dilakukan di daerah ini, banyak pakar ruminansia, ahli teknologi pakan dan bahkan perekayasa genetik terlibat secara intens melakukan riset-riset, baik dilakukan melalui self riset project maupun pilot project selama waktu tertentu untuk mengembangkan perbibitan dan usaha-usaha penggemukan berbasis kelompok-kelompok. Beberapa tahun silam, kerjasama JICA dan ACIAR memberikan kontribusi yang sangat besar terutama dalam menata dan memperbaiki manajemen budidaya, pelayanan kesehatan hewan dan peningkatan kualitas pakan ternak secara berkelanjutan. Peningakan kualitas beternak melalui kelompok saat ini sudah diterapkan secara intensif oleh 36 kelompok diwilayah Lombok Tengah, dan kelompok semi ekstensifikasi di kabupaten Sumbawa, pemberian pakan yang kaya akan kandungan protein seperti tanaman pakan leguminosa memberikan pertumbuhan yang sangat signifikan, ditandai dengan pertambahan bobot badan harian sehingga menguntungkan bagi usaha-usaha penggemukan dan perbibitan. Bahkan ACIAR saat-saat ini tengah gencang mempromosikan ternak organik yang dikembangkan di kabupaten Sumbawa Barat dan Kabupaten Sumbawa, melalui pemanfaatan tanaman pakan leguminosa seperti lamtoro, turi, dan gamal tanpa adanya pemberian pakan pabrikan. Namun penelitian-penelitian terapan seperti ini belum bisa membangun ‘network’ untuk menjalin kerjasama secara langsung dengan program pemberdayaan kelompok tani ternak yang tengah dilaksanakan oleh pemerintah daerah melalui satuan kerja terknis sehingga kelompok-kelompok belum optimal dalam meningkatkan produksi dan produktifitas ternak.

Peluang pengembangan ternak eksotik di daerah ini memang terkendala beberapa potensi strategis, pusat perbibitan sapi bali nasional dan daerah ini bebas penyakit hewan menular strategis, disamping potensi sumberdaya dan dayadukug yang perlu terus dikembangkan terutama penyediaan pakan yang berkualitas dan berkelanjutan, analisis kebutuhan pakan masih jarang dilakukan secara terencana, berapa persen produksi pakan hijauan yang bisa dimanfaatkan secara kontinyu, apakah pakan olahan sudah bisa dikembangkan secara besar-besaran, dan bagaimana pengetahuan dan prilaku sosial budaya masayarakat sehingga betul-betul mendukung pengembangan usaha dalam skala besar, karena biaya pengembangan ternak sapi eksotik memerlukan perencanaan dan dukungan yang lebih besar. Pengalaman yang sama pernah kita alami, pengembangan ternak eksotik seperti Brahman, Brangus dan Limosin hanya menjadi simbol percobaan yang sia-sia belaka, bukannya perbaikan produksi dan produktifitas yang akan kita peroleh namun efisiensi waktu, biaya dan tenaga yang terbuang percuma. Oleh karena itu, komitmen dan focus program terhadap peningkatan kualitas ternak sapi bali harus menjadi prioitas bersama, perbaikan system perbibitan, kualitas ternak bibit, dan ketersediaan pakan bermutu secara kontinyu, disamping peningkatan sdm, sarana prasarana pendukung dan kelembagaan kelompok.u

Penguatan kelembagaan kelompok
Penguatan Manajemen pembibitan ternak meliputi manajemen organisasi dan manajemen usaha pembibitan. Manajemen organisasi meliputi kegiatan cara menjalankan organisasi, membangun sebuah tim, merencanakan program kerja, mengalokasikan sumber daya, pemecahan masalah (problem solving), dan perencanaan yang efektif (effective planning). Manajemen organisasi diperlukan untuk mencapai tujuan yang akan dicapai oleh sebuah organisasi secara efektif dan effisien. Karena usaha pembibitan mempunyai tujuan menghasilkan bibit bersertifikat berkelanjutan, maka dalam proses memanfaatkan potensi sumber daya diperlukan manajemen organisasi usaha pembibitan yang baik melalui perencanaan diperlukan untuk menentukan visi dan misi organisasi serta program dalam rencana strategis dan operasional oleh kelompok-kelompok pembibitan. Pengorganisasian ditetapkan dalam rangka menggolongkan dan mengatur kegiatan usaha pembibitan, tugas pokok, wewenang dan pendelegasian wewenang untuk mencapai tujuan organisasi Kelompok-kelompok pembibitan.

Pelaksanaan organisasi dapat berhasil apabila keterlibatan dan partisipasi anggota Kelompok-kelompok pembibitan berperan aktif dalam berbagai kegiatan serta dalam pengambilan keputusan, hal ini akan menunjang berhasilnya penguatan kelembagaan usaha pembibitan ternak. Manajemen teknis pembibitan pengurus dan anggota Kelompok-kelompok pembibitan dapat ditingkatkan melalui berbagai cara antara lain pelatihan, workshop, seminar, desiminasi teknologi. Dalam suatu organisasi kelembagaan usaha pembibitan, diperlukan suatu struktur organisasi yang mengelola sistem produksi ternak yang meliputi ketersediaan input dan proses produksi. Ketersediaan input yang dimaksud adalah suatu prasyarat untuk melaksanakan sebelum melaksanakan proses produksi. Input yang diperlukan untuk usaha pembibitan ternak dalam suatu kawasan antara lain : lahan, bangunan (kandang, gudang pakan, pengolahan limbah, peralatan kandang, alat pengukuran produksi ternak, ketersediaan pakan dan obat hewan), dan ternak induk dan pejantan. Keberhasilan untuk menyediakan input akan sangat menentukan dalam keberhasilan proses produksi.

Pembinaan terhadap kelembagaan usaha pembibitan ternak meliputi penguatan kelembagaan, pembinaan teknis pembibitan dan koordinasi antar lembaga. Penguatan Kelembagaan Kelompok-kelompok pembibitan dimulai Peningkatan status kelembagaan peternak pembibit yang berbadan hukum melalui: Persiapan Petugas Dinas Kabupaten/Kota melakukan identifikasi terhadap Kelompok-kelompok pembibitan yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi koperasi sesuai dengan persyaratan, Kelompok-kelompok pembibitan yang memenuhi syarat diajukan oleh Kepala dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan di tingkat Kabupaten/Kota, dilakukan verifikasi dan validasi kelayakan Kelompok-kelompok pembibitan yang diusulkan oleh dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan di tingkat kabupaten/kota bekerjasama dengan dinas/kantor yang menangani koperasi di kabupaten/kota, Kepala dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan di tingkat Kabupaten/Kota dan kepala dinas/kantor yang menangani koperasi di kabupaten/kota menyepakati Kelompok-kelompok pembibitan yang siap untuk difasilitasi untuk membentuk koperasi, Sosialisasi oleh petugas dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan tentang manfaat dan tata cara pembentukan koperasi yang dilakukan pada pertemuan berkala POKBIT untuk memberikan wawasan tentang koperasi. Kegiatan sosialisasi ini sebaiknya dengan menyertakan petugas dari dinas yang membidangi fungsi koperasi, musyawarah Kelompok-kelompok pembibitan untuk menyepakati pembentukan koperasi, pada pertemuan ini sebaiknya dihadiri oleh petugas dari dinas/kantor yang menangani koperasi agar selanjutnya Kelompok-kelompok pembibitan tersebut mendapat fasilitasi dalam mempersiapkan kelengkapan untuk membentuk koperasi, fasilitasi berupa pendampingan oleh petugas dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan bersama dengan dinas yang membidangi fungsi koperasi. Adapun materi fasilitasi antara lain meliputi a) persyaratan dan proses pembentukan koperasi; b) struktur, tugas, tanggung jawab dan fungsi kepengurusan koperasi; c) penyiapan dokumen-dokumen kelengkapan pembentukan koperasi. Pendampingan oleh petugas dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan dilakukan sebagai bagian dari kunjungan petugas ke Kelompok-kelompok pembibitan sesuai dengan jadwal yang disepakati bersama Kelompok-kelompok pembibitan;

Pembentukan koperasi dilakukan dengan cara bentuk kelembagaan koperasi beserta namanya disepakati, maka dilakukan pendirian koperasi dengan pembuatan Akta Pendirian Koperasi yang dibuat oleh Notaris yang terdaftar pada dinas/kantor yang menangani koperasi. Apabila akta pendirian telah diterbitkan, maka koperasi tersebut harus memperoleh pengesahan sebagai badan hukum, dan apabila lingkup wilayah kerja koperasi di kabupaten/kota maka pengesahan badan hukum dapat diperoleh dari dinas/kantor yang menangani koperasi di kabupaten/kota.

Peningkatan prasarana dan sarana Standar minimal prasarana dan sarana pendukung yang harus dimiliki dapat berupa sekretariat kelompok, alat ukur produksi dan reproduksi, alat pencatat dan penyimpan data, system perkandangan yang terintegrasi, ketersediaan pagar sesuai dengan pola pemeliharaan, dan ketersediaan air, alat pengolahan pakan dan produk samping, akses jalan ke pasar, RPH/RPU, sehingga sarana prasarana yang tersedia dapat mendukung proses produksi dan peningkatan hasil dari usaha perbibitan.

Penguatan Kelembagaan Kelompok-kelompok pembibitan yang kuat dan mandiri, meliputi kegiatan adanya pertemuan atau rapat anggota yang diselenggarakan secara berkala dan berkesinambungan, disusunnya rencana kerja kelompok secara bersama dan dilaksanakan oleh para anggota yang disusun sesuai kesepakatan bersama dan setiap akhir pelaksanaan dilakukan evaluasi secara partisipasi, memiliki aturan atau norma yang disepakati bersama, memiliki pencatatan atau pengadministrasian organisasi yang rapih, mengembangkan pemupukan modal usaha baik iuran dari anggota atau penyisihan hasil usaha kegiatan kelompok, membantu memperlancar proses dalam mengidentifikasi kebutuhan dan masalah serta menyusun rencana dan memecahkan masalah yang dihadapi dalam usaha pembibitan, meningkatkan kemampuan kelompok-kelompok pembibitan dalam menjalankan fungsi kelas belajar, wahana kerjasama dan sebagai unit produksi.

Pengembangan Kelompok-kelompok pembibitan diperuntukan meningkatkan kompetensi anggota Kelompok-kelompok pembibitan dalam menganalisis potensi usaha masing-masing anggota untuk dijadikan satu unit usaha pembibitan yang menjamin permintaan pasar baik dari kuantitas, kualitas dan kontinuitas. Penguatan kapasitas manajerial usaha kelembagaan ekonomi petani melalui fasilitasi BUPMP dalam penyusunan perencanaan usaha (business plan) yang rasional sebagai upaya untuk meningkatkan ketersediaan ternak yang siap untuk dipasarkan secara berkelanjutan termasuk adanya perencanaan untuk menjangkau pasar dengan berbagai strategi, pengembangan/diversifikasi produk, sebagai salah satu ciri berkembangnya kegiatan usaha melalui penyusunan rancangan diversifikasi usaha, perencanaan ketersediaan dan pemasaran sebagai upaya untuk meningkatkan ketersediaan ternak yang siap untuk dipasarkan secara berkelanjutan termasuk adanya perencanaan untuk menjangkau pasar dengan berbagai strategi, keuangan, akuntansi dan perpajakan melalui peningkatan kemampuan mengelola keuangan dengan sistem akuntansi yang tertib. Bagi kelembagaan ekonomi petani yang telah terdaftar sebagai wajib pajak diperlukan adanya kemampuan untuk menghitung pajak sebagai bagian dari kewajiban suatu kelembagaan usaha. Pengembangan jejaring dan kemitraan antara lain melalui kerjasama kemitraan antar kelompok, perusahaan peternakan dan/atau perusahaan di bidang lainnya. Pencarian peluang pasar dilakukan melalui analisa harga, pendapat konsumen, strategi pesaing serta pencarian pasar baru sebagai bagian dari pengembangan usaha. Pengembangan pelayanan informasi agribisnis melalui permagangan dan pelatihan.

Koordinasi lintas sektor sangat dibutuhkan dalam pengembangan kelembagaan, baik dengan Penyuluhan, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), Perguruan Tinggi, Dinas Koperasi dan UKM. Dalam pelaksanaan kegiatan kelembagaan usaha pembibitan ternak, tugas memfasilitasi kegiatan inventarisasi kelompok-kelompok perbibitan yang telah ditetapkan oleh dinas kabupaten, selanjutnya berkoodinasi dengan Dinas yang membidangi fungsi koperasi dan UKM dan Biro Hukum Setda provinsi NTB menuju berbadan hukum, Pembinaan manajemen kelembagaan berkoodinasi dengan penyuluh dan manajemen teknis pembibitan berkoodinasi dengan BPTP dan Perguruan Tinggi, Dinas memfasilitasi pengembangan usaha berkoordinasi dengan Dinas yang membidangi fungsi promosi dan pemasaran, melaksanakan monitoring dan evaluasi. Selain berkoordinasi dengan Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian/atau yang membidangi penyuluhan di tingkat kabupaten/kota, juga diharapkan untuk melakukan identifikasi dan menetapkan calon kelompok perbibitan, elakukan kegiatan pembinaan menuju lembaga yang berbadan hukum sesuai rekomendasi dari Provinsi; melakukan pembinaan manajemen kelembagaan berkoodinasi dengan Bapeluh dan manajemen teknis pembibitan berkoodinasi dengan UPT Perbibitan Ternak, BPTP dan Perguruan Tinggi, memfasilitasi pengembangan usaha berkoordinasi dengan bagian promosi dan pemasaran; melakukan monitoring dan evaluasi berkelanjutan.

Sertifikasi produk ternak bibit berkualitas
Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah spesifikasi teknis atau sesuatu yang dibakukan, termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak teknis yang terkait dengan memperhatikan syarat-syarat keselamatan, keamanan kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengalaman, perkembangan masa kini dan masa yang akan datang untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya yang ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional dan berlaku secara nasional. Sertifikat adalah jaminan tertulis yang diberikan oleh Lembaga sertifikasi, Lembaga Personil, Lembaga Inspeksi Mutu Pertanian, dan Laboratorium Pengujian Mutu Produk yang telah diakreditasi atau yang ditunjuk oleh Menteri Pertanian yang menyatakan bahwa barang, jasa, proses, sistem atau personil telah memenuhi standar persyaratan. Sertifikasi adalah serangkaian kegiatan pemberian sertifikat terhadap barang, jasa, proses, sistem, atau personil. Surat Keterangan Layak Bibit (SKLB) adalah surat yang menerangkan kesesuaian ternak terhadap standar (SNI/PTM/Standar Daerah) untuk rumpun/galur ternak yang sudah ditetapkan atau dilepas.

Kelompok-kelompok pembibitan secara aktif berkoordinasi dengan dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan untuk proses penerbitan Surat Keterangan Layak Bibit (SKLB) dan Sertifikat Layak Bibit setelah memenuhi syarat-syarat teknis good manajemen practise. Upaya yang dilaksanakan dengan melakukan pengukuran performans ternak berdasarkan standar (SNI/PTM/Standar Daerah), melakukan pembinaan penerapan GBP dan SMM, berkoordinasi dengan LSPro Benih dan Bibit Ternak untuk proses sertifikasi. Untuk mewujudkan penerapan sertifikat layak bibit dan penerbitan Surat Keterangan Layak Bibit, salah satu syarat utama dari kesiapan SDM perbibitan adalah adanya tenaga fungsional perbibitan pada masing-masing daerah, terutama ditingkat provinsi, selain untuk memetakan data potensi ternak bibit yang berkualitas, data petugas recording, penerapan dan hasil recording dari masing-masing kelompok, penetapan kriteria-kriteria teknis yang dibutuhkan dalam penetapan ternak layak bibit. Penerapan sertifikat layak bibit dan surat keterangan layak bibit sangat menguntungkan bagi kelompok-kelompok perbibitan didaerah ini apabila mekanisme dan pola pelaksanaan usaha perbibitan sudah dilaksanakan dengan baik, persyaratan sdm perbibitan sudah terpenuhi dan kemudian adanya regulasi harga yang lebih kuat melalui surat keputusan gubernur.

Asosiasi Pelaku Usaha
Manajemen pemasaran adalah kegiatan yang direncanakan, dan diorganisasikan yang meliputi promosi, distribusi bibit ternak, angkutan bibit ternak dan penetapan harga serta pengawasan terhadap lalu lintas bibit ternak yang diperdagangkan atau dijual belikan baik secara domestic, regional maupun dalam kawasan yang lebih besar. Adapun faktor-faktor yang diperhatikan dalam pemasaran meliputi bibit ternak yang dihasilkan harus sesuai dengan standar dan memiliki surat keterangan layak bibit dan/atau bersertifikat, tersedia dalam jumlah yang cukup dan dapat diproduksi secara berkesinambungan, sehingga dapat dipasarkan sesuai dengan harga pasar. Harga bibit ternak ditetapkan sesuai dengan nilai mutu genetik ternak dan biaya produksi yang diperlukan. Promosi usaha pembibitan ternak dapat dilakukan melalui: (1) brosur, pamflet yang berisi tampilan foto jenis bibit; (2) jejaring sosial seperti media audio, blog ataupun website; (3) CD, talk show, seminar dan worshop ; (4) pameran hasil, dan lain sebagainya. Pemasaran ternak bibit di daerah ini selama ini tidak ada kendala yang memberatkan baik selaku pihak kedua (rekanan pengadaan) maupun daerah konsumtif, namun permasalahan ditingkat peternak yang sering menjadi penentu, kenapa standar ternak bibit tidak dapat terpenuhi ataupun profit dari usaha perbibitan ditingkat kelompok masih rendah, karena seringkali para peternak sering dihadapkan dengan keterbatasan financial ketika musim sekolah tiba, maulid, menjelang hari lebaran, dan hari-hari besar keagamaan lainnya sehingga asset ternak menjadi andalan untuk diperjualbelikan, baik itu ternak bibit, induk dan calon bibit. Inilah salah satu penyebab usaha perbibitan di daerah ini masih stagnan, disamping kesiapan sdm perbibitan yang masih minim. Oleh karena itu, diperlukan peranserta dan kontribusi yang sangat besar dari asosiasi-asosiasi perbibitan dalam memberdayakan dan memfasilitasi kelompok-kelompok perbibitan secara terus menerus.

Untuk memudahkan pembinaan dalam wadah asosiasi, kelompok perbibitan yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan dan kesamaan kondisi sosial, ekonomi, sumber daya, dan tempat dalam meningkatkan dan mengembangkan kapasitasnya secara profesional untuk menghasilkan dan memasarkan ternak bibit bersertifikat, perlu wadah berusaha yang lebih baik. Pada prinsipnya, asosiasi merupakan sekumpulan orang/pelaku usaha dari suatu wadah usaha/ jaringan atau relasi sosial yang melibatkan orang-orang tertentu, memiliki tujuan tertentu, memiliki aturan dan norma, serta memiliki struktur. Asosiasi pembibitan adalah sekumpulan orang/pelaku dari jaringan relasi sosial dan ekonomi yang melibatkan peternak dengan usaha pembibitan ternak, dengan tujuan utama menghasilkan ternak bibit berkualitas, memiliki aturan dan norma, serta memiliki struktur. Namun permasalahan sekarang kenapa asosiasi perbibitan belum dapat bekerja secara maksimal dalam mengembangkan usaha-usaha perbibitan, dan bagaimana peran pemerintah dalam mendukung kinerja para pelaku usaha dalam wadah asosiasi, perlukah adanya subsidi silang yang bisa meringankan tugas dan peran asosiasi, sehingga daerah ini menjadi contoh yang baik dalam mengembangkan usaha perbibitan yang kokoh dan berkelanjutan, dimana semua komponen memiliki peran dan kontribusi yang nyata termasuk asosiasi perbibitan.

Rencana aksi asosiasi kelompok perbibitan, selain memotret kelompok-kelompok perbibitan secara menyeluruh, untuk dilakukan pembinaan penguatan kelembagaan baik dari aspek financial, kepemilikan asset dan dasar hukum pengelolaan usaha. Disamping itu, asosiasi kelompok perbibitan secara tidak langsung memberikan pendampingan terhadap kelompok-kelompok pembibitan berdasarkan kriteria tertentu. Penetapan kelompok-kelompok pembibitan sebagai anggota asosiasi, ditetapkan oleh Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi. Adapun struktur keanggotaan Asosiasi Kelompok Perbibitan Daerah, untuk tim pendamping dan penasehat terdiri dari unsur dinas teknis, Akademisi, penyuluh, BPTP, sedangkan untuk pelaksana lapangan terdiri atas lembaga Pepehani, pelaku Usaha perbibitan baik yang bergerak disektor hulu hingga hilir, dan penyerta modal. Asosiasi Kelompok Perbibitan daerah bisa memberikan rekomendasi dalam melakukan pendampingan dan edukasi terhadap kelompok perbibitan dari beberapa aspek yaitu manajemen organisasi, manajemen perbibitan, sarana pengelolaan dan sarana pendukung. Hasil pendampingan dan edukasi terhadap kelompok-kelompok perbibitan oleh asosiasi dapat disampaikan kepada Kepala Dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan di kabupaten sebagai dasar usulan kepada Bupati untuk pembinaan lebih lanjut yang dilakukan oleh SKPD teknis, kemudian secara berjenjang Dinas Kabupaten dapat melaporkan perkembangan kelompok-kelompok perbibitan melalui Dinas Provinsi yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan, sehingga perkembangan kelompok-kelompok perbibitan sebagai anggota asosiasi setiap tahun akan mengalami perubahan yang signifikan, baik dari segmen teknis budidaya, pengelolaan usaha perbibitan maupun rancangan pemasarannya.

Pemantauan dan evaluasi dilakukan secara bersama baik oleh tim teknis kabupaten, penyuluh, dan tim teknis provinsi secara berkala dan berkelanjutan. Hal ini untuk mengevaluasi perkembangan usaha perbibitan dan penguatan kelembagaan usaha kelompok sebagai anggota asosiasi perbibitan berbadan hokum, mengatur strategi pemasaran ternak bibit dan tataniaga ternak bibit antara kelompok-kelompok perbibitan, mengidentifikasi masalahan-masalahan yang menghambat kemajuan anggota kelompok asosiasi perbibitan, sehingga solusi atas penyelesaian permasalahan tersebut dapat diselesaian bersama-sama. Selanjutnya, pelaporan dapat dilakukan secara berkala dan berjenjang baik oleh asosiasi kelompok perbibitan secara langsung/verbal pada acara-acara resmi, seperti pertemuan/rapat maupun secara tertulis, sehingga skpd teknis memahami bahwa pembinaan dan pendampingan secara berkelanjutan dan kontinyu sangat dibutuhkan oleh kelompok. Oleh karena itu, untuk mewujudkan kelompok-kelompok usaha perbibitan yang tangguh dan kokoh terutama dalam meningkatkan kualitas ternak bibit dan ternak potong, selain kesiapan sumberdaya genetik, peningkatan produksi dan kualitas pakan, dukungan penyediaan sarana prasarana yang memadai, pemantapan kapasitas dan kelembagaan kelompok, juga tidak kalah penting menyiapkan sdm yang berkualitas, baik pelaku usaha perbibitan secara langsung, maupun sdm dalam menyiapkan regulasi-regulasi yang mendukung terhadap pengembangan usaha perbibitan di daerah, serta menginspirasi peranserta asosiasi-asosiasi kelompok usaha perbibitan secara simultan dan berkelanjutan. Semoga tulisan ini bisa menjadi pionir bagi pengembangan perbibitan di daerah ini, pemenuhan kebutuhan ternak bibit daerah lain sebagai konsekwensi sumber ternak bibit bukan berarti daerah kita kehilangan potensi ‘emas’ dan tak bisa dipungkiri bahwa pembangunan yang berkelanjutan, tentu tidak akan lepas dari sumberdaya yang dimiliki, ternak, peternak dan peternakan adalah kekayaan daerah kita yang sebenarnya, tumbuh dan berkembang selamanya, tidak akan lekang oleh waktu dan tidak akan meninggalkan sejarah pahit masa silam bagi anak cucu kita…. Amiiin.