Peternakan dan Pilkada NTB

Oleh : Muhammad Yani, S.Pt.,  M.Si.

Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu terdapat pelajaran yang penting bagi kamu. Kami memberi minum kamu dari air susu yang ada di dalam perutnya,dan (juga) pada binatang itu terdapat manfaat yang banyak untuk kamu, dan sebagian dari padanya kamu makan“. (QS. Al Mukminun: 21)

        Allah SWT telah menciptakan beraneka macam hewan ternak dan beragam produk ternak yang sangat bermanfaat bagi manusia. Jika kita perhatikan makna yang tersirat dalam kutipan surat Al Mukminuun ayat 21 dapat dilihat betapa pentingnya peran hewan ternak dalam kehidupan manusia. Betapa tidak, produk utama ternak (susu, daging, telur) merupakan bahan pangan hewani yang memiliki gizi tinggi dan dibutuhkan manusia untuk hidup sehat, cerdas, kreatif dan produktif. Selain itu, ternak merupakan sumber pendapatan, sebagai tabungan hidup (tabungan untuk membiaya sekolah dan untuk naik haji), ternak juga bermanfaat dalam ritual keagamaan, seperti dalam pelaksanaan ibadah qurban.

Peran penting sektor peternakan ini merupakan salah satu hal yang sangat dilirik dalam setiap perhelatan pemilihan peminpin daerah baik ditingkat pusat maupun daerah untuk dijadikan bahan mempromosikan diri para calon kepala daerah dalam mendapatkan simpati rakyat.

Peternakan merupakan sektor pembangunan yang tidak boleh kita lupakan dalam pengembangan suatu wilayah. Peternakan memegang peranan penting dalam menyediakan protein hewani untuk meningkatkan kualitas konsumsi pangan masyarakat. Dengan meningkatnya kualitas konsumsi akan diikuti oleh peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Selain itu, selama ini peternakan telah terbukti mampu menjadi penyedia lapangan kerja dan dapat meningkatan pendapatan/ekonomi masyarakat. Untuk mewujudkan dan meningkatkan peran peternakan, sangat dibutuhkan pemimpin yang memiliki perhatian, pemahaman yang lebih, serta visi misi yang jelas dan terukur tentang arah dan program pengembangan sektor peternakan.

Sebagai mana kita ketahui bahwa NTB secara nasional berperan strategis sebagai daerah sumber bibit dan ternak potong nasional. Kontribusi NTB dalam penyediaan sapi bibit rata-rata 12 ribu ekor pertahun untuk 18 provinsi se Indonesia. Secara historis NTB merupakan daerah pengekspor sapi dan kerbau ke Hongkong dan Singapura, hanya saja sejak tahun 1978 kegiatan eksport tersebut terhenti karena adanya kebijakan nasional untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri.

Kenapa Sektor Peternakan perlu mendapat perhatian para Calon Pemimpin Daerah yang akan bertarung memperebutkan kursi nomor satu di masing-masing Kabupaten/Kota di NTB, untuk diketahui oleh para Calon Pilkada bahwa Ternak sapi/kerbau merupaka modal sosial yang secara turun temurun sudah dipelihara, melekat dan dekat dimasyarakat NTB, kondisi daerah NTB secara geografi cocok untuk pengembangan ternak Sapi/Kerbau, Daya dukung sumber daya alam tersedia cukup untuk pengembangan peternakan, Daerah yang bebas dari penyakit hewan menular strategis (Brucellosis, SE, Anthrax,dll), Tempat pemurnian sapi bali nasional, Pusat pengembangan Sapi Sumbawa dan Populasi Sapi NTB merupakan populasi 8 besar terbanyak secara nasional.

Sumber daya alam di NTB sangat mendukung untuk pengembangan peternakan khususnya ternak sapi. Berdasarkan sumber daya alam diperkirakan dapat menampung ternak sekitar 2 juta ekor atau setara dengan 1,5 juta satuan ternak. Daya tampung ternak tersebut diperhitungkan dari potensi pakan ternak yang dapat dihasilkan dari beragai sumber pakan. Untuk wilayah Pulau Lombok diperkirakan mampu menampung ternak sebanyak 444.424,50 Satuan ternak sedangkan wilayah pulau sumbawa diperkirakan dapat menampung ternak 925.833 Satuan Ternak. Sedangkan rumah tangga pemelihara ternak di NTB sangat besar yaitu 644.694 atau sekitar 23 persen dari total rumah tangga penduduk NTB.

Populasi ternak khususnya ternak sapi di NTB pada tahun 2008 mencapai 546.114 ekor dengan pertumbuhan rata-rata 6,47 persen setiap tahun, sehingga pada tahun 2014 populasi Sapi di NTB sudah melebihi 1 juta ekor. Berdasarkan wilayah penyebarannya, sebanyak 48 persen ternak sapi dipelihara di Pulau Lombok dan 52 persennya dipelihara di Pulau Sumbawa.

Usaha ternak sapi memiliki peluang pasar dan cenderung terus meningkat dari tahun ketahun baik untuk pemasaran lokal maupun pemasaran luar NTB, hal ini dapat dilihat dari permintaan sapi bibit dan sapi potong dalam kurun waktu 5 tahun terakhir (2010-2014) cukup besar. Untuk Sapi bibit tahun 2010 sebanyak 9.752 ekor meningkat menjadi 14.651 ekor pada tahun 2014 atau rata-rata kenaikan 18,06 persen pertahun, sedangkan sapi potong yaitu sebesar 36,92 persen pertahun, untuk tahun 2014 saja Transaksi perdagangan/pengeluaran ternak sapi dan kerbau sebesar ± Rp. 373 Milyard.

Pada dasarnya bila dilihat potensi sektor peternakan diatas, maka membangun peternakan hendaknya secara menyeluruh dan harus dilandasi dengan pemikiran untuk membangun masyarakt yang maju karena masyarakat yang maju merupakan cerminan adanya kecerdasan di dalamnya dan salah satu faktor penting untuk meningkatkan kecerdasan adalah produk peternakan. Dengan demikian, produk peternakan merupakan produk yang akan dibutuhkan secara abadi dan tingkat kebutuhannya akan selalu meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Fakta ini seyogyanya menjadi motivator kuat bagi Calon Kepala Daerah untuk mewujudkan kemandirian dalam memenuhi kebutuhan protein hewani bagi masyarakat di daerahnya.

Peran pemerintah sebagai institusi publik harus dapat mengayomi dan melayani masyarakat luas khususnya yang bergerak di sektor peternakan dalam rangka mewujudkan kemandirian masyarakatnya untuk menyediakan produk peternakan secara berkelanjutan dan mewujudkan kebersamaan semua komponen yang bergerak di sektor peternakan dalam rangka membangun industri peternakan yang tangguh. Peran ini akan sangat efektif apabila kinerja pemerintah dapat dibuktikan melalui kebijakan-kebijakan yang dihasilkannya. Pemerintah akan menjadi fasilitator yang baik dalam mewujudkan kemandirian dan kebersamaan apabila semua kebijakannya berpihak kepada kepentingan peternak khususnya dan kepentingan daerah pada umumnya. Demikian pula sebaliknya, dimana industri peternakan akan hancur apabila kebijakan yang ditelurkannya lebih dilandasi pada kepentingan kepentingan sesaat.

Untuk itu sebagai masyarakat peternakan, kita harus memilih pemimpin yang memiliki keperpihakan kepada peternakan sehingga peternakan tidak menjadi sektor yang terlupakan dalam pembangunan.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, pantas kita renungkan pepatah yang berbunyi “Negara yang kaya dengan ternak tidak akan pemah miskin, dan negara yang miskin dengan ternak tidak akan pernah kaya.” (Campbell dan Lasley, 1985).