PERAN KELOMPOK PADA “KAMPUNG UNGGAS” DESA TERUWAI

Oleh : Fermi Febriana dan Sasongko Wijoseno Rusdianto

Kampung Unggas di Desa Teruwai
Desa Teruwai, salah satu desa di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Di Desa Teruwai inilah dicanangkan Program “Kampung Unggas” oleh Pemerintah Daerah Provinsi NTB pada tahun 2014. Program ini pada awalnya untuk mengendalikan inflasi pada komoditi telur dan daging unggas, selain itu sebagai terobosan dalam rangka menurunkan angka kemiskinan di wilayah pedesaan. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB menentukan daerah-daerah yang tepat menjadi “Kampung Unggas” yang diutamakan adalah pada kelompok-kelompok yang melakukan usaha ternak ayam namun belum mengarah pada sistem usaha yang komersil, sehingga produksi rendah dan tidak mampu untuk menyediakan kebutuhan pasar (Yanes, 2016).

Populasi ayam buras (ayam lokal) di Nusa Tenggara Barat tahun 2014 berjumlah sekitar 6.420.731 ekor yang tersebar pada seluruh wilayah. Populasi ayam buras terbesar terdapat di Kabupaten Lombok Tengah sebesar 2.491.520 ekor atau sekitar 38,8 persen (BPS, 2015). Pemerintah daerah menjadikan ayam lokal sebagai komoditi unggulan yang dikembangkan di wilayah ini. Populasi yang besar menggambarkan bahwa wilayah tersebut memiliki lingkungan alam, lingkungan sosial masyarakat yang berprotensi mendukung komoditi ternak ayam buras (Rusdianto dan Muzani, 2016).

Sejak tahun 2014 Kampung Unggas menjadi binaan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Ayam yang dikembangkan di Kampung Unggas dengan jenis unggas utamanya rumpun ayam Arab sebagai penghasil petelur dan pedaging. Usaha ternak unggas yang selama ini sebagai usaha sampingan, diharapkan dapat menjadi usaha utama masyarakat peternak yang beorientasi bisnis (ROS, 2016). Peningkatan pendapatan dan kesejahteraan melalui ternak unggas menjadi dambaan para peternak, terlebih di NTB telah terkenal dengan kuliner ayam taliwang.

Kelompok Peternak
Bupati Lombok Tengah mempunyai kepedulian khusus terhadap kampung unggas, hal ini dinyatakan dengan bantuan ayam arab yang diserahkannya secara langsung kepada kelompok Tuijati dan kelompok Muamalat. Kedua kelompok tersebut merupakan kelompok yang sudah berpengalaman dalam pengembangan ayam, baik ayam broiler maupun ayam kampung. Kelompok peternak ayam kampung pada Kampung Unggas di Desa Teruwai yang mendapat binaan adalah sebanyak 3 kelompok masing-masing beranggotakan 15 orang. Jumlah keseluruhan kelompok peternak ayam buras di desa Teruwai sebanyak 17 kelompok.

Kelompok peternak mempunyai peran penting dalam penyediaan ayam umur satu hari atau Day Old Chick (DOC) melalui penetasan yang dilakukan dan dikelola oleh kelompok. Penetasan kelompok dilakukan untuk menjamin ketersediaan DOC, maka penetasan dilakukan dengan memanfaatkan telur tetas dari dalam dan luar kelompok bahkan dari luar Desa Teruwai. Upaya inipun hanya mampu memenuhi kebutuhan anggota sekitar 50 persen dan kekurangan DOC didatangkan dari luar daerah yang tentunya ada biaya tambahan untuk transportasi. Kebutuhan DOC untuk wilayah NTB relatif tinggi dari data masuknya DOC ke wilayah NTB tahun 2016 rata-rata sekitar 900 ribu per bulan laporan Balai Karantina Pertanian Kelas I Mataram. Belum lagi DOC yang diproduksi di wilayah NTB. Produksi daging ayam buras tahun 2015 sebesar 15 ribu ton (DisnakNTB, 2015). Selain dalam penyediaan DOC, kelompok juga berperan dalam pemasaran, informasi dan lainnya, seberapa besar peranan tersebut tergambar dalam tabel berikut ini.

Peran kelompok peternak ayam terhadap sistem produksi dan pemasaran ayam.
1. DOC disediakan kelompok dengan presentase 53
2. Waktu pembelian DOC diatur oleh kelompok dengan presentase 30
3. Pemasaran difasilitasi kelompok dengan presentase 63
4. Penjualan ayam siap potong diatur oleh kelompok dengan presentase 40
5. Transportasi penjualan ayam siap potong difasilitasi kelompok dengan presentase 23
6. Informasi harga ayam disampaikan oleh kelompok kepada anggota dengan presentase 83
Sumber (Rusdianto dan Muzani 2016).

Anggota kelompok memeliharan ayam untuk pembesaran dengan jumlah 100 – 500 ekor per periode produksi dengan waktu produksi 45 hari (Rusdianto dan Muzani, 2016). Jika rata-rata kelompok peternak ayam beranggota 15 orang dengan masing-masing memelihara rata-rata 200 ekor per periode pemeliharaan (45 hari) maka produksi ayam per kelompok berjumlah 3000 ekor.

Pemasaran ayam tidak seluruhnya melalui kelompok, ada beberapa anggota yang telah memiliki mitra sendiri dan sebagian lainnya melakukan penjualan ayam langsung ke pasar dengan risiko ayam tidak laku terjual. Dalam penjualan ayam siap potong terdapat beberapa cara, yaitu peternak menjual hasil melalui kelompok, ini umumnya dilakukan oleh peternak yang mendapatkan DOC dari kelompok. Kelompok hanya memfasilitasi pemasaran sebanyak 63 persen dari total jumlah anggotanya (Tabel 1). Anggota kelompok sebanyak 40 persen dari total anggota menyerahkan sistem manajemen usahanya pada kelompok maka kelompok juga berperan dalam mengatur waktu produksi termasuk waktu penjualan hasil produksi.

Cara lainnya yaitu anggota kelompok menjual langsung pada pedagang pengepul yang datang langsung ke kandang. Pembeli yang merupakan pedagang pengepul biasanya datang langsung ke kandang dan cara ini lebih disukai oleh peternak karena peternak tidak terbebani biaya transportasi. Bila peternak harus menjual ke pasar maka peternak harus menyiapkan alat angkut dan transportasi serta ada kemungkinan ayam tidak laku terjual. Kegagalan penjualan salah satu penyebabnya adalah harga pasar yang tidak sesuai dengan yang diharapkan peternak, biasanya peternak menunda penjualan ayam. Mengingat hal tersebut, informasi harga menjadi penting bagi peternak, dan pengurus kelompok mempunyai peranan yang cukup besar dalam penyampaian informasi tersebut (63 persen), informasi lain diperoleh dari sesama peternak dan sebagain kecil diperoleh langsung dari pasar. Harga penjualan ayam umumnya telah disepakati oleh kelompok, meskipun demikian kadang tergantung pada permintaan pasar dan suplai pasar. Melihat kondisi tersebut, untuk meningkatkan posisi tawar peternak, pemasaran dilakukan melalui kelompok dan/ atau melakukan kontrak kemitraan dengan pedagang pengumpul untuk mendukung pemasaran ayam potong dan telur.

Pencanangan Kampung Unggas di Desa Teruwai merupakan bukti nyata kepedulian pemerintah daerah untuk mengembangkan unggas lokal dan kesejahteraan bagi peternaknya. Hal ini tentunya diperlukan keterpaduan dari pihak-pihak terkait untuk melakukan pembinaan sehingga “Kampung Unggas” Desa Teruwai dapat menjadi model dalam pengembangan ayam lokal untuk meningkatkan peran kelompok sekaligus pemberdayaan kelompok peternak ayam. Semoga ayam lokal ke depan akan menjadi bisnis yang sangat menjanjikan dan mampu meningkatkan kesejahteraan peternak.

Daftar Pustaka :
BPS, 2015. NTB Dalam Angka. Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tengga Barat
Disnakeswan, 2014. Satistika Peternakan. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Nusa Tenggara Barat.
__________, 2015. Satistika Peternakan. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Rusdianto S dan Muzani A, 2016. Peran Kelompok Peternak pada Sistem Produksi dan Pemasaran Ternak Ayam. Studi kasus kelompok peternak “Kampung Unggas” di desa Teruwai, Kabupaten Lombok Tengah. Makalah di sampaikan pada Seminar Nasional di BPTP Klimantan Selatan.
ROS, 2016. Desa Teruwai Dicanangkan jadi Kampung Unggas. Diunduh 25 Mei 2016 pada https://lomboktoday.co.id/20141215/desa-Teruwai-dicanangkan-jadi-kampung-unggas.html.
Saptana dan Sartika T, 2014. Manajemen Rantai Pasok Komoditas Telur Ayam Kampung. Jurnal Manajemen & Agribisnis, Vol. 11 No. 1. Hal 1 – 11.
Yanes, 2016. NTB Kendalikan Inflasi dengan Kampung Unggas. Diunduh 20 Mei 2016 pada http://mataram.antaranews.com/berita/26559/ntb-kendalikan-inflasi-dengan-kampung-ternak-unggas.