MENGURAI KEMISKINAN DI NTB DENGAN MEMPERKUAT SEKTOR PETERNAKAN

Oleh: MUHAMMAD YANI,S.Pt., M.Si.

Kemiskinan masih merupakan persoalan yang melilit kehidupan masyarakat di NTB, karena secara nasional masih masuk 10 besar yang rakyatnya miskin. Jumlah penduduk miskin di Nusa Tenggara Barat pada Maret 2016 mencapai 804,44 ribu orang (16,48 persen), bertambah 2,15 ribu orang dibandingkan dengan penduduk miskin pada September 2015 yang sebesar 802,29 ribu  orang (16,54 persen).

Pada hakikatnya, kemiskinan merupakan persoalan klasik yang telah ada sepanjang sejarah manusia, dan mungkin akan tetap menjadi persoalan generasi masa kini dan mendatang. Kemiskinan merupakan masalah pembangunan di berbagai bidang yang ditandai dengan pengangguran, keterbelakangan, dan keterpurukan.  Masyarakat miskin kurang memiliki kemampuan berusaha dan akses yang terbatas terhadap kegiatan ekonomi produktif, pendidikan, dan kesehatan.  Mahatma Gandhi, mengemukakan, “Kemiskinan adalah kekerasan dalam bentuk yang paling buruk (Poverty is the worst form of violence)”. Selanjutnya, Amartya Sen, salah seorang pemenang hadiah Nobel dalam bidang ekonomi mengemukakan bahwa “orang jadi miskin karena mereka tidak bisa melakukan sesuatu, bukan karena tidak memiliki sesuatu”.

            Berdasarkan penyebabnya, kemiskinan dapat dibedakan menjadi kemiskinan alamiah (natural), kultural dan struktural. Kemiskinan alamiah adalah kemiskinan yang disebabkan faktor alamiah, seperti cacat, sakit, dan lanjut usia.  Sedangkan kemiskinan kultural disebabkan faktor budaya, seperti malas, tidak displin, kurang menghargai waktu, boros dan kurang memiliki rasa malu.  Sementara itu, kemiskinan struktural disebabkan faktor buatan manusia, seperti distribusi aset produktif yang tidak merata (distribusi lahan dan modal), kebijakan ekonomi yang bersifat diskriminatif (hanya menguntungkan segelintir orang, misalnya kaum konglomerat), korupsi dan kolusi baik di pusat maupun di daerah, serta tatanan perekonomian dunia yang cenderung menguntungkan kelompok tertentu (negara-negara maju).

Di NTB sendiri masalah kemiskinan masih menjadi masalah utama.Tingginya tingkat kemiskinan di NTB disebabkan oleh : Jumlah penduduk dan kualitas sumberdaya manusia yang masih rendah, Kondisi alam yang kurang mendukung, Terbatasnya lapangan kerja, Penguasaan ketrampilan dasar/pengantar kerja masih rendah, Terbatasnya sarana dan prasarana ekonomi masyarakat, Terbatasnya tenaga pendamping (motivator), Banyaknya rumah kumuh di seluruh kabupaten/kota dan Kemauan dan kemampuan untuk mandiri masih rendah, karena terbiasa menerima bantuan/subsidi. Mencermati hal tersebut, maka Pemerintah NTB harus bekerja keras agar dapat menekan angka kemiskinan yang masih tinggi tersebut.

Dalam visi-misinya Pemerintah Provinsi NTB 2013 – 2018 sebenarnya telah tertuang program-program unggulan khususnya dibidang ekonomi dan Rumpun Hijau yang mampu memberi solusi untuk mengentaskan kemiskinan di NTB. Tahun 2008 merupakan awal sector peternakan diharapakan berperan penting dalam mengurai angka kemiskinan di NTB dengan dicanankannya program NTB Bumi Sejuta Sapi (NTB BSS) pada tanggal 17 Desember 2008 bertepatan HUT Provinsi NTB yang ke 52.

Pencanangan NTB sebagai “Provinsi Bumi Sejuta Sapi”, didasarkan pada kenyataan bahwa selama ini NTB merupakan salah satu daerah pensuplai kebutuhan (daging) sapi untuk kebutuhan nasional. NTB BSS diharapkan menjadi lokomotif pengerak atau pengungkit sector ekonomi lainnya dalam upaya meningkatkan perekonomian, kesehatan, kecerdasan dan kesejahteraan masyarakat. Dengan mengutamakan pemberdayaan sumber daya local yang dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan pendapatan masyarakat pedesaan. Dimana di pedesaan merupakan daerah yang rakyatnya banyak yang miskin, padahal lahan untuk melakukan usaha, khususnya di bidang pertanian dan peternakan masih cukup luas dan belum digarap dengan baik.

Mengapa NTB menjadikan BSS sebagai salah satu program unggulan yang dapat menyelesaikan persoalan kemiskinan yang masih melilit masyarakt di NTB. Beternak sapi bagi masyarakat di NTB sudah tidak asing lagi bahkan oleh orang yang tidak berpendidikan pun, tau caranya memelihara sapi. Kenyataannya justru orang-orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal justru banyak memelihara sapi. Ini karenakan beternak sapi oleh masyarakat di NTB sudah dilakukan secara turun temurun. Beternak sapi merupakan sumber pendapatan, tabungan masyarakat untuk membiayai kebutuhan rumah tangga, pendidikan dan bahkan untuk biaya naik haji. Potensi dan kondisi alam yang cocok untuk memelihara sapi serta sumberdaya alam masih tersedia cukup besar dengan daya dukung lahan dan pakan.

Sementara secara nasional peran NTB BSS adalah sebagai penghasil ternak bibit dan ternak potong untuk 14 provinsi se Indonesia dengan jumlah ternak yang disediakan sekitar 15 ribu ekor/tahun serta sebagai pendukung utama program P2SDS dalam menyediakan ternak.

Sekarang yang menjadi pertanyaan besar kita apakah Program NTB BSS sudah dapat memberi kontribusi nyata terhadap berkurangnya masyarakat miskin ?, apakah dengan program NTB BSS sudah dapat memberi kesejahteraan pada masyarakat ?.

Memang kalau kita melihat program nyata yang telah dilakukan oleh pemerintah khususnya Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi maupun Kabupaten/ Kota se NTB sudah luar biasa yaitu dengan memberi bantuan sapi, kerbau, kambing dan unggas pada masyarakat dengan jumlah kelompok penerima bantuan terus bertambah dari tahun ke tahun, mencetak sarjana-sarjana membangun desa dan membangun sentra peternakan rakyat yang merupakan pilot project dari Kementerian Pertanian, melakukan sosialisasi dan pembinaan terhadap peternak yang dilakukan oleh para penyuluh tersebar disetiap desa, terkendalinya penyakit-penyakit hewan menular strategis, seperti bebasnya penyakit Brucellosis di Provinsi NTB, bebasnya Penyakit SE di Pulau Lombok dan terkendalinya penyakit Anthrax dan Avian Influenza/Flu Burung dan penyakit lainnya.

Secara tujuan program, hal tersebut diatas paling tidak telah memberikan kontribusi terhadap berkurangnnya masyarakt miskin, karena yang tadinya masyarakat belum mempunyai sapi menjadi memiliki sapi, tadinya sarjana-sarjana yang belum bekerja menjadi memiliki pekerjaan dan petani yang tadinya hanya bekerja sendiri – sendiri dan berusaha secara tradisional sekarang menjadi memiliki kelompok sebagai wadah dalam mendapatkan informasi dan menyampaikan permasalahan yang dihadapinya dalam melaksanakan usahanya. Begitu pula dengan bebasnya beberapa penyakit pada ternak menyebakan posis tawar harga ternak petani kita menjadi tinggi dan banyak diminati oleh daerah-daerah di luar Provinsi NTB yang menyebabkan pendapatan masyarakat meningkat.

Bila dilihat dari penyerapan tenaga kerja sub sector peternakan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 387.882 orang pada tahun 2015, Tingkat penyerapan ini didasarkan atas jumlah populasi ternak yang dibagi dengan skala pemeliharaan oleh masing-masing peternak. Sedangkan Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPN) menurut analisis BPS rata-rata NTP Peternakan Tahun 2014 sebesar 108.70,meningkat menjadi 114.85 tahun 2015 sedangkan tahun 2016 sampai pada semester I yaitu rata-rata NTP Peternakan sebesar 116.31. NTP Peternakan tersebut dimaknai sebagai penerimaan petani peternak dari sector usaha produksi yang dilakukan untuk membiayai seluruh kebutuhan berusaha pada sub sector peternakan dan konsumsi rumah tangga peternak.

Untuk lebih meningkatkan indicator keberhasilan usaha sub sector peternakan melalui program unggulannya maka telah dilakukan upaya melalui program dan kegiatan yang strategis sehingga mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal, regional bahkan nasional, yang pada akhirnya mampu mengurai kemiskinan yang masih cukup tinggi di NTB. Adapun program dan kegiatan tersebut adalah :

  1. Meningkatkan skala usaha budidaya dan kepemilikin ternak pada kelompok-kelompok yang telah berkembang kelembagaannya dari 2 ekor per orang menjadi 5-6 ekor perorang, sehingga skala usaha ini akan memiliki nilai ekonomis yang lebih besar dalam rangka meningkatkan pendapatan peternak.
  2. Melakukan pendampingan teknologi, baik teknologi pengolahan hasil peternakan (Daging, susu dan telur) maupun pengolahan pakan ternak awetan dalam memenuhi ketersediaan pakan pada saat musim kemarau dan kekurangan pakan hijauan.
  3. Melakukan usaha integrasi peternakan pada kelompok ternak perbibitan sapi potong dengan usaha budidaya unggas atau kambing yang berorientasi jangka pendek dan jangkah menengah.
  4. Melakukan upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit hewan menular strategis (PHMS) dalam meningkatkan brand image ternak yang ada dimasyarakat, sebab dengan bebasnya kasus penyakit ternak dalam suatu wilayah akan meningkatkan bargaining position ternak di NTB.
  5. Meningkatkan nilai tambah disektor hilir usaha peternakan dilakukan fasilitasi melalui bimbingan teknis dan penguatan modal serta alat-alat pengolahan (abon, dendeng dan hasil samping lainnya) sehingga akan meningkatkan nilai tambah dan peningkatan pendapatan masyarakat.
  6. Melakukan promosi dan sosialisasi dalam rangka meningkatkan akses masyarakat terhadap produk usaha peternakan.

Kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan mampu memberi kontribusi nyata kepada masyarakat perternak, sehingga gairah masyarakat untuk mengembankan peternakan semakin nyata, yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan dan tarap hidup mereka. Namun demikian kita tidak perlu berbangga dulu melihat program-program yang digelontorkan karena belum tentu program tersebut tepat sasaran, artinya bantuan-bantuan yang diberikan sudah sampai pada masyarakat yang betul-betul miskin, bahkan sebaliknya dikwatirkan bantuan-bantuan tersebut justru dihajatkan pada golongan/kelompok tertentu yang memiliki kedekatan pada para pejabat kita.
Semoga saja program-program yang selama ini didengung-dengungkan pemerintah dapat memberikan kontribusi nyata pada masyarakat terutama dalam mengentaskan kemiskinan yang saat ini cengkramannya masih melilit kehidupan masyarakat khususnya di NTB.