GEJALA KLINIS, HEMATOLOGIS DAN SEROLOGIS SEPTICAEMIA EPIZOOTICA PADA KERBAU

Oleh : drh. M. Hasbi Putra, M.Si

Kerbau memiliki peran yang sangat besar bagi masyarakat Indonesia. Banyak situs-situs yang ditemukan memberikan arti kedekatan antara kerbau dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Kerbau yang ada di Indonesia kebanyakan adalah kerbau potong sedangkan kerbau perah jumlahnya sangat terbatas. Usaha ternak kerbau sudah mengakar pada masyarakat dan telah berlangsung sejak periode kekuasaan raja-raja di Indonesia.

Pada tahun 1987, populasi kerbau dan sapi sebesar 13,8 juta ekor dengan rasio kerbau : sapi = 1:3. Sensus tahun 2011, populasi kerbau dan sapi sebesar 16,7 juta ekor dengan rasio kerbau : sapi = 1:11. Rasio populasi kerbau berbanding sapi menunjukkan selang yang semakin lama semakin besar. Hal ini menunjukkan pertambahan populasi sapi lebih besar dari kerbau. Penurunan populasi kerbau sebesar 7,42% per tahun dalam kurun waktu delapan tahun dan sebesar 9 % per tahun dalam periode waktu lima tahun terakhir. Langkah-langkah pemerintah dan tekanan pasar tersebut di atas berdampak pada peningkatan populasi sapi dan sebaliknya terjadi penurunan populasi kerbau yang menunjukkan secara pasti populasi kerbau disisihkan. Hal ini menunjukkan bahwa ternak kerbau diperlakukan sebagai ternak besar yang terbuang.

Salah satu Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) yang perlu mendapat perhatian adalah penyakit Septicaemia Epizootica (SE)/ Haemorragic Septicaemia (HS) yang sering disebut juga penyakit ngorok. Penyakit ini sering menyerang sapi atau kerbau, bersifat akut dengan kematian tinggi dan menimbulkan kerugian yang cukup besar. Pada Tahun 1987 kerugian ekonomi yang disebabkan oleh penyakit ini pada sapi dan kerbau di Indonesia sebesar 16,2 milyar. Kementerian Pertanian sendiri telah mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 4026/kpts/OT.140/4/2013 yang menyatakan bahwa Septecaemia Epizootica masuk dalam 25 Penyakit Hewan Menular Strategis yang baru.

Adapun jumlah kerbau yang dijadikan sampel adalah 20 (dua puluh) ekor di Desa Ngembe, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan di Laboratorium Imunobiologi milik Universitas Mataram sebagai tempat melakukan pengamatan terhadap gambaran hematologis (uji total leukosit dan differensial leukosit) dan sedangkan untuk mengetahui gambaran serologis (uji titer antibodi ternak) dilaksanakan di laboratorium Bakteriologi milik Balai Besar Veteriner Denpasar. Selanjutnya dilakukan koleksi darah (whole blood) dan serum untuk pemeriksaan hematologi dan serologi (ELISA). Setelah itu, ditentukan besarnya hubungan ketiga indikator tersebut (gejala klinis, hematologis dan Serologis), serta penentuan nilai validitas dari masing-masing uji yang dilakukan.

Hasil yang diperoleh adalah Kerbau yang terindikasi terjangkit penyakit SE akan menunjukkan gambaran gejala klinis berupa peningkatan suhu tubuh, respirasi, pulsus/denyut jantung, hewan berbaring, timbul leleran dan anoreksia.

Tabel

Gambaran hematologis yang ditunjukkan berupa perubahan jumlah leukosit, eusinofil, netrofil dan monosit, sedangkan gambaran Serologis yang ditunjukkan berupa peningkatan titer antibodi.

Selanjutnya tidak semua kerbau yang terindikasi terjangkit SE secara bersamaan menunjukkan perubahan gambaran klinis, hematologis dan Serologis. Dari 17 ekor kerbau sebanyak 2 ekor (11,76%) dari jumlah tersebut tidak menunjukkan gejala hematologis dan 5 ekor (29,41%) lagi tidak menunjukkan gejala klinis. Demikian pula dengan 16 ekor kerbau yang terindikasi terjangkit SE berdasarkan gejala hematologis, sebanyak 25% dari jumlah tersebut tidak menunjukkan gejala klinis. Nilai validitas uji klinis dengan serologis yang meliputi sensitifitas, spesifisitas, NPP, NPN dan uji Kappa berturut-turut sebesar 80%, 80 %, 92 %, 57 % dan 0,529. Sedangkan nilai validitas uji hematologis terhadap serologis berturut-turut sebesar 88,2 %, 66,6 %, 93,7 %, 50 % dan 0,48. Dari hasil perhitungan sensitifitas diketahui masih terdapat kesalahan dalam pengamatan klinis sebesar 20% dan kesalahan pemeriksaan hematologis sebesar 11,8% sehingga diperlukan laboratorium penunjang guna mempercepat proses pengobatan.

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

  1. Kerbau yang terindikasi terjangkit penyakit SE akan menunjukkan gambaran gejala klinis berupa peningkatan suhu tubuh, respirasi, pulsus/denyut jantung, hewan berbaring, timbul leleran dan anoreksia. Gambaran hematologis yang ditunjukkan berupa perubahan jumlah leukosit, eusinofil, netrofil dan monosit, sedangkan gambaran Serologis yang ditunjukkan berupa peningkatan titer antibodi.
  2. Tidak semua kerbau yang terindikasi terjangkit SE secara bersamaan menunjukkan perubahan gambaran klinis, hematologis dan Serologis. Dari 17 ekor kerbau sebanyak 2 ekor (11,76%) dari jumlah tersebut tidak menunjukkan gejala hematologis dan 5 ekor (29,41%) lagi tidak menunjukkan gejala klinis. Demikian pula dengan 16 ekor kerbau yang terindikasi terjangkit SE berdasarkan gejala hematologis, sebanyak 25% dari jumlah tersebut tidak menunjukkan gejala klinis.
  3. Nilai validitas uji klinis dengan serologis yang meliputi sensitifitas, spesifisitas, NPP, NPN dan uji Kappa berturut-turut sebesar 80%, 80 %, 92 %, 57 % dan 0,529. Sedangkan nilai validitas uji hematologis terhadap serologis berturut-turut sebesar 88,2 %, 66,6 %, 93,7 %, 50 % dan 0,48.
  4. Dari hasil perhitungan sensitifitas diketahui masih terdapat kesalahan dalam pengamatan klinis sebesar 20% dan kesalahan pemeriksaan hematologis sebesar 11,8% sehingga diperlukan laboratorium penunjang guna mempercepat proses pengobatan.