MENGENAL UPSUS SIWAB (UPAYA KHUSUS SAPI INDUK WAJIB BUNTING)

Oleh : Muhammad Yani,S.Pt, M.Si

Pembangunan sub-sektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan sektor pertanian, dimana sektor ini memiliki nilai strategis dalam memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat atas bertambahnya jumlah penduduk Indonensia, dan peningkatan rata-rata pendapatan penduduk Indonesia dan taraf hidup petani, peternak dan nelayan.
Pangan merupakan kebutuhan dasar utama manusia, untuk itu pangan harus tersedia secara cukup, aman, bermutu, bergizi dan beragam dengan harga yang terjangkau oleh  masyarakat. Bahan pangan berasal dari pangan nabati (asal tumbuhan) dan pangan hewani (asal ternak dan ikan). Untuk bahan pangan hewani dihasilkan dari ternak berupa daging, telur dan susu yang berfungsi sebagai sumber zat gizi utama yaitu protein dan lemak.
Berdasarkan data Ditejen Peternakan tahun 2009-2014, konsumsi daging ruminansia meningkat sebesar 18,2% dari 4,4 gram/kap/hari pada tahun 2009 menjadi 5,2 gram/kap/hari pada tahun 2014.  Dilain pihak dalam kurun waktu yang sama penyediaan daging sapi lokal rata-rata barumemenuhi 65,24% kebutuhan total nasional, sehingga kekurangannya masih dipenuhi dari impor baik yang berupa sapi bakalan maupun daging beku.
Dalam rangka mempercepat pencapaian peningkatan produksi daging di dalam negeri guna memenuhi permintaan konsumsi masyarakat Indonesia, mengurangi ketergantungan impor terhadap daging dan ternak bakalan serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas usaha budidaya ternak ruminansia.
Kementerian Pertanian meluncurkan program Upaya Khusus Percepatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting (UPSUS SIWAB). Upsus SIWAB mencakup dua program utama yaitu peningkatan populasi melalui Inseminasi Buatan (IB) dan Intensifikasi Kawin Alam (INKA).
Program tersebut dituangkan dalam peraturan Menteri Pertanian Nomor 48/Permentan/PK.210/10/2016 tentang Upaya Khusus Percepatan Peningkatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting yang ditandatangani Menteri Pertanian pada tanggal 3 Oktober 2016.
Upaya ini dilakukan sebagai wujud komitmen pemerintah dalam mengejar swasembada daging yang ditargetkan Presiden Joko Widodo tercapai pada 2026   mendatang serta mewujudkan Indonesia yang mandiri dalam pemenuhan pangan asal hewan, dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat

KEGIATAN INTENSIFIKASI KAWIN ALAM (INKA)
Intensifikasi Kawin Alam (INKA) adalah upaya peningkatan populasi ternak sapi/kerbau yang dilakukan melalui pemakaian dan distribusi pejantan unggul tereleksi yaitu berdasarkan penilaian performance tubuh dan kualitas semen, berumur lebih dari dua tahun dan bebas dari penyakit reproduksi. Sedangkan Untuk seleksi betina/induk diharapkan memiliki deskriptif sebagai berikut: induk yang dapat beranak setiap tahun,  skor kondisi tubuh 5-7,  badan tegap, sehat dan tidak cacat, tulang pinggul dan ambing besar, lubang pusar agak dalam dan Tinggi gumba > 135 cm dengan bobot badan > 300 kg.
Kawin alam digunakan dengan mempertimbangkan bahwa secara alamiah ternak memiliki kebebasan hidup di alam bebas, sehingga dengan sikap alamiah ini perkembangbiakannya terjadi secara normal mendekati sempurna dan secara alamiah ternak jantan mampu mengetahui ternak betinanya yang birahi, sehingga sedikit kemungkinan terjadinya keterlambatan perkawinan yang dapat merugikan dalam proses peningkatan populasi.
Ada tiga prinsip manajemen perkawinan yaitu : perkawinan intensif (kandang individu); perkawinan semi intensif (kandang kelompok/umbaran) dan perkawinan extensif (padang pengembalaan.

  • Perkawinan intensif/ perkawinan kandang individu, untuk perkawinan pada kandang ini ternak secara individu dalam keadaan terikat. Kandang individu terdiri dari sekat-sekat sebagai pembatas kandang sehingga ternak yang lainnya tidak menggangu. Perkawinan pada model ini yang perlu diperhatikan adalah pengamatan masa birahi pada ternak induk. Pengamatan ini dapat dilakukan pada waktu pagi atau sore hari. Pada ternak yang mengalami masa birahi akan memberikan isyarat tanda-tanda birahi, setelah 6-12 jam ternak induk mengalami tanda-tanda birahi baru dapat dikawinkan.
  • Perkawinan mengunakan kandang kelompok/umbaran/ semi intensif ada beberapa tahapan proses manajemen yang harus dilakukan peternak diataranya : Ternak induk yang akan dikawinkan harus memenuhi persyaratan 40 hari setelah melahirkan; Ternak pejantan dan induk dikumpulkan dalam satu kandang selama 2 bulan sehingga perkawinan akan terjadi pada semua ternak induk; ternak jantan harus mampu mengawini 10 ekor induk; setelah 2 bulan dalamkandang bersama harus dilakukan pemeriksaan kebuntingan dengan mengunakan metoda palpasi rectal yang dilakukan oleh petugas; berdasarkan hasli pemeriksaan induk yang bunting kemudian dipisahkan dari kandang kumpul, ke tempat kandang bunting dan yang belum bunting dimasukkan kembali dalam kandang kumpul untuk dikawinkan kembali dengan ternak pejantan.
  • Perkawinan pada padang pengembalaan/ ekstensif dapat menerapkan manajemen perkawinan sebagai berikut : Perbandingan jumlah pejantan dan induk adalah 3ekor jantan dengan 100 ekor induk. Tenak jantan dan induk dibiarkan lepas di padang pengembalaan dengan melakukan pengamatan masa birahi pada induk betina, jika ditemukan induk yang birahi agar segera dipisahkan, dan ditempatkan sapi induk dikandang terpisah untuk dikawinkan. Setelah dua hari induk yang telah dikawinkan dapat dilepaskan kembali di padang pengembalaan.

KEGIATAN INSEMINASI BUATAN/KAWIN SUNTIK
Inseminasi Buatan (IB)  merupakan salah satu pilihan yang tepat yang dapat diandalkan dalam memperbanyak populasi ternak. IB adalah teknik memasukan mani atau semen ke dalam alat reproduksi ternak betina sehat untuk dapat membuahi sel telur dengan mengunakan alat inseminasi.
IB sangat dianjurkan ada beberapa tujuan yang dapat dicapai adalah : Untuk memperbaiki mutu ternak yang dihasilakn, sebab bibit berasal dari pejantan yang unggul atau pilihan; Lebih efisien karena tidak mengharuskan pejantan unggul dibawa ke tempat betina, cukup semennya saja; Dapat meningkatkan angka kelahiran denga cepat dan teratur; dan Mencegah terjadinya penularan  atau penyebaran penyakit kelamin.
Selain itu jika dibandingkan dengan cara Intensifikasi Kawin Alam (INKA) banyak keuntungan yang akan diperoleh peternak apabila  mengunakan cara IB adalah : Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan; Dapat mengatur kelahiran ternak dengan baik; Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (in breeding); Dengan peralatan dn teknologi yang baik, sperma dapat disimpan dalam waktu yang lama; Semen beku dapat dipakai untuk  beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati; Menghindari kecelakaan yang sedang terjadi saat perkawinan akibat dari fisik pejantan terlalu besar; Menghindari ternak dari penularan penyakit akibat hubungan kelamin.
Kendati IB sangat menguntungkan dalam pengembangbiakan ternak namun tidak menutup kemungkinan beberapa diantaranya terjadi juga kegagalan atau kwalitas dan prosentase kebuntingan tidak sesuai yang diharapakan.
Untuk itu perlu diketahui beberapa faktor penyebab rendahnya prosentase kebuntingan. Diantaranya adalah : Fertilisasi dan kwalitas mani beku yang jelek/rendah; Inseminator kurang/tidak terampil; Petani/peternak kurang atau tidak terampil medeteksi birahi; Pelaporan yang terlambat atau pelayanan inseminator yang lamban; dan Kemungkinan ada gangguan reproduksi ternak betina. Dari sekian faktor penyebab tersebut yang paling penting adalah mendeteksi birahi.

PELAKSANAAN UPSUS SIWAB
Upsus SIWAB merupakan upaya khusus percepatan peningkatan populasi sapi dan kerbau bunting dan melahirkan dengan baik. Pelaksanaan Upsus SIWAB didasarkan pada populasi Sapi dan Kerbau betina dewasa saat ini yaitu data populasi betina dewasa umur 2-8 tahun atau sekitar 5,9 Juta ekor dari potensi populasi betina ini makadijadikan target  yaitu sekitar 70% atau diperkirakan targetnya adalah 4 Juta ekor Aseptor (ternak yang akan di IB) dengan kebuntingan dan kelahiran yang diharapkan adalah 3 Juta ekor atau 73% dari akseptor.
Sasaran IB sebanyak 4 juta akseptor yang terdiri dari 2, 9 juta akseptor yang dipelihara secara intensif yaitu di pulau jawa, bali dan lampung, 0, 8 juta  akseptor yang dipelihara secara semi insentif yaitu di sulawesi selatan, pulau sumatera dan kalimantan sedangkan 0,3 juta akseptor di pelihara secara ekstensif yaitu di NTB, NTT, Papua,Maluku, Aceh dan Kalimanatan Utara.
Pendukung keberhasilan Upsus SIWAB adalah kegiatan penanaman hijau pakan ternak 13.000 Ha (10.400 Ha didaerah insentif dan 2.600 Ha di daerah eksentif), Penangganan gangguan reproduksi 300.000 ekor, perbaikan reproduksi karena hipofungsi 22.500 ekor dan penyelamatan pemotongan betina produktif di 40 lokasi Kabupaten/Kota, Penyediaan Saran IB (Container, N2 Cair, Semen Beku), serta pengembangan dan penyediaan tenaga/ petugas Inseminator, Pemeriksa Kebuntingan (PKb) dan Asisten Teknis Reproduksi (ATR) berbasis kompetensi.
Keberhasilan UPSUS SIWAB merupakan harapan baru agar kebutuhan pangan, khususnya kebutuhan pangan hewani dapat terpenuhi, sehingga negara kita tidak lagi import, baik berupa ternak bakalan maupun daging beku dari negara lain. Maka diperlukan komitmen bersama antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota untuk bersama-sama dan bahu-membahu melaksanakan kegiatan ini, sehingga harapan untuk dapat swasembada daging sapi/kerbau tahun 2026 dapat tercapai. Muhammad Yani Staf pada Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB, disadur dari berbagai sumber.