Pertemuan Petugas Puskeswan Se NTB Media Komunikasi Praramedis Veteriner

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB, Ir. Hj. Budi Septiani berkesempatan untuk memberikan arahan dan penjelasan tentang pembangunan peternakan di provinsi NTB pada tahun-tahun mendatang, dihadapan peserta pertemuan petugas Puskeswan se NTB tanggal 20-21 Oktober 2015. Menurut Ir. Hj. Budi Septiani, Pengembangan sapi di NTB sangat potensil, prospektif dan menguntungkan, hal ini didukung populasi, budaya pelihara sapi di masyarakat, ketersediaan lahan dan pakan, kelembagaan kandang kolektif, permintaan pasar yang tinggi didalam dan luar daerah serta adanya kebijakan Pusat yang menetapkan NTB sebagai salah satu sumber ternak sapi bibit dan ternak potong Nasional. Salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian serius dalam pengembangan peternakan secara menyeluruh adalah aspek kesehatan hewan dan pelayanan kesehatan hewan itu sendiri.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan, drh. H. Ratmoko, MM, menegaskan bahwa kebijakan penanganan kesehatan hewan secara nasional mengalami perubahan paradigma dari penanganan penyakit hewan (Animal Diseases) menjadi penanganan kesehatan hewan secara menyeluruh (Animal Health) termasuk didalamnya kesehatan masyarakat veteriner. Demikian juga per kembangan penyebaran penyakit sangat pesat terutama penyakit hewan eksotik diakibatkan masuknya produk-produk bahan asal  ternak maupun pakan ternak dari Luar Negeri sehingga tidak dapat dihindari masuknya penyakit  baru (eksotik) di suatu wilayah. Untuk itu ada perubahan prioritas penanganan jumlah PHMS (Penyakit Hewan Menular Strategis) oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan c.q Direktorat Kesehatan Hewan  dari 12 (dua belas) jenis PHMS menjadi 23 (dua puluh tiga) jenis PHMS.

Kegiatan pencegahan dan pengendalian PHMS sangat penting dilaksanakan secara terpadu dan kontinyu, dimana Provinsi Nusa Tenggara Barat sebagai salah satu sumber bibit sapi bali nasional agar memberikan perhatian lebih terhadap penanganan beberapa penyakit zoonosis yang ada seperti penyakit Anthrax dan Brucellosis. Pada pertemuan petugas pukeswan ini yang telah dilaksanakan pada tanggal 20-21 Oktober 2015, diharapkan dapat memberikan motivasi, pencerahan, dan penyegaran bagi petugas paramedic dilapangan dalam membantu memberikan pelayanan kesehatan hewan sebagai bagian dari tugas dalam mempertahankan dan mengendalikan kasus kejadian penyakit yang mempunyai nilai ekonomis strategis dan dapat mempengaruhi kesejahteraan masyarakat.

Adapun maksud dari pelaksanaan Pertemuan Petugas Puskeswan se Prov NTB adalah Meningkatkan kapasitas paramedis dalam melaksanakan pelayanan kesehatan hewan terutama membantu tenaga medik veteriner dalam menyikapi terhadap kejadian penyakit hewan menular strategis (PHMS) secara dini. Sedangkan tujuannya adalah :

  1. Meningkatkan koordinasi dan komunikasi dalam pelayanan kesehatan hewan dimasing-masing wilayah maupun antar wilayah dalam daerah;
  2. Menyamakan persepsi tentang program dan kegiatan prioritas dalam pencegahan PHMS di NTB secara berkelanjutan.
  3. Mengidentifikasi segala permasalahan dan kendala-kendala yang ada dalam penanganan PHMS di tingkat lapangan dan menyiapkan beberapa alternative yang bisa dilaksanakan sebagai upaya penyelesaiannya.
  4. Memotivasi dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas lapang (Paramedis) dalam penanganan PHMS secara berkesinambungan.

Sasaran dari pelaksanaan pertemuan petugas paramedis se NTB adalah Petugas paramedis, baik yang ada ditingkat provinsi maupun petugas yang menangani fungsi keswan dan petugas lapang (Puskeswan/Resort/Ka UPTD kecamatan) masing-masing kabupaten/kota se NTB. Pertemuan petugas Puskeswan se Prov. NTB disampaikan beberapa materi, diantaranya penerapan Manajemen teknis pelayanan kesehatan hewan dalam meningkatkan produksi dan produktifitas ternak oleh Prof. drh. Adji Santoso Drajad, MPhil., PhD. Pada kesempatan tersebut, professor bidang veteriner ini mengingatkan akan pentingnya pelayanan kesehatan hewan secara optimal dalam meningkatkan produksi dan produktifitas ternak.

Pertemuan petugas Puskeswan se Prov. NTB dilaksanakan di Aula Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB selama 2 hari, tanggal 20 – 21 Oktober 2015, dengan hasil kegiatan, yaitu :

1)Pertemuan petugas Puskeswan se Prov. NTB dihadiri oleh petugas paramedic sebanyak 30 orang dari masing-masing puskeswan kab/kota se NTB;

2)Persoalan yang dihadapi oleh paramedic di lapangan dalam memberikan pelayanan kesehatan hewan selalu terkait dengan masih rendahnya kapasitas kelembagaan puskeswan dan sarana prasarana pendukung;

3)Kebijakan pemerintah daerah dalam menggabungkan fungsi-fungsi teknis, pada dasarnya sedikit mengganggu kelancaran pelaksanaan tugas termasuk pelayanan kesehatan hewan;

4) Kendaraan roda 2 (dua) menjadi sarana yang sangat dibutuhkan oleh tenaga paramedic dalam membantu tugas pelayanan kesehatan hewan, geograsif daerah, keberadaan puskeswan sebagai garda terdepan dalam menanganan kesehatan hewan;

5)Disamping julmlah puskeswan yang belum tersedia di semua kecamatan se NTB, ketersediaan tenaga medis veteriner masih sangat terbatas, sehingga pelayanan kesehatan sedikit terganggu, karena paramedic harus berkoordinasi kembali dengan tenaga medis ditingkat kabupaten/kota;

6)Sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan hewan, kelembagaan puskeswan perlu dilakukan revitalisasi secara menyuruh;

7)Peningkatan kapasitas paramedic perlu terus dilakukan secara berkelanjutan, terutama yang terkait dengan kegiatan rutin paramedic seperti pengambilan sampling, pelayanan/praktek ringan, dsb.

Dari hasil kegiatan pertemuan petugas puskeswan tersebut diatas, dapat ditarik beberepa kesimpulan, yaitu :

1) Kegiatan pertemuan/pelatihan sangat diperlukan dalam meningkatkan kapasitas paramedis secara berkala sesuai dengan tugas dan fungsinya;

2)Peningkatan kapasitas kelembagaan melalui peningkatan sarana prasarana ataupun fasilitas pendukung pelayanan kesehatan hewan sangat diperlukan dalam  memantapkan dan mensukseskan pelayanan kesehatan hewan;

3) Penempatan petugas medis veteriner dan paramedis pada masing-masing puskeswan akan sangat membantu kelancaran pelayanan kesehatan hewan secara cepat dan tepat.

Program pencegahan dan penanggulangan penyakit ternak merupakan upaya nyata dalam meningkatkan kewaspadaan dini terhadap kejadian kasus penyakit hewan menular strategis sebagaimana tertuang dalam Rencana Strategik Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2013-2018. Pembebasan PHMS merupakan kebulatan tekad dan ikhtiar dalam mengemban tugas pembangunan peternakan di daerah NTB khususnya pelayanan bidang kesehatan hewan. Oleh karena itu, penguatan dan peningkatan kapasitas kelembagaan puskeswan sebagai pilar utama menjadi satu keharusan dalam memantapkan pelayanan kesehatan hewan. Rencana ini akan dapat dilaksanakan dengan baik apabila semua pihak berpartisipasi aktif dan proaktif menjalin koordinasi yang lebih intensif, membangun kerjasama yang harmonis antar pelaku pembangunan peternakan di semua tingkatan serta terlaksananya pemerintahan yang baik (Good governance).