KESEJAHTERAAN HEWAN PADA TERNAK POTONG

Oleh : Daldiri, S.Pt.

Kesrawan adalah segala urusan yang berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu diterapkan dan ditegakkan untuk melindungi hewan dari perlakuan setiap orang yang tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia. Kesrawan adalah persoalan sosial yang cukup penting saat ini. Kesejahteraan hewan berkaitan erat dengan kesehatan hewandan keamanan pangan (asal hewan) à menjadi bidang baru yang menjadi prioritas rencana strategis Badan Kesehatan Hewan Dunia (Office International des Epizooties/ OIE) tahun 2001-2005, “Food Safety and Animal Welfare(semula OIE hanya bergerak dalam bidang kesehatan hewan

Adapun tujuan dilakukannya Penerapan Kesrawan melindungi sumberdaya hewan dari perlakuan orang atau badan hukum yang dapat mengancam kesejahteraan dan kelestarian hewanpada hakekatnya untuk kesejahteraan manusia.

Berdasarkan UU. No. 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, serta PP No. 22/1983 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner, Pemerintah dalam hal ini Provinsi Nusa Tenggara Barat c.q. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Bidang Masyarakat Veteriner memiliki tanggung jawab dan kewajiban untuk menjamin Kesehatan Dan Ketentraman Bathin Masyakarat(Kesmavet)dalam mengkonsumsi daging melalui penyediaan daging yang ASUH. Pemotongan hewan harus dilakukan di RPH dan mengikuti cara penyembelihan sesuai kaidah Kesmavet dan kesrawan. Penyelenggaraan Kesejahteraan Hewan merupakan tanggung jawab bersama Pemerintah, Pemerintah Daerah bersama Masyarakat. Pelaksanaan kesejahteraan hewan diutamakan pada upaya peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat melalui pendidikan, pelatihan dan penyuluhan.

Finalisasi Peraturan Pemerintah sebagai amanat UU. No 18/2009 Juncto UU No 41 tahun 2014 mengenai Kesmavet dan Kesrawan yang berisi implementasi teknis dalam hal Kesmavet dan Kesrawan. Peraturan Pemerintah No. 95 tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan ini juga telah memuat unsur sanksi administratif untuk pelanggaran kesrawan. Manusia bertanggung jawab terhadap kesejahteraan hewan yang berada dibawah tanggung jawabnya. Kesejahteraan hewan tersebut dengan menerapkan prinsip kebebasan hewan (5 Freedom) 1. Bebas dari rasa lapar dan haus, 2. Bebas dari rasa sakit,luka,penyakit dan kondisi tertekan, 3. Bebas dari penganiayaan dan penyalahgunaan, 4. Bebas untuk dapat melakukan perilaku alaminya, 5. Bebas dari perlakuan kasar dan pembunuhan, yang diterapkan pada kegiatan: penangkapan dan penanganan, penempatan dan pengandangan, pemeliharaan dan perawatan, pengangkutan, penggunaan dan pemanfaatan, perlakuan dan pengayoman yang wajar terhadap     hewan, pemotongan atau pembunuhan dan praktik kedokteran perbandingan. Wajib dilakukan oleh orang yang memiliki kompetensidi bidang Kesejahteraan Hewanpemilik hewan, orang yang menangani hewan sebagai bagian  dari pekerjaan danpemilik fasilitas pemeliharaan hewan wajib menerapkan prinsip kesejahteraan hewan.

Muatan Kesrawan dalam PPPasal 83, 84 dan 85

  • Pemilik fasilitas pemeliharaan hewan wajib memiliki izin usaha yang dikeluarkan oleh Bupati/Walikota.
  • Pemilik fasilitas pemeliharaan hewan yang tidak menerapkan prinsip kebebasan hewan dikenai sanksi pencabutan izin usahanya
  • Menteri menetapkan jenis dan kriteria fasilitas pemeliharaan hewan yang memerlukan izin usaha.
  • Setiap RPH mempunyai SDM sebagai pengawas Kesrawan (Animal Welfare Officer) yang disertifikasi dan mempunyai kompetensi.
  • Fasilitas / sarana Prasarana RPH dilengkapi sehingga RPH dapat digunakan untuk memotong baik sapi lokal maupun import. Fasilitas diupayakan dapat digunakan untuk kedua jenis hewan.
  • Sistim perobohan dengan tali masih dapat digunakan untuk pemotongan hewan skala kecil dan bukan komersil namun harus didukung oleh pengetahuan dan keterampilan petugas yang memadai untuk menjamin penerapan kesrawan.
  • Perobohan Hewan sebelum disembelih merupakan titik kritis dalam memenuhi aspek kesejahteraan hewan. Penggunaan fasilitas yang memudahkan proses penanganan hewan diprioritaskan pada setiap RPH.

Kesrawan di tempat Penampungan Hewan:

  • Melindungi hewan dari panas dan hujan
  • Ketersediaan pakan dan minum yang cukup
  • Luas Kandang yang cukup/pengikatan dengan tali yang cukup panjangnya (tidak berdesak – desakan)
  • Kebersihan tempat penampungan
  • Terhindar dari benda – benda, perlakuan dan konstruksi tempat yang dapat mencederai hewan
  • Pencahayaan yang cukup

Kesrawan Pada Penggiringan Hewan:

  • Cara menggiring hewan
  • Hindari membuat hewan ketakutan agar tidak terjadi cedera
  • Hindari adanya orang dan benda di depan hewan selama penggiringan
  • Tidak dibenarkan orang berdiri di atas pagar pembatas
  • Mengupayakan hewan tidak berdesakan (satu demi satu).
  • Gunakan strategi penggiringan hewan sesuai karakter spesies (secara individu atau berkelompok).
  • Menggiring hewan pada posisi di samping paha belakang

Fasilitas Gangway

  • Lantai tidak licin, tidak berlubang dan tidak becek.
  • Pagar pembatas terbuat dari bahan yang tidak mudah berkarat dan tidak tajam,
  • Sudut belokan gangway tidak patah (jangan memberi kesan buntu)
  • Tinggi pagar pembatas sesuai dengan tinggi hewan, lebar gangway sesuai dengan besar hewan.
  • Pencahayaan cukup dan perubahannya tidak kontras
  • Konstruksi gangway harus dipertahankan bebas dari benda-benda yang dapat mencederai hewan.
  • Sepanjang gangway tidak dibenarkan adanya pekerjaan manusia yang menimbulkan bunyi – bunyian yang dapat mengganggu hewan

Kesrawan pada perobohan sebelum penyembelihan :

    1. Merobohkan secara manual dengan tali dan ring
      1. Teknik perobohan hewan secara tidak kasar (dibanting, diinjak,ditarik ekor, ditarik kepala).
      2. Teknik pengikatan dan teknik penarikan.
    2. Merobohkan dengan menggunakan restraining disain dan konstruksi yang bervariasi)
    3. Tanpa pemingsanan (masih menggunakan tali dan box (ring).
    4. Dengan pemingsanan.

Kesrawan pada penyembelihan hewan:

      1. Penyembelihan pada setiap ekor hewan dilakukan segera setelah hewan dirobohkan/dipingsankan.
      2. Penyembelihan harus dipastikan telah memutus 3 saluran (tenggorokan, kerongkongan dan pembuluh darah) dengan sekali potong
      3. Penyembelihan harus menggunakan pisau yang tajam, ukuran yang sesuai dan bersih.
      4. Memastikan hewan telah mati sempurna sebelum melakukan proses lebih lanjut.

Peluang dan Tantangan :

    • Pergeseran pola perilaku konsumen dalam memilih pangan terutama pangan asal hewan “welfare produk”
    • Penerapan kerangka peraturan baru “suply chain” sapi potong asal Australia, juga harus diterapkan pada sapi lokal
    • Penerapan Kesrawan sangat berkaitan dengan Kehalalan terkait dengan penyembelihan ; stunning, penyembelihan, rantai distribusi daging ; MUI ?
      • Regulasi / Peraturan Perundang-Undangan terkait Kesrawan yang lebih jelas dan tegas diperlukan dalam mempercepat penerapan Kesrawan.
      • Perlu adanya keterbukaan semua pihak dalam menghadapi dan menyelesaikan permasalahan terkait kesrawan. (Swasta, LSM, MUI, Asosiasi profesi )
      • Penerapan Kesejahteraan Hewan merupakan cerminan citra dan martabat bangsa